Search

Jumat, 05 Desember 2014

KONDISI GEOGRAFIS DAN SOSIAL BUDAYA DESA ISLAM PEGAYAMAN BALI

A.    Kondisi Geografis Desa Pegayaman
Pegayaman adalah desa di kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali, Indonesia. Buleleng sendiri memeliki luas 1.365.88 km2 dan secara geografis berada di 08º03'40" - 08º23'00" Lintang Selatan dan 115º25'55" - 115º27'28" Bujur Timur.[1] Pegayaman terhampar di lereng Bukit Gigit, satu di antara jajaran perbukitan yang memagari Bali Utara dengan daerah bagian selatan. Wilayah desa Pegayaman ini memiliki luas sekitar 1.584 hektare. Jaraknya hanya 12 kilometer di sebelah selatan Kota Singaraja dan sekitar 65 kilometer dari arah Denpasar. Dulunya, memang, Pegayaman merupakan bagian dari wilayah Kerajaan Buleleng yang berhutan lebat.
Ada beberapa versi kenapa desa itu disebut Pegayaman. Satu versi menyebutkan, konon, dulu di daerah itu disebut Alas Pegatepan karena banyak ditumbuhi pohon gatep. Gatep di Jawa biasa disebut buah gayam. Maka warga itu lantas menyebutnya Desa Pegayaman.[2] Versi lain, menurut Ketut Raji Jayadi, nama Pegayaman dikaitkan dengan nama keris Pakubuwono yang saat itu berkuasa di Kerajaan Mataram. Saat menjadi raja, Pakubuwono memiliki pusaka yang bernama Keris Gayam.[3]
Dalam sistem pengaturan desa, Pegayaman menerapkan sistem banjar dengan membagi desa menjadi lima banjar, yaitu Dauh Margi (Barat Jalan), Dangin Margi (Timur Jalan), Kubu Lebah, Kubu, dan Amertasari. Pertanian di daerah Pegayaman mengandalkan sistem subak yang bersumber dari satu bendungan bersama, yaitu Bendungan Yeh Buus.[4]
Berikut ini adalah profil desa Pegayaman:[5]
Nama Desa: Desa Pegayaman, Kec Sukasada, Kabupaten Buleleng
Visi dan Misi:
-          Visi: ngiring mekarya , ampunang akeh wicara.
-          Misi: mari membangun desa untuk lebih maju
Luas wilayah desa: 1584 Ha.
Letak dan batas-batas desa:
-          Sebelah Utara : Desa Pegadungan
-          Sebelah Selatan : Desa Pancasari
-          Sebelah Barat : Desa Gitgit
-          Sebelah Timur : Desa Silangjana
Jumlah Banjar Dinas Dan Nama-Nama Banjar Dinas:
-          Desa Pegayaman terdiri dari 5 Banjar Dinas :
Banjar Dinas Barat Jalan
Banjar Dinas Timur Jalan
Banjar Dinas Kubu
Banjar Dinas Amerta Sari
Banjar Dinas Kubu Lebah
-          Organisasi Desa Seperti Subak Dan Truna Truni
-          Desa Pegayaman memiliki 2 Subak :
Subak Sawah
Subak Abian
Sarana Pendidikan:
-          Jumlah TK/RA : 2 Unit yaitu TK Maulana Pegayaman dan RA Al ImanPegayaman
-          Jumlah SD : 4 unit yaitu
SD No 1 Pegayaman
SD No 2 Pegayaman
SD No 3 Pegayaman
MI Miftahul Ulum Pegayaman
-          Jumlah SMP/MTs : 2 unit yaitu
SMP Maulana Pegayaman
MTs Salafiah Al Iman Pegayaman
-          Jumlan SMA/ MA : 1 Unit yaitu MA.17 Juli Pegayaman
Potensi Desa Yang Dikembangkan:
Pertanian
Peternakan

B.       Kondisi Sosial Budaya Desa Pegayaman
Tidak seperti desa di Bali pada umumnya, desa Pegayaman ini memiliki keunikan. Keunikan tersebut alah, desa Pegayaman dihuni oleh masyarakat yang mayoritas penduduknya memeluk agama islam, sedangkan Bali sendiri dikenal dengan provinsi yangmana agama hindu merupaka agama dominan. Namun, meski 90 persen penduduknya beragama Islam, Desa Pegayaman punya ciri khas yang membedakannya dengan umat muslim di tempat lain. menurut Ketut Raji Jayadi selaku tokoh masyarakat disana menyebutkan, warga muslim Pegayaman dalam pergaulannya tetap memakai unggah-ungguh bahasa Bali.[6] Mereka biasa memakai bahasa Bali halus. Atau dalam istilah Raji, warganya biasa berbicara matiang nika.
Untuk urusan hari raya Islam, warga Pegayaman juga tak bisa lepas dari budaya Bali. Tahapan-tahapan hari rayanya sama seperti yang dilakoni masyarakat Bali lainnya. Ada hari pengejukan dan penampahan sebelum hari raya. Sehari setelah hari raya disebut hari umanis. Dalam perayaan hari raya, semacam Idul Fitri dan lain-laiannya, warga juga menyiapkan kue-kue khas Bali, seperti jaja uli dan tape, seperti yang ada dalam perayaan hari raya Galungan bagi umat Hindu. [7]
Dari segi nama, menurut Raji, warga Pegayaman juga mengikuti urutan khas nama-nama Bali. Untuk anak pertama mereka membubuhkan nama Wayan, untuk anak kedua disebut Nengah, ketiga Nyoman dan keempat Ketut. Untuk anak kelima dan seterusnya tetap mamakai nama Ketut, bukan Wayan (Balik) sebagaimana nama orang Bali lainnya.
Akulturasi budaya Bali, agama Hindu, dan agama Islam terlihat di desa ini pada beberapa hal, contohnya seni burde (burdah) dan sokok base (daun sirih). Seni burde adalah perpaduan lantunan sholawat,seni tabuh dan gerak tari Pegayaman yang nada lagu dan tariannya mirip dengan seni tradisional Bali. Sementara sokok base adalah rangkaian daun sirih, kembang, buah, dan telur, pada batang pisang yang mirip dengan pejegan, sarana upacara di pura bagi masyarakat Hindu.  
Dalam masalah perkawinan, sepertinya ada kesepakatan tak tertulis di antara penduduk muslim dan Hindu di Pegayaman.  Bila pihak pria beragama Islam, istrinya mengikuti agama suaminya. Begitu pula seBaliknya. Perkawinan di Bali memang menganut sistem patrilinial. Proses ke jenjang perkawinan di Pegayaman berbeda dengan masyarakat desa sekitar. Bila seorang pemuda bertandang ke rumah gadis, mereka tak boleh bertemu langsung face to face. Sang cewek tetap berada di dalam kamar, sedangkan si pria di luar. Keduanya ngobrol lewat sela-sela daun pintu atau jendela yang tetap tertutup. Selain itu, Desa Pegayaman  ada semacam tradisi masyarakat  setempat yang  menunjukkan adanya toleransi  yang kuat dalam masayarakat Bali,  yang disebut Male.[8]
Di desa Pegayaman, umat Hindu dan Muslim tetap hidup berdampingan secara harmonis. Setiap perayaan-perayaan besar keagamaan, mereka saling menghormati dan memberikan ucapan selamat satu sama lain. mereka juga kerap bertukar makanan saat Lebaran, seperti buah-buahan dan roti. Tradisi pertukaran makanan seperti ini disebut sebagai ngejot. Dalam sistem penamaan di desa ini, nama warga kerap merupakan perpaduan unsur Bali, Arab, dan terkadang Jawa.




[1] Luas Wilayah dan Letak Geografis Pulau Bali dan Kabupaten/Kota Tahun 2012 diakses melalui situs http://bali.bps.go.id/tabel_detail.php?ed=601001&od=1&id=1 pada 06 November 2013.
[2] Adnyana Ole, 2002, Desa Pegayaman... Pemukiman ''Nyama Slam'' Asli Bali diakses melalui http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2002/11/30/b1.htm pada 06 November 2013.
[3] Ibid.
[4] Pegayaman, Sukasada, Buleleng, diakses melalui situs http://id.wikipedia.org/wiki/Pegayaman,_Sukasada,_Buleleng pada 30 Oktober 2013.
[5] http://desapegayaman.blogspot.com/p/lembaga_03.html
[6] Adnyana  Ole, ibid.
[8] Male adalah bentuk ritual ketika masyarakat muslim Bali memperingati hari Maulid Nabi Muhammad SAW.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar