A. Kondisi Geografis Desa Pegayaman
Pegayaman adalah desa di kecamatan Sukasada, Buleleng,
Bali, Indonesia. Buleleng sendiri memeliki luas 1.365.88 km2 dan secara
geografis berada di 08º03'40" - 08º23'00" Lintang Selatan dan
115º25'55" - 115º27'28" Bujur Timur.[1]
Pegayaman terhampar di lereng Bukit
Gigit, satu di antara jajaran perbukitan yang memagari Bali Utara dengan daerah
bagian selatan. Wilayah desa Pegayaman ini memiliki luas sekitar 1.584 hektare.
Jaraknya hanya 12 kilometer di sebelah selatan Kota Singaraja dan
sekitar 65 kilometer dari arah Denpasar. Dulunya, memang, Pegayaman merupakan
bagian dari wilayah Kerajaan Buleleng yang berhutan lebat.
Ada beberapa versi kenapa desa itu disebut Pegayaman.
Satu versi menyebutkan, konon, dulu di daerah itu disebut Alas Pegatepan karena
banyak ditumbuhi pohon gatep. Gatep di Jawa biasa disebut buah gayam. Maka
warga itu lantas menyebutnya Desa Pegayaman.[2]
Versi lain, menurut Ketut Raji Jayadi, nama Pegayaman dikaitkan dengan nama
keris Pakubuwono yang saat itu berkuasa di Kerajaan Mataram. Saat menjadi raja,
Pakubuwono memiliki pusaka yang bernama Keris Gayam.[3]
Dalam sistem pengaturan desa, Pegayaman menerapkan
sistem banjar dengan membagi desa menjadi lima banjar, yaitu Dauh Margi (Barat
Jalan), Dangin Margi (Timur Jalan), Kubu Lebah, Kubu, dan Amertasari. Pertanian
di daerah Pegayaman mengandalkan sistem subak yang bersumber dari satu bendungan bersama,
yaitu Bendungan Yeh Buus.[4]
Berikut ini adalah profil
desa Pegayaman:[5]
Nama Desa: Desa Pegayaman,
Kec Sukasada, Kabupaten Buleleng
Visi dan Misi:
-
Visi: ngiring mekarya , ampunang akeh wicara.
-
Misi: mari membangun desa untuk lebih maju
Luas wilayah desa: 1584 Ha.
Letak dan batas-batas desa:
-
Sebelah Utara : Desa Pegadungan
-
Sebelah Selatan : Desa
Pancasari
-
Sebelah Barat : Desa Gitgit
-
Sebelah Timur : Desa Silangjana
Jumlah Banjar Dinas Dan Nama-Nama Banjar Dinas:
-
Desa Pegayaman terdiri dari 5
Banjar Dinas :
Banjar
Dinas Barat Jalan
Banjar
Dinas Timur Jalan
Banjar
Dinas Kubu
Banjar
Dinas Amerta Sari
Banjar
Dinas Kubu Lebah
-
Organisasi Desa Seperti
Subak Dan Truna Truni
-
Desa Pegayaman memiliki 2 Subak
:
Subak
Sawah
Subak
Abian
Sarana Pendidikan:
-
Jumlah TK/RA : 2 Unit yaitu TK
Maulana Pegayaman dan RA Al ImanPegayaman
-
Jumlah SD : 4 unit yaitu
SD
No 1 Pegayaman
SD
No 2 Pegayaman
SD
No 3 Pegayaman
MI
Miftahul Ulum Pegayaman
-
Jumlah SMP/MTs : 2 unit yaitu
SMP
Maulana Pegayaman
MTs
Salafiah Al Iman Pegayaman
-
Jumlan SMA/ MA : 1 Unit yaitu
MA.17 Juli Pegayaman
Potensi Desa Yang Dikembangkan:
Pertanian
Peternakan
B. Kondisi Sosial Budaya Desa Pegayaman
Tidak seperti desa di Bali pada
umumnya, desa Pegayaman ini memiliki keunikan. Keunikan tersebut alah, desa Pegayaman
dihuni oleh masyarakat yang mayoritas penduduknya memeluk agama islam,
sedangkan Bali sendiri dikenal dengan provinsi yangmana agama hindu merupaka
agama dominan. Namun, meski 90 persen penduduknya beragama Islam, Desa Pegayaman
punya ciri khas yang membedakannya dengan umat muslim di tempat lain. menurut
Ketut Raji Jayadi selaku tokoh masyarakat disana menyebutkan, warga muslim Pegayaman
dalam pergaulannya tetap memakai unggah-ungguh bahasa Bali.[6]
Mereka biasa memakai bahasa Bali halus. Atau dalam istilah Raji, warganya biasa
berbicara matiang nika.
Untuk urusan hari raya Islam,
warga Pegayaman juga tak bisa lepas dari budaya Bali. Tahapan-tahapan hari
rayanya sama seperti yang dilakoni masyarakat Bali lainnya. Ada hari pengejukan
dan penampahan sebelum hari raya. Sehari setelah hari raya disebut hari umanis.
Dalam perayaan hari raya, semacam Idul Fitri dan lain-laiannya, warga juga
menyiapkan kue-kue khas Bali, seperti jaja uli dan tape, seperti yang ada dalam
perayaan hari raya Galungan bagi umat Hindu. [7]
Dari segi nama, menurut Raji,
warga Pegayaman juga mengikuti urutan khas nama-nama Bali. Untuk anak pertama
mereka membubuhkan nama Wayan, untuk anak kedua disebut Nengah, ketiga Nyoman
dan keempat Ketut. Untuk anak kelima dan seterusnya tetap mamakai nama Ketut,
bukan Wayan (Balik) sebagaimana nama orang Bali lainnya.
Akulturasi budaya Bali, agama Hindu, dan agama Islam terlihat di
desa ini pada beberapa hal, contohnya seni
burde (burdah) dan sokok base
(daun sirih). Seni burde
adalah perpaduan lantunan sholawat,seni tabuh dan gerak tari Pegayaman yang
nada lagu dan tariannya mirip dengan seni tradisional Bali. Sementara sokok base adalah rangkaian daun sirih, kembang, buah,
dan telur, pada batang pisang yang mirip dengan pejegan, sarana upacara di pura bagi masyarakat Hindu.
Dalam
masalah perkawinan, sepertinya ada kesepakatan tak tertulis di antara penduduk
muslim dan Hindu di Pegayaman. Bila pihak pria beragama Islam, istrinya
mengikuti agama suaminya. Begitu pula seBaliknya. Perkawinan di Bali memang
menganut sistem patrilinial. Proses ke jenjang perkawinan di Pegayaman
berbeda dengan masyarakat desa sekitar. Bila seorang pemuda bertandang ke rumah gadis, mereka tak
boleh bertemu langsung face to face. Sang cewek tetap berada di dalam
kamar, sedangkan si pria di luar. Keduanya ngobrol lewat sela-sela daun
pintu atau jendela yang tetap tertutup. Selain itu, Desa Pegayaman ada
semacam tradisi masyarakat setempat yang menunjukkan adanya
toleransi yang kuat dalam masayarakat Bali, yang disebut Male.[8]
Di desa Pegayaman, umat Hindu dan Muslim tetap hidup berdampingan secara harmonis.
Setiap perayaan-perayaan besar keagamaan, mereka saling menghormati dan
memberikan ucapan selamat satu sama lain. mereka juga kerap bertukar makanan
saat Lebaran,
seperti buah-buahan dan roti. Tradisi pertukaran makanan seperti ini disebut
sebagai ngejot. Dalam sistem penamaan di desa ini, nama warga kerap
merupakan perpaduan unsur Bali, Arab,
dan terkadang Jawa.
[1] Luas Wilayah dan Letak
Geografis Pulau Bali dan Kabupaten/Kota Tahun 2012 diakses melalui situs http://bali.bps.go.id/tabel_detail.php?ed=601001&od=1&id=1 pada 06 November 2013.
[2] Adnyana Ole, 2002, Desa Pegayaman... Pemukiman ''Nyama
Slam'' Asli Bali diakses melalui http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2002/11/30/b1.htm pada 06 November 2013.
[4] Pegayaman, Sukasada, Buleleng, diakses melalui situs
http://id.wikipedia.org/wiki/Pegayaman,_Sukasada,_Buleleng pada 30 Oktober 2013.
[5] http://desapegayaman.blogspot.com/p/lembaga_03.html
[8] Male
adalah bentuk ritual ketika masyarakat muslim Bali memperingati hari Maulid
Nabi Muhammad SAW.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar