ANTARA JEMBATAN PENYEBERANGAN DAN PASAR DADAKAN:
DUALITAS FUNGSI JEMBATAN PENYEBERANGAN CEMPAKA TIMUR
A.
Pengantar
Jembatan penyeberangan yang juga merupakan shelter busway
Cempaka Timur, dengan segala kondisi dan kestrategisannya seperti yang sudah
dijelaskan pada bab sebelumnya, memanglah menyimpan banyak peluang. Tak heran
bila berbagai aktivitas dapat terjadi di atas sebuah jembatan. Untuk itu, pada bab ini, akan dibahas mengenai
dinamika berlangsungnya fenomena dualitas
fungsi jembatan penyeberangan Cempaka Timur. Dimana jembatan saat ini tidak
lagi hanya digunakan sebagai media orang menyeberang. Melalui jembatan, juga
terdapat aktivitas jual beli berbagai barang. Alhasil, jembatan pun tak ubahnya
seperti sebuah pasar. Terus meningkatnya aktivitas jual beli di jembatan juga
tidak dapat dipisahkan dari jaringan-jaringan dan hubungan sosial yang
berlangsung di antara para pedagang tersebut.
Layaknya sebuah pasar, berjualan di atas jembatan tentu akan
mengalami pasang surut. Dalam bab ini pula akan dibahas bagaimana dinamika
berjualan yang selama ini dialami oleh para pedagang. Sementara itu, jembatan
penyeberangan yang seyogyanya digunakan untuk menyeberang namun kini bertambah
menjadi sebuah pasar dadakan, tentu menuai berbagai pendapat dari masyarakat
yang menggunakan jembatan penyeberangan. Respon dari masyarakat terhadap
keberadaan aktivitas jual beli di jembatan penyeberangan juga akan menjadi
bahasan dalam bab ini.
B.
Antara Media Penyeberangan dan Pasar Dadakan
Jembatan
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah jalan (dari bambu, kayu,
beton, dsb) yang direntangkan di atas sungai (jurang, tepi pangkalan, dsb).
Sementara penyeberangan menurut KBBI adalah proses, cara, perbuatan, menyeberang;
tempat menyeberang. Dari pengertian ini jelas bahwa jembatan penyeberangan
adalah sebuah media yang membantu orang untuk menyeberang. Di perkotaan itu
sendiri, jembatan merupakan salah satu fasilitas publik yang cukup vital. Jembatan
penyeberangan yang dibuat oleh pemerintah daerah terutama setelah adanya
kebijakan terkait produk transportasi baru yaitu busway, membuat peran sebuah
jembatan menjadi sangat penting. Pengguna busway yang jumlahnya cukup banyak,
apalagi jembatan tersebut menghubungkan antara shelter Cempaka Timur dan
shelter Cempaka Mas 2 membuat pengguna jembatan semakin banyak. Belum lagi
keberadaan ITC Cempaka Mas yang
merupakan pusat mega grosir terbesar di Jakarta membuat jembatan Cempaka Timur
ini tidak pernah mati dari beragam aktivitas.
Banyaknya
ruang di perkotaan yang menyimpan beragam potensi dipandang positif oleh para
pekerja sektor informal. Jembatan seperti halnya fasilitas di ruang publik
lainnya merupakan lahan produktif yang mampu menghasilkan pundi-pundi rupiah.
Fenomena berlangsungnya pasar dadakan di jembatan Cempaka Timur, semakin
menjamur di setiap harinya. Berdasarkan konsep tindakan ekonomi, dimana apa
yang dilakukan oleh aktor, dalam hal ini para pedagang, diusahakan untuk
mendapat manfaat dan keuntungan semaksimal mungkin.[1] Para
pedagang yang merupakan pelaku ekonomi sektor informal memilih berdagang di
atas jembatan dengan berbagai alasan. Alasan utamanya tentu saja utuk mencari
nafkah demi mampu subsiten dalam mengarungi kehidupan perkotaan. Para pedagang
ini umumnya tidak mampu menjangkau sektor ekonomi formal dikarenakan rendahnya
tingkat pendidikan yang dimilikinya. Dari hasil observasi yang dilakukan,
rata-rata pedagang hanyalah tamatan Sekolah Menengah Pertama (SMP), bahkan ada
juga pedaganga yang sama sekali tidak pernah mengenyam dunia pendidikan. Dengan
tingkat pendidikan yang minim serta tidak adanya keterampilan yang dimiliki,
menjadikan berdagang adalah satu-satunya pilihan pekerjaan yang dapat
dilakukannya.
Para
pedagang ini memutuskan untuk berjualan di atas jembatan, lantaran modal yang
dimilikinya tidaklah besar. Dengan modal yang sedikit, para pedagang ini tidak
mampu menyewa kios atas bahkan berdagang di pusat-pusat perbelanjaan seperti
ITC Cempaka Mas itu sendiri. Untuk itu, para pedagang ini akhirnya memilih
jembatan sebagai lahan usaha mereka. Dari hasil pengamatan, para pedagang ini
memanglah berjualan dengan jumlah barang yang sedikit, yang hanya dijajakan
melalui selembar tikar atau di gantung di sisi-sisi jembatan. Para pedagang ini
juga kebanyakan memanglah orang-orang yang sudah lama dalam dunia dagang. Misalnya
saja Bapak Taufik, lelaki 28 tahun yang kini telah memiliki 2 orang anak. Bapak
Taufik sudah berjualan aksesoris handphone selama 2 tahun, namun kini ia
beralih menjadi pedagang pencuci tangan instan atau hand sanitizer. Selain itu, strategisnya letak jembatan dan ramainya
orang yang berlalu lalang di jembatan dengan berbagai aktivitas, juga menjadi
alasan tersendiri mengapa pedagang mau berjualan di jembatan Cempaka Timur
tersebut. Selain karena ramainya lokasi jembatan Cempaka Timur, jembatan ini
juga dipilih karena dekat dengan tempat tinggal para pedagang misalnya Kodamar,
Senen dan sekitar wilyah ITC Cempaka Mas. Alasan tersebut sebagaimana yang
disampaikan oleh Damsar, bahwa pemaknaan ruang ekonomi yang strategis bagi para
PKL, berkaitan dengan lokasinya, yaitu karena dilalui oleh jalur kendaraan,
daerah penghasil dan daerah pemukiman.[2]
Sebagai bagian dari anggota
masyarakat yang tinggal di perkotaan, para pedagang ini juga tahu betul seperti
apa fungsi jembatan yang sebenarnya. Para pedagang ini juga memahami bahwa
aktivitas berdagang yang dilakukannya cukup mengganggu para pengguna jembatan
lain. Namun, meski demikian, mau bagaimana lagi bila mereka tidak berjualan.
Hingga akhirnya mereka tetap berjualan
di jembatan tersebut karena berbagai keterbatasan yang dimiliki tadi. Seperti
misalnya yang diutarakan oleh Bapak Taufik, pedagang asli Bogor yang sudah
menetap di Jakarta selama 7 Tahun itu:
“kalo disini kan deket sama rumah...mengganggu sih, tapi ya
mau gimana lagi. Jadinya terpaksa jualan walaupun mengganggu yang lewat, lagian jualan disini lebih banyak dapetnya soalnya”.[3]
Aktivitas
di jembatan Cempaka Timur memang selalu ramai. Sama seperti jembatan
penyebarangan lainnya, aktivitas orang berlalu laang untuk menyeberang atau pun
untuk menggunakan jasa busway menjadi aktivitas utama pada jembatan tersebut.
Namun, pemandangan yang berbeda mulai nampak ketika hari beranjak sore. Sekitar
pukul 14.30WIB para pedagang mulai berdatangan di jembatan. Mereka mulai
mencari posisi masing-masing yang dirasa cukup strategis. Setelah mendapatkan
lahan, mereka mulai membuka lapak, memasang terpal, merapikan barang dagangan,
menatanya sedemikian rupa hingga siap menjajakan barang dagannya kepada para
pengguna jembatan. Begitulah awal mula persiapan mereka berdagang. Satu persatu
lapakpun tergelar. Hingga akhirnya, jembatan itu terlihat seperti jalan panjang
dengan lapak-lapak yang berisi barang dagangan menghiasi sisi-sisinya. Aktivitas
berdagang ini memang baru muncul ketika hari beranjak sore, karena di waktu
itulah mereka baru boleh menggelar lapak. Namun, berbeda halnya pada hari
sabtu, minggu atau hari libur lainnya. Dimana pada hari-hari tersebut aktivitas
jual beli di jembatan seperti itu sudah mulai terlihat sejak dari siang hari.
Selama berjualan, para pedagang ini juga mencoba menggaet
konsumen dengan berteriak-teriak menawarkan barang dagangannya. Harga murah meriah
menjadi jargon andalan para pedagang dalam menarik perhatian orang yang sedang
melintas. Cara tersebut sepertinya memang cukup ampuh. Dari hasil pengamatan
penulis, beberapa pengguna jembatan akhirnya menoleh saat para pedagang ini
menjajakan barang dagangannya. Ada pengguna jembatan yang hanya menoleh, ada
juga yang memerhatikan dengan seksama bahkan mereka berhenti di lapak tersebut
dan akhirnya melakukan transaksi jual beli. Harga yang ditawarkan pedagang
tersebut memang cukup terjangkau bila dibandingkan dengan tempat-tempat
lainnya.
Aktivitas
berjualan di jembatan Cempaka Timur ini memang lah sudah menjadi satu fungsi
tetap. Rutinnya pedagang-pedagang mendatangi jembatan dan berjualan diatasnya,
membuat aktivitas jual beli ini tidak pernah mati. Para pedagang bahkan sudah
benar-benar mengangggap bahwa jembatan adalah lahan usaha mereka. Hal ini
nampak dari persiapan mereka ketika berdagang, Beberapa lembar tikar atau plastik
sebagai alas lapak mereka, terpal sebagai penahan angin, tali yang digunakan
pedagang untuk menggantung barang dagangan, menjadi perlengkapan yang selalu
dibawa untuk bisa berjualan di jembatan. Bahkan, para pedagang ini
masing-masing membawa lampu yang dihubungkan dengan listrik pada jembatan itu
yang digunakan saat petang tiba, dimana hari sudah mulai gelap namun lampu
jembatan busway itu belum dinyalakan. Baru ketika lampu jembatan sudah
dinyalakan, para pedagang akan mematikan lampu yang dibawanya, dan mengandalkan
cahaya dari lampu jembatan. Fenomena ini menunjukan kepada kita bahwa para
pedagang, dengan segala persiapan dan rutinitas yang dilakukannya, mencoba
melegitimisi diri mereka sebagai bagian dari aktivitas sosial yang terjadi di
jembatan itu sendiri. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Anthony Giddens: “aktivitas
tidak dilakukan oleh aktor sosial namun secara berkelanjutan diciptakan ulang
melalui sarana yang mereka gunakan untuk mengekspresikan diri mereka sebagai
aktor”.[4]
Begitulah kondisi di jembatan, dengan
rutinitas berjualan yang dilakukan oleh para pedagang, memang telah membuat
jembatan ini bertambah fungsinya. Jembatan yang seyogyanya digunakan untuk
membantu pejalan kaki menyeberang, namun dalam kenyataannya kini juga dapat
membantu orang dalam memenuhi berbagai kebutuhannya. Demikianlah kondisi
ruang-ruang publik di perkotaan, selalu mampu dimanfaatkan oleh para pelaku
ekonomi.
C.
Jaringan dan Hubungan Sosial Penjual
Bertambahnya
fungsi jembatan Cempaka Timur dari yang awalnya hanyalah alat bantu para
pejalan kaki untuk menyeberang dan menggunakan busway, hingga kini menjadi
lahan subur jual beli, tidak bisa terlepas dari pembicaraan seputar pedagang
itu sendiri. Para pedagang yang kini rutin berjualan disini, memiliki beragam
sejarah terkait awal mula mereka bisa berjualan di jembatan Cempaka Timur
tersebut. Seperti misalnya Bapak Bilal yang sudah berjualan parfum dan
belakangan merambah ke aksesoris wanita itu awalnya melihat ada orang yang
berjualan di jembatan Cempaka Timur tersebut, kemudian karena keinginannya
untuk ikut berjualan disana, dia pun mencoba melakukan pendekatan dengan orang
tersebut dan berusaha bersikap baik, hingga akhirnya dia bisa berjualan disana
tanpa sungkan.
Beda
lagi halnya dengan Bapak Taufik, pedagang asal Bogor tersebut. Menurut
penuturannya, awal mula dirinya berjualan di jembatan Cempak Timur adalah
karena mendapat informasi dari salah seorang temannya mengenai jembatan di
depan ITC Cempaka Mas yang bisa dijadikan lahan berdagang. Karena ketertarikannya,
Bapak Taufik pun mendatangi lokasi yang diinformasikan higga akhirnya dia bisa
berjualan di jembatan sampai saat ini. Tidak seperti ruang publik yanng
mengalami alih fungsi ekonomi pada umumnya, jembatan ITC Cempaka Timur ini
tidak memiliki penguasa atau preman khusus yang menarik pungutan bagi para
penjual pendatang baru. Hanya saja menurut pengakuan Bapak Taufik, ada salah
seorang pedagang yakni Bapak Toyib[5]
yang merupakan anggota FBR, cukup disegani karena pernah mengusir salah seorang
pedagang baru, yang bertindak tidak sopan daan seenaknya saja.
Karena tidak rumitnya
perizinan tidak resmi yang berlaku di jembatan Cempaka Timur ini, hal itu juga
yang membuat beberapa pedagang dengan mudah bisa berjualan di wilayah tersebut.
Hal ini seperti yang dialami oleh Anjas, pedagang berusia 17 tahun, lulusan SMP
yang kini berdagang Hand sanitizer
dan Bapak Warno, pedagang Kerupuk asal Grobog, Jawa Tengah yang berusia 35
tahun. Menurut mereka, ketika mereka hendak berjualan di Jembatan Cempaka
Timur, mereka langsung saja mencari
lahan yang kosong yang bisa mereka tempati. Hingga kini, bagi para
pedagang yang sudah cukup lama berjualan, meski tidak tertulis maupun resmi,
mereka sudah memiliki lahan untuk lapaknya masing-masing. Jadi, bagi pendatang
baru, mereka biasanya mencari lahan yang kira-kira belum ditempati. Mengenai
kemudahan berjualan di jembatan Cempaka Timur tersebut, seperti apa yang telah
dituturkan oleh Bapak Warno:
“saya
langsung aja mbak, ga pake izin-izin
apapun disini. Awalnya saya jualan di Pasar Baru, akhirnya 6 bulan yang lalu
pindah kesini[...]yang penting kan kita bersikap baik aja sama yang lain”.[6]
Jembatan Cempaka Timur dengan berbagai kestrategisannya
membuat aktivitas berjualan menjadi sangat menghasilkan. Karena alasan tersebut,
para pedagang yang sudah berjualan di jembatan itu, kerap memberi informasi
untuk berjualan di sana kepada para kerabatnya. Oleh karena itu, ada juga
beberapa penjual yang berjualan disana karena informasi dari teman yang sudah
lebih dahulu berjualan di jembatan Cempaka Timur tersebut. Untuk itu, tidak
heran bila hubungan di antara para penjual, berlangsung cukup baik.
Meski terlibat dalam aktivitas yang sama, belum lagi
kehidupan di perkotaan yang dikenal dengan hubungan sosialnya yang sudah
impersonal, hal tersebut cukup tidak berlaku bagi para pedagang di jembatan
Cempaka Timur ini. Dunia usaha yang kental dengan persaingan, tidak membuat
hubungan sosial di antara mereka menjadi renggang. Hal ini terlihat dengan
interaksi yang dilakukan oleh para pedagang saat mereka sedang berjualan. Terlebih
saat mereka sedang tidak ada pembeli, para pedagang ini dengan akrabnya bercerita
satu sama lain. topik pemicaraan pun beragam, mulai dari yang umum seperti
informasi usaha, gosip selebriti, hingga yang bersifat lebih pribadi seperti
tentang keluarga. Belum lagi, mereka kerap kali bercanda dan tertawa bersama.
Keterbukaan para pedagang satu sama lain itu tentunya dapat menunjukan bahwa
hubungan sosial yang terjalin di antara mereka cukuplah erat.
Selain itu, mereka juga kerap saling membantu dalam
urusan berdagang. Seperti misalnya saat ada pedagang yang baru datang dan
tengah menyiapkan barang dagangan. Dikarenakan, lokasi jembatan yang berada di
ruang terbuka, para pedagang ini membutuhkan terpal untuk menutupi sisi
jembatan agar barang dagangan mereka tidak tertiup angin. Biasanya, pedagang
lain akan membantu, karena memasang terpal perlu memanjat sisi pembatas
jembatan, setidaknya ini mesti dikerjakan oleh dua orang. Contoh lainnya adalah
ketika ada pedagang lain yang karena keperluan tertentu seperti menunaikan
ibadah sholat misalnya, merka tidak sungkan untuk menitipkan barang dagangan
mereka kepada pedagang lainnya. Sementara itu, pedagang yang dititipkan barang
dagangan itu, dengan senang hati menjaga barang dagangannya, dan melayani
dengan baik bila ada yang membeli.
Gambar
3.1
![]() |
Para pedagang yang saling membantu
Sumber: dokumentasi penulis (2013)
Meski pada umumnya para pedagang cukup akrab, bagi
pedagang baru seperti Bapak Bapak Warno, beliau hanya cukup akrab dengan
pedagang yang kebetulan menggelar lapak di dekat lapak kerupuknya saja,
sementara yang lainnya hanya kenal muka saja. Namun, meski begitu Bapak Bapak
Warno mengaku hubungannya dengan pedagang lain baik-baik saja dan tidak pernah
bermasalah. Selama ini juga beliau tidak pernah mendengar adanya perselisihan
di antara para pedagang.
Persaingan di antara para pedagang yang berjualan di
jembatan memang dapat dikatakan cukup sehat. Bahkan, begitupula bagi persaingan
di antara pedagang yang menjual barang dagangan yang sama. Hubungan para
pedagang ini tidak pernah diwarnai dengan perselisihan karena iri hati dan sebagainya.
Meski tidak dapat dipungkiri, permasalahan-permasalahan kecil, kerap terjadi. Bagi
mereka, rezeki mereka sudah ada Yang Mengatur. Hal ini senada dengan yang
disampaikn oleh Bapak Ahmad Bilal.
“persaingan pasti ada, tapi
ga pernah sampe gimana-gimana. Ya kita kan percaya bahwa rezeki udah diatur
Gusti Allah, jadi kita hanya cukup berusaha. Yang penting kita jualan niatnya
ibadah dan lurus-lurus aja, insyaallah rezeki pasti ada”.[7]
Sementara itu, meski tidak ada pungli dari pedagang
yang dianggap preman, para pedagang ini tetap membayar retribusi untuk berbagai
keperluan. Misalnya saja uang kebersihan yang dibayar setiap malam kepada ornag
yang mengurusi kebersihan di jembatan itu. Uang kebersihan ini diberikan
seikhlasnya saja, biasanya berkisar antara Rp1.000 sampai dengan Rp2.000 setiap
harinya. Selain itu, berdasarkan informasi yang penulis peroleh, ada juga
pungutan dari petugas Satpol PP sebesar Rp2.000 yang harus dibayarkan 3 kali
dalam seminggunya. Ditambah lagi dengan biaya listrik atas lampu yang dibawa
oleh para pedagang, dimana pedagang harus membayar biaya lampu sebesar Rp2.000
setiap harinya. Untuk mempermudah, biaya retribusi yang harus dibayarkan para
pedagang adalah seperti pada tabel berikut.
Tabel 3.1
Biaya Retribusi yang Harus Dibayar Pedagang
No.
|
Jenis Retribusi
|
Biaya
|
Jumlah per minggu
|
1.
|
Kebersihan
|
Rp1.000-Rp2.000
|
Rp7.000-Rp14.000
|
2.
|
Satpol PP
|
Rp2.000, 3 kali seminggu
|
Rp6.000
|
3.
|
Biaya Lampu
|
Rp.2000
|
Rp14.000
|
Total biaya retribusi perminggu
|
Rp27.000-34.000
|
||
Sumber: Analisis Data Lapangan (2013)
Biaya retribusi yang harus dibayarkan oleh para
pedagang, bukan semata-mata merupakan kewajiban atau bahkan pungutan liar.
Lebih dari itu, para pedagang menganggap bahwa biaya retribusi itu, merupakan
bentuk saling menghargai dan saling membutuhkan. Biaya retribusi dianggap
sebagai bentuk kerjasama, terlebih antara pihak pedagang dengan aparat
setempat. Sehingga, para pedagang tidak berkeberatan untuk membayar retribusi,
selama ia masih bisa untuk berdagang di jembatan. Bahkan, para pedagang mengaku
membayar biaya tersebut tidak saja hanya karena takut tidak bisa berjualan lagi
di jembatan, tetapi juga takut terjadi perselisihan yang akan merusak hubungan
baik di antara mereka. Seperti yang disampaikan oleh Mas Gofur, laki-laki usia
24 tahun yang menjual anti gores handphone.
“saya sih ga keberatan neng,
itungannya ya kita butuh mereka, mereka butuh kita. Sama-sama butuh makan. Lagian
kita-kita mah udah kaya sodara aja gitu yah. Malah ga enak kalo ga ngasih.
Lagian petugasnya juga banyak yang baik, jadi saya mah ga ada masalah kalo
ngasih geh[...]itu kan yang nentuin kita bayar segitu bukan satpol PP atau yang
nyapu, tapi segimana ikhlasnya kita-kita aja neng”[8]
Karena kesadaran akan saling membutuhkan itulah, para
pedagang dengan sukarela membayar uang kepada petugas. Bahkan, besarnya biaya
yang retribusi yang diberikan, bukanlah merupakan tarif yang sudah ditentukan
oleh baik petugas kebersihan, maupun Satpol PP. Hal tersebut melainkan atas
dasar kesepakatan diantara pedagang dan keihklasan hati para pedagang
masing-masing seperti yang sudah disampaikan oleh Mas Ghofur. Hubungan sosial
yang terjalin di antara para pedagang dan petugas ini, sebagaimana konsep
keterlekatan yang dicetuskan oleh Granovetter dimana:
“konsep keterlekatan merupakan
tindakan ekonomi yang disituasikan secara sosial dan melekat dalam jaringan
sosial personal yang sedang berlangsung di antara para aktor. Ini tidak hanya
hanya terbatas terhadap tindakan aktor individual sendiri tetapi juga mencakup
perilaku ekonomi yang lebih luas, seperti penetapan harga dan
institusi-institusi ekonomi, yang semuanya terpendam dalam satu jaringan
hubungan nilai”[9]
Gambar 3.2


![]() |
Pola Hubungan dan Interaksi Antara Pengguna Jembatan
Sumber:
Analisis Data Lapangan (2013)
Berdasarkan gambar tersebut, terlihat pola hubungan
dan interaksi yang berlangsung diantara para aktor dalam alih fungsi jembatan
itu. Sedemikian baiknya hubungan sosial yang terjalin, tidak hanya sesama
pedagang, tapi juga antara pedagang dengan petugas setempat. Para aktor-aktor
dalam ruang ini menyadari betul tugas dan kebutuhan masing-masing. Sehingga,
tidak ada yang merasa dirugikan dengan adanya retribusi yang berlaku. Justru,
pedagang membayar retribusi itu, untuk menjaga hubungan baik dengan para petugas.
Bila hubungan mereka dengan petugas baik, maka mereka bisa berjualan di
jembatan. Kemudian, dengan berjualan di jembatan, tentu mereka mampu memenuhi
kebutuhan para pembeli dan pedagang akhirnya bisa mendapatkan penghasilan.
D.
Dinamika Berjualan di Ruang Publik
Dalam
setiap pekerjaan, tentu tidak selamanya berjalan sesuai dengan kehendak. Ada
kalanya berbagai kendala harus dilalui untuk dapat bertahan hidup. Begitupula
halnya dengan aktivitas berjualan di sebuah ruang kecil di perkotaan seperti
jembatan. Berbeda halnya dengan para pekerja di sektor ekonomi formal yang
mayoritas memiliki penghasilan tetap setiap bulannya. Para pedagang di jembatan
Cempak Timur ini harus memutar otak lebih keras agar penghasilan yang didapat
setiap harinya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Strategisnya lokasi jembatan Cempaka Timur dimana jembatan ini dilalui oleh banyak orang, tentu
berimplikasi kepada penghasilan para pedagang. Hampir setiap hari para pedagang
ini memperoleh penghasilan yang cukup. Terutama bila hari sabtu, minggu ataupun
hari libur nasional lainnya, pendapatan mereka akan meningkat drastis.
Sebenarnya, lokasi jembatan Cempaka Timur ini adalah titik yang sangat bagus
sebagai lahan usaha. Hanya saja, peraturan yang berlaku melarang para pedagang
ini untuk berjualan sejak dari pagi. Para pedagang ini hanya “dibolehkan” untuk
berjualan pada sore hari. Di siang hari, biasanya akan ada petugas Satpol PP
yang mensterilisasi kawasan jembatan secara berkala. Sehingga, para pedagang
hanya bisa berjualan di jembatan bila hari menjelang sore sampai dengan malam
hari.
Selain karena waktu berjualan yang kurang maksimal, cuaca yang
tidak menentu merupakan hambatan tersendiri bagi para pedagang. Lapak para
pedagang yang tidak permanen dan hanya beralaskan tikar, membuat pedagang harus
bisa melindungi barang dagangan dari hujan dan angin. Bahkan, tidak jarang
mereka harus menutup lapak mereka dan pulang ke rumah meski baru memulai
berjualan.
Gambar 3.3
Pedagang Terpaksa Menutupi Barang Dagangannya
![]() |
Sumber: Dokumentasi Penulis (2013)
Meski mengalami berbagai kendala, namun para pedagang ini
tetaplah bertahan untuk berjualan di jembatan. Hal tersebut lantaran
penghasilan yang diperoleh dengan berjualan cukup mumpuni. Para pedagang di
jembatan Cempaka Timur ini setidaknya mampu mendapatkan penghasilan sebesar
Rp50.000 per harinya. Bahkan banyak pedagang yang mendapat penghasilan lebih
besar dari itu. Namun, bagi Bapak Warno yang menjadi pemasok kerupuk dan juga
menjual kerupuk itu sendiri, mengaku penghasilannya berkurang semenjak
berjualan di jembatan Cempaka Timur. Sebelumnya, ia berjualan di Pasar baru
dengan harga yang lebih tinggi. Semenjak pindah ke jembatan Cempaka Timur, ia
harus menurunkan harga agar kerupuk yang dijualnya tetap laku. Para pedagang
yang berjualan di jembatan Cempaka Timur ini memang harus mengatur harga
menjadi lebih murah bila dibandingkan dengan tempat lain seperti ITC Cempaka
Mas itu sendiri. Untuk itu, para pedagang disini hanya mendapat untung kecil
dari setiap produk yang terjual. Berikut merupakan tabel yang memuat penghasilan beberapa orang pedagang di
jembatan Cempaka Timur.
Tabel 3.2
Penghasilan Beberapa Pedagang
No.
|
Nama
|
Produk yang
Dijual
|
Penghasilan
Kotor Perhari
|
1.
|
Ahmad Bilal
|
Parfum dan aksesoris wanita
|
Rp100.000 – Rp200.000
|
2.
|
Anjas
|
Hand sanitizer
|
Rp250.000 – Rp500.000
|
3.
|
Warno
|
Kerupuk
|
Rp200.000 – Rp400.000
|
4.
|
Gofur
|
Anti Gores
|
Rp100.000 – Rp250.000
|
5.
|
Taufik
|
Hand sanitizer
|
Rp800.000 – Rp1.000.000
|
6.
|
Nani
|
Sandal dan Sepatu
|
Rp300.000 – Rp600.000
|
Sumber: Analisis Data Lapangan (2013)
Hubungan
pedagang dengan petugas satpol PP memang bisa dikatakan cukup baik, namun bukan
berarti hal tersebut menjadi kendala bagi para pedagang. Terkadang, memang
pernah beberapa kali dilakukan penertiban secara mendadak oleh aparat
pemerintah daerah Jakarta. Para pedagang yang tidak mengetahui bahwa akan ada
penertiban oleh aparat pemerintah daerah terpaksa harus membubarkan lapak
mereka. Selain itu juga pernah terjadi beberapa kali penertiban yang dilakukan
oleh Satpol PP, dilakukan hingga sore hari. Hal ini tentu membuat pedagang
tidak bisa segera membuka lapak mereka.
E.
Pandangan Pengguna Jembatan terhadap Dualisme Fungsi
Jembatan
Jembatan
sebagai salah satu ruang publik di perkotaan, memiliki fungsi penting bagi
masyarakat. Dalam hal ini para pejalan kaki dan pengguna busway. Seiring
berjalannya waktu, jembatan kini telah beralih fungsi, tidak lagi semata
sebagai media untuk membantu menyeberang, namun juga sebagai lahan produktif
dalam menghasilkan uang. Penambahan aktivitas lain yang dilakukan di jembatan selain
untuk menyeberang, tentu memiliki dampak yang dirasa oleh pengguna jembatan
pada umumnya.
Fungsi
jembatan yang seharusnya untuk menyeberang, sementara saat ini juga digunakan untuk berjualan, dirasa
tidak pantas oleh sebagian masyarakat. Bagi beberapa masyarakat yang
menggunakan jembatan penyeberangan untuk menyeberang, merasa bahwa pemandangan
seperti ini dapat memperburuk potret kota Jakarta. Jembatan penyeberangan
memanglah tidak diperuntukan bagi aktivitas jual beli, maka wajar saja rasanya
bila keberadaan pedagang kaki lima di jembatan Cempaka Timur, dirasa cukup
mengganggu aktivitas jembatan yang notabene adalah untuk orang menyeberang.
Dari hasil pengamatan penulis, ada
beberapa penyeberang yang terlihat risih dan mengeluhkan tentang keberadaan para
pedagang kaki lima tersebut. Tidak jarang, selintingan-selintingan miring
terlontar dari mulut para penyeberang.
Kondisi
jembatan yang sempit, dan kini dengan adanya
para pedagang yang membuat jembatan menjadi lebih sempit, cukup
menghambat orang untuk lalu lalang di jembatan. Bayangkan saja, jembatan
Cempaka Timur yang kira-kira bisa dilalui oleh 4 jalur pejalan kaki, hanya bisa
dilewati satu sampai dua jalurnya saja, sementara jalur lainnya dipenuhi oleh
lapak para pedagang. belum lagi, ramainya orang yang berhenti di satu lapak
pedagang, semakin membuat kerumunan di jembatan. Hal ini membuat para pejalan
kaki harus mengantri ketika hendak
menyeberang. Terlebih bila di jam atau hari tertentu, dimana keramaian di atas
jembatan Cempaka Timur meningkat dua kali lipat. Seperti yang terlihat pada
gambar berikut.
![]() |
Gambar 3.4
Potret Keramaian Jembatan Menghambat Penyeberang Jalan
Sumber: Dokumentasi Penulis (2013)
Alih
fungsi jembatan penyeberangan ini bagaikan dua sisi mata uang yang berlainan.
Di satu sisi, ada masyarakat yang menganggap bahwa keberadaan pedagang di
jembatan ini dirasa mengganggu dan menghambat mereka ketika menyeberang.
Sementara di sisi lain, ada masyarakat yang menanggapi positif mengenai
dualitas fungsi halte dan keberadaan para pedagang di jembatan. Seperti yang
diungkapkan oleh Susanti, seorang
pengguna jembatan yang berusia 23 tahun.
“emang sih agak ga pantes diliatnya, tapi ya mereka juga
butuh makan kan. Lebih baik jualan meskipun di jembatan deh daripada
nganggur[...]pernah beberapa kali beli di sini. Kaya kalung, sepatu karet sama
headset. Lumayan harganya lebih murah dibanding yang di dalem, jadi nguntungin
kan”.[10]
Keberadaan
para pedagang di jembatan, dianggap menguntungkan juga bagi beberapa masyarakat
dalam memenuhi berbagai kebutuhan. Harga yang terjangkau dan kemudahan
mendapatkan barang, menjadi nilai tambah mengapa beberapa anggota masyarakat
suka membeli barang di jembatan Cempaka Timur ini. Prinsip sama-sama
diuntungkan, agaknya itulah yang menjadi alasan mengapa aktivitas jual beli di
jembatan bisa terjadi. Masih rutinnya aktivitas berdagang yang dilakukan hingga
saat ini, setidaknya menunjukan bahwa animo masyarakat untuk membeli barang
yang dijual di jembatan masih cukup tinggi.
F.
Kesimpulan
Jembatan Cempaka Timur dengan segala kestrategisan yang
dimiliki, memicu para pelaku sektor ekonomi informal untuk mengoptimalkan
fungsi jembatan tersebut. Jembatan pun kini tidak hanya sebagai tempat orang
menyeberang, melainkan juga tempat orang berbelanja. Kemudahan pedagang untuk
memasuki wilayah jembatan Cempaka timur dan menjadi bagian dari para pedagang
di dalamnya, membuat jumlah pedagang semakin lama semakin menjamur. Meskipun
ada sejumlah retribusi yang dibayarkan oleh para pedagang, tidak membuat
pedagang enggan untuk kembali berjualan di atas jembatan Cempaka Timur. Justru,
retribusi itu dianggap sebagai salah satu bentuk menjaga hubungan baik dengan
pihak terkait. Semakin menigkatnya jumlah pedagang, hal itu tidak membuat
persaingan di antara mereka menjadi sengit. Sebagai sesama pedagang, persaingan
sehat menjadi yang prioritas. Untuk itu, tidak mengherankan bila hubungan yang
terjalin di antara para pedagang, berlangsung dengan cukup baik.
Sementara persaingan yang terjadi di antara para pedagang
tidaklah menimbulkan masalah yang berarti, namun bukan berarti aktivitas
berjualan yang dilakukan tidak menemui kendala. Persoalan cuaca yang tidak
menentu serta penertiban yang mendadak merupakan contoh dari hambatan para
pedagang yang berakibat pada minimnya pendapatan mereka. Permasalahan lain
ialah kondisi jembatan yang bukanlah sebagai lokasi ideal sebuah tempat jual
beli, mengundang beragam reaksi dari para pengguna jembatan. Ada yang merasa
terganggu oleh keberadaan pedagang-pedagang di Jembatan. Namun, ada pula yang
merasa terbbantu dengan hadirnya pedagang di jembatan yang menyediakan berbagai
kebutuhan masyarakat dengan harga yang ekonomis.
[1] Sukidin,
Sosiologi Ekonomi, (Jember: Center
for Society Studies, 2009), hlm.13.
[2]
Damsar, Sosiologi Ekonomi, (Jakarta:
Prenada Media Grup , 2009) hlm. 119.
[3]
Wawancara pada Bapak Taufik pada 30 Mei 2013.
[4] George Ritzer
dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern:Edisi Terbaru,
(Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2011), hlm. 569.
[5] Nama
disamarkan
[6] Wawancara
terhadap bapak Warno pada 30 Mei 213.
[7] Wawancara
kepada Bapak Ahmad Bilal pada 30 Mei 2013.
[8]
Wawancara dengan Mas Gofur, pada 6 Juni 2013.
[9] Sukidin,
op.cit., hlm. 133.
[10]
Wawancara dengan Susanti yang dilakukan pada 3 Juni 2013.



