PRINSIP BELAJAR:
FAKTOR-FAKTOR DALAM BELAJAR
Makalah ini dibuat untuk
memenuhi salah satu tugas Teori Belajar Pembelajaran

Disusun
oleh:
Kelompok
4
Haolongan
Lubis
Sielviana
Siti
Sutianah Dewi
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI
JURUSAN SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2012
A. TUJUAN
PEMBELAJARAN
1.
Tujuan
Pembelajaran Umum
Mahasiswa mampu menjelaskan
mengenai prinsip dan faktor-faktor yang mempengaruhi dalam kegiatan belajar.
2.
Tujuan
Pembelajaran Khusus
a.
Mahasiswa
mampu mendeskripsikan
prinsip-prinsip belajar.
b.
Mahasiswa mampu menjelaskan faktor internal belajar.
c.Mahasiswa
mampu mengklasifikasikan faktor
eksternal yang mempengaruhi belajar.
B. DESKRIPSI
MATERI
1. Materi Pokok: Prinsip
Belajar
2. Sub materi Pokok: Prinsip
belajar dan faktor-faktor dalam belajar
C. URAIAN
1.
Pendahuluan
a.
Latar
Belakang
Dalam kegiatan belajar, terdapat berbagai prinsip
yang mutlak ada dalam kegiatan yang melibatkan siswa tersebut. Prinsip-prinsip
itu perlu diketahui guna memperlancar proses belajar sehingga hasil belajar
mencapai titik optimal. Pada kegiatan belajar dan mengajar di sekolah juga akan
ditemukan dua subjek, yaitu siswa dan
guru. Dalam kegiatan belajar, siswalah yang memegang peranan penting. Dalam
proses belajar itu sendiri kita menemukan tiga tahap penting, yaitu sebelum
belajar, proses belajar dan sesudah belajar. Ketiga kegiatan itu tentu tidak
terjadi begitu saja tanpa ada alasan dan dukungan faktor-faktor dalam belajar. faktor-faktor
tersebut tentu memegang peranana penting dalam kegiatan belajar.
b.
Rumusan
Masalah
1)
Apa
saja yang termasuk prinsip-prinsip belajar?
2)
Apa
saja faktor internal yang mempengaruhi belajar?
3)
Apa
faktor eksternal yang mempengaruhi belajar?
c.
Tujuan
Penulisan
1)
Mahasiswa mampu mendeskripsikan prinsip-prinsip belajar.
2)
Mahasiswa mampu menjelaskan faktor internal belajar.
3)Mahasiswa mampu mengklasifikasikan faktor
eksternal yang mempengaruhi belajar.
2.
Pembahasan
Prinsip-prinsip Belajar
Banyak
teori-teori dan prinsip-prinsip belajar yang di kemukakan oleh para ahli yang
memiliki persamaan dan perbedaan. Beberapa prinsip yang relative yang berlaku
di umum dalam upaya pembelajaran, baik bagi siswa yang perlu meningkatkan
mengajarnya. Prinsip itu berkaitan dengan perhatian, motivasi, keaktifan,
keterlibatan langsung/berpengalaman, pengulangan tantangan, balikan dan penguatan,
serta perbedaan individual.
a. Perhatian dan
Motivasi
Kajian teori belajar pengolahan informasi terungkap
bahwa tanpa adanya perhatian tak mugkin terjadi belajar (Gage dan Berliner,
1984; 335). Motivasi mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar, karena
motivasi yang menggerakan dan mengarahkan aktivitas seseorang. Motivasi dapat
merupakan tujuan dan alat pembelajaran. Sebagai tujuan, motivasi meruapakan
salah satu tujuan dalam mengajar. Motivasi merupakan salah satu alat factor
seperti hanya intelegensi dan hasil belajar sebelumya yang menentukan
keberhasilan belajar siswa dalam bidang pengetahuan, nilai-nilai, dan
keterampilan.
b. Keaktifan
Psikologi dewasa menganggap bahwa anak adalah
makhluk yang aktif. Belajar hanya mungkin terjadi apabila anak aktif mengalami
sendiri. John Dewey misalnya mengemukakan, bahwa belajar adalah menyangkut apa
yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri, maka inisiatif harus datang
dari siswa sendiri. Guru hanya sekedar pembimbing dan pengarah.
Menurut teori kognitif, belajar menunjukan adanya
jiwa yang sangat aktif, jiwa mengolah informasi yang kita terima. Anak memiliki
sifat aktif, konstruktif, dan mampu merencanakan sesuatu untuk mencari,
menemukan, dan menemukan pengetahuan yang telah di perolehnya. Dalam proses belajar
mengajar anak mampu mengidentifikasikan, merumuskan masalah, mencari dan
menemukan fakta, menganalisis menafsirkan, dan menarikan kesimpulan.
c.
Keterlibatan
langsung/Berpengalaman
Edgar Dale dalam penggolongannya pengalaman belajar
yang dituangkan dalam kerucut pengalamannya mengemukakan bahwa belajar yang
paling baik adalah belajar melalui pengalaman langsung. Belajar harus dilakukan
oleh siswa secara aktif, baik individual, maupun kelompok, dengan cara
memecahkan masalah (problem solving).guru bertindak sebagai motivasi dan fasilitator.
d.
Pengulangan
Belajar yang menekankan perlunya pengulangan
barangkali yang paling tua adalah dikemukakan oleh teori psikologi daya. Dengan
mengadakan pengulangan maka daya tersebut akan berkembang. Seperti halnya pisau
yang trus diasah akan menjadi tajam, maka daya-daya yang dilatih dengan
pengadaan pengulangan-pengulangan akan menjadi sempurna.
Teori yang menekankan prinsip pengulangan adalah
teori Psikologi Asosiasi atau Koneksionisme dengan tokoh yang terkenal Thomdike.
Pada teori koneksionisme, belajar adalah pembentukan hubungan stimulus dan
respon maka psiokologi conditioning
respons akan timbul bukan hanya stimulus, tetapi juga oleh stimulus yang
dikondisikan.
Pentingnya prinsip pengulangan dalam belajar walaupun
dengan tujuan yang berbeda-beda. Yang pertama pengulangan untuk melatih
daya-daya jiwa, sedangkan yang kedua dan ketiga pengulangan untuk membentuk
respons yang benar dan membnetuk kebiasaan-kebiasaan.
e.
Tantangan
Teori Medan (Field Theory) dari Kurt Lewin yang
mengemukakakn bahwa siswa dalam situasi belajarberada dalam suatu medan atau
lapangan psikologis. Tantangan yang dihadapi dalam bahan belajar membuat siswa
bergairah mengatasinya. Bahan belajar yang baru, yang mengandung masalah yang
dipecahkan membuat siswa tertantang untuk mempelajarinya. Pelajaran yang
memberikan kesempatan pada siswa untuk memnemukan konsep-konsep,
prinsip-prinsip dan generalisi tersebut.
Penggunaan metode eksperimen, inkuiri, diskoveri
juga memberikan tantangan bagi siswa untuk belajar lebih giat dan
sungguh-sungguh. Penguatan positif maupun negative akan menantang siswa dan
menibulkan motif untuk memperoleh ganjaran agar terhindar dari hokum yang tidak
menyenangkan.
f.
Balikan
dan Penguatan
Prinsip belajar yang berkaitan dengan balikan dan
penguatan terutama ditekankan oleh teori belajar Operant Conditioning dari B.F.
Skinner. Kunci dari teori belajar ini adalah Law of effect-nya Thomdike. Siswa
akan belajar lebih semangat apabila mengetahui dan mendapatkan hasil yang baik,
maka hasil yang baik akan merupakan balikan yang menyenangkan dan berpengaruh
baik bagi usaha belajar selanjutnya.Jika siswa belajar dengan sungguh-sungguh
itu mendorong untuk mendapatkan nilai yang baik pada saat ulangan dan akan
belajar lebih giat lagi. Nilai yang baik merupakan operant conditioning atau
penguatan positif.
g.
Perbedaan
Individual
Tiap siswa memiliki perbedaan satu dengan yang lain.
Perbedaan itu terdapat pada karateristik psikis, kepribadadian, dan
sifat-sifatnya. System pendidikan klasikal yang dilakukan di sekolah kurang
memperhatikan masalah perbedaan individual, umumnya pelaksanaan pembelajaran di
kelas dengan melihat siswa sebagai individu dengan kemampuan rata-rata,
kebiasaan yang kurang lebih sama, demikian pula dengan pengetahuannya.
Faktor-faktor
dalam Belajar
Belajar sangat
dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu faktor internal dan eksternal.
a. Faktor
Internal
Faktor internal adalah
faktor yang timbul dari dalam diri siswa, baik kondisi jasmani maupun rohani
siswa. Faktor internal dibedakan menjadi faktor fisiologis dan faktor
psikologis (Eveline Siregar dan Hartini Nara, 2007: 163)
1) Faktor
Fisiologis.
Faktor fisiologis
adalah suatu kondisi yang berhubungan dengan kesehatan jasmani seseorang
(Eveline Siregar dan Hartini Nara, 2007: 163). Misalnya tentang fungsi
organ-organ, dan susunan tubuh yang dapat mempengaruhi semangat dan intensitas
siswa dalam mengikuti pelajaran. Faktor fisiologis yang dapat mempengaruhi belajr siswa dapat dibedakan menjadi 2 macam,
yaitu:
a) Tonus
(kondisi) badan
kondisi jasmani pada
umunya dapat dikatakan melatarbelakangi kegiatan belajar. Sehubungan dengan
keadaan/kondisi jasmani tersebut, maka ada dua hal yang perlu diperhatikan,
yaitu:
·
Cukupnya nutrisi (nilai
makanan dan gizi)
Tubuh yang kekurangan
gizi makanan, akan mengakibatkan merosotnya kondisi jasmani. Sehingga,
menyebabkan seseorang dalam kegiatan belajarnya menjadi cepat lesu, mengantuk,
dan tidak ada semangat untuk belajar. Pada akhirnya siswa tidak dapat mencapai
hasil belajar yang diharapkan.
·
Beberapa penyakit
ringan yang diderita
Dapat berupa pilek,
sakit gigi, batuk dan lain sejenisnya. Semua itu tentu akan memepengaruhi hasil
belajra siswa
Berdasarkan penjelasan tersebut dapat
terlihat bahwa kondisi badan seseorang sangat berpengaruh terhadap kegiatan
belajarnya. Bila kondisi jasmaninya dalam keadaan sehat dan baik, maka kegiatan
belajar dapat dilakukan dengan baik. Siswa tentu akan lebih mudah mengikuti
proses belajar bila tidak dalam keadaan sakit. Untuk itu, bagi siswa yang
sedang sakit dianjurkan beristirahat dulu sampai sembuh agar siswa tersebut
dapat kembali mengikuti kegiatan belajar dengan baik.
b) Keadaan
fungsi-fungsi fisiologis tertentu
keadaan fungsi jasmani
tertentu yang dapat mempengaruhi kegiatan belajar disini adalah fungsi-fungsi
panca indera. Panca indera yang memegang peranan penting disini adalah mata dan
telinga. Apabila mekanisme mata dan telinga kurang berfungsi, maka tanggapan
yang disampaikan guru tidak mungkin dapat diterima oleh anak didik dengan
optimal. Jadi, siswa tidak dapat menerima dan memahami bahan-bahan pelajaran,
baik yang langsung disampaikan guru maupun dari bahan buku bacaan.
Dapat disimpulkan bahwa fungsi panca indera sangat
berpengaruh dalam kegiatan belajar, karena ia dapat memahami bahan ajar melalui
penglihatan dan pendengarannya. Untuk itu, bagi sesorang yang fungsi panca
inderanya mengalami maslah seperti tuna netra atau tuna rungu, biasanya
disekolahkan di sekolah-sekolah khusus, karena metode pembelajarnnya juga
berbeda dan khusus sesuai dengan kebutuhan mereka.
2) Faktor Psikologis
Faktor psikologis adalah suatu kondisi
yang berhubungan dengan keadaan kejiwaan siswa.Faktor psikologis dapat
dibedakan menjadi:
a) Bakat
Bakat adalah kemampuan
potensial yang dimiliki anak untuk mencapai keberhasilan(Eveline Siregar dan
Hartini Nara, 2007: 164). Bakat anak akan mulai tampak sejak ia dapat berbicara
atau masuk Sekolah Dasar (SD). Bakat yang dimiliki oleh anak tidak sama. Bakat
akan mempengaruhi tinggi rendahnya prestasi belajar bidang-bidang studi tertentu.
Karena
bakat setiap anak berbeda, maka kemampuannya berbeda pula. Seseorang yang
memiliki bakat tertentu biasanya memiliki prestasi yang lebih tinggi dibanding
anak yang lainnya. Bakat ini biasanya merupakan bawaan lahiriah, namun apabila
bakat tidak dikembangkan dengan baik bukan hal yang tidak mungkin jika bakat
tersebut mulai berkurang atau hilang sama sekali. Untuk itu, bakat anak tidak
hanya perlu disadari tapi juga dikembangkan dan difasilitasi perkembangannya.
b) Minat
Minat adalah kecenderungan
dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar untuk sesuatu(Eveline
Siregar dan Hartini Nara, 2007: 164). Dalam minat, ada dua hal yang harus
diperhatikan:
·
Minat Pembawaan
Minat
ini muncul dengan tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor lain, baik kebutuhan
maupun lingkungan.
·
Minat yang muncul
karena adanya pengaruh dari luar.
Minat
seseorang bisa saja berubah karena adanya pengaruh lingkungan dan kebutuhan.
Spesialisasi bidang studi yang menarik minat seseorang akan dapat dipelajari
dengan sebaik-baiknya. Sebaliknya, jika bidang studi yang tidak sesuai dengan
minatnya, tidak mempunyai daya tarik baginya.
Dalam kegiatan belajar, minat juga
memiliki peran yang penting, karena anak akan belajar apabila ia tertarik dan
mau mempelajarinya. Bila ia sudah tertarik atau mempunyai minat pada mata
pelajaran tertentu, ia akan mempelajarinya dengan baik dan tentu berimbas pada
hasil yang baik juga.
Karena minat tidak semuanya bawaan, maka
tugas seorang guru salah satunya adalah mengarahkan minat siswa. Contohnya,
bila ada siswa yang tidak minat mempelajari tema konflik sosial dalam mata
pelajaran Sosiologi, maka guru harus bisa membuat anak tersebut tertarik dan
mau mempelajarinya dengan cara dilakukan metode yang menarik, misalnya
melakukan sosiodrama tentang konflik
yang melibatkan siswa.
c)
Intelegensi
intelegensi adalah
kemampuan psiko-fisik untuk mereaksi
rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat
(Eveline Siregar dan Hartini Nara, 2007: 164). Kemampuan dasar yang tinggi pada
anak, memungkinnya dapat menggunakan pikirannya untuk belajar dan memecahkan
persoalan-persoalan baru secara tepat, cepat dan berhasil. Sebaliknya, tingkat
kemampuan dasar yang rendah dapat mengakibatkan murid mengalami kesulitan dalam
belajar.
dapat kami tarik kesimpulan bahwa tingkat intelegensi sesorang
berbeda-beda, salah satunya ditunjukan dengan cepat atau lambatnya seseorang
menangkap pelajaran yang dibedakan. Hal ini juga berpengaruh dalam kegiatan
belajar, bila anak memiliki tingkat penangkapan belajar yang cepat tentu proses
belajar juga selesai dengan optimal.
d)
Motivasi
Motivasi adalah keadaan
internal manusia yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Fungsi motivasi
adalah mendorong seseorang untuk interest pada kegiatan yang akan dikerjakan,
menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai, dan
mendorong seseorang untuk pencapaian prestasi. (Eveline Siregar dan Hartini
Nara, 2007: 165). Yakni dengan adanya motivasi yang baik dalam belajar, akan
menunjukan hasil belajar yang baik. Motivasi dapat dibedakan menjadi:
·
motivasi intrinsik,
yaitu motivasi yang berasal dari dalam
individu tanpa adanya pengaruh dan rangsangan dari luar.
·
motivasi ekstrinsik,
yaitu motivasi yang berasal dari luar individu. Misalnya pemberian pujian,
pemberian nilai sampai pada pemberian hadiah dan faktor-faktor eksternal
lainnya yang memiliki daya dorong motivasional.
Motivasi
merupakan aspek yang juga sangat cukup penting, karena motivasi akan memberikan
semangat dan dorongan pada sesorang yang akan belajar. motivasi juga dapat
membuat anak mengetahui apa tujuannya belajar sehingga orientasi belajarnya
tepat dan jelas. Karena motivasi tidak hanya berupa motivasi intrinsik,
pengembangan motivasi ekstrinsik juga perlu dilakukan. Orang tua, guru, dan
lingkungan sosial lainnya harus mampu memberikan motivasi kepada sesorang yang
belajar agar ia semangat dan bersungguh-sungguh dalam kegiatan belajarnya
sehingga hasil belajar yang di dapat juga optimal.
e)
Sikap terhadap Belajar
Sikap
merupakan kemampuan memberikan penilaian tentang sesuatu, yang membawa diri
sesuai dengan penilaian. Adanya penilaian tentang sesuatu, mengakibatkan
terjadinya sikap menerima, menolak, atau mengabaikan. Sikap menerima, menolak,
atau mengabaikan suatu kesempatan belajar merupakan urusan pribadi siswa.
Akibat penerimaan, penolakann, atau pengabaian kesempatan belajar tersebut akan
berpengaruh pada perkembangan kepribadian. Oleh karena itu, ada baiknya siswa
mempertimbangkan matang – matang akibat sikap terhadap belajar.
Sikap sesorang dalam belajar akan
mempengaruhi kegiatan dan hasil belajar. karena biasanya, bila siswa yang
sikapnya sangat memperhatikan belajar akan berbeda dengan siswa yang lebih
sering tidak memerhatikan atau mengabaikan belajar baik dalam kegiatannya
maupun pada hasilnya.
f)
Konsentrasi Belajar
Konsentrasi belajar merupakan kemampuan
memusatkan perhatian pada pelajaran. Pemusatan perhatian tersebut tertuju pada
isi bahan belajar maupun proses memperolehnya. Untuk memperkuat perhatian pada
pelajaran, guru perlu menggunakan bermacam – macam strategi belajar, dan
memperhitungkan waktu belajar serta selingan istirahat.
Maka dapat kami simpulkan bahwa
konsentrasi belajar adalah faktor yang penting dalam kegiatan belajar, karena
konsentrasi belajar tentu dapat berpengaruh terhadp fokus belajar siswa.
Konsentrasi ini juga dapat fiperoleh
dari berbagai hal, misalnya lingkungan belajar yang kondusif, siswa tidak
memiliki beban atau maslah dan lainnya.
g)
Mengolah Bahan Belajar
Mengolah bahan belajar merupakan
kemampuan siswa untuk menerima isi dan cara pemerolehan ajaran sehingga menjadi
bermakna bagi siswa. Isi bahan belajar berupa pengetahuan, nilai kesusilaan,
nilai agama, nilai kesenian, serta keterampilan mental dan jasmani. Kemampuan
menerima isi dan cara pemerolehan dapat dikembangkan dengan belajar berbagai
mata pelajaran. Kemampuan siswa mengolah bahan tersebut menjadi makin baik,
bila siswa berpeluang aktif belajar.
h)
Menyimpan Perolehan Hasil Belajar
Menyimpan perolehan hasil belajar
merupakan kemampuan untuk menyimpan isi pesan dan cara perolehan pesan.
Kemampuan menyimpan tersebut dapat berlangsung dalam waktu pendek dan waktu
yang lama. Kemampuan menyimpan dalam waktu pendek berarti cepat dilupakan.
Kemampuan menyimpan dalam waktu lama berarti hasil belajar tetap dimiliki
siswa. Pemilikan itu dalam waktu bertahun – tahun, bahkan sepanyang hayat.
i)
Menggali Hasil Belajar
yang Tersimpan
Menggali hasil belajar yang tersimpan
merupakan proses mengaktifkan pesan yang telah diterima. Dalam hal pesan baru,
maka siswa akan memperkuat pesan dengan cara mempelajarinya kembali, atau
mengaitkannya dengan bahan yang lama. Dalam hal pesan lama, maka siswa akan
memanggil atau membangkitkan kembali pesan dan pengalaman lama untuk suatu
proses hasil belajar. Proses menggali pesan lama dapat berwujud: transfer
belajar atau unjuk prestasi belajar.
Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat
ditarik kesimpulan bahwa proses penggalian hasil belajar juga memepengaruhi
belajar.menggali hasil belajar ini ditunjukan dengan usaha yang dilakukan
seseorang dalam mengingat kembali hasil belajar yang ia dapat. Semakin sering
atau rutin seseorang menggali hasil belajar, tentuu ia akan semakin ingat dan
tidak mudah lupa, karena terus dilakukan berulang-ulang.
j)
Kemampuan Berprestasi
atau Unjuk Hasil Belajar
Kemampuan berprestasi atau unjuk hasil
belajar merupakan suatu puncak proses belajar. Pada tahap ini siswa membuktikan
keberhasilan belajar. Siswa menunjukkan bahwa ia telah mampu memecahkan tugas-tugas
belajar atau mentransfer hasil belajar. Dari pengalaman sehari-hari di sekolah
diketahui bahwa ada sebagian siswa tidak mampu berprestasi dengan baik.
Kemampuan berprestasi tersebut terpengaruh oleh proses-proses penerimaan,
pengaktifan, pra-pengolahan, pengolahan, penyimpanan, serta pemanggilan untuk
pembangkitkan pesan dan pengalaman.
Dari penjelasan diatas, dapat kami
ringkas bahwa kemampuan berprestasi setiap anak berbeda-beda. Ada anak yang
senang menunjukan hasil belajarnya ada juga yang biasa saja. Unjuk hasil
belajar ini dapat dicontohkan seperti diskusi dengan teman, mengerjakan kedepan
kelas dan lain-lain.
k) Rasa
Percaya Diri Siswa
Rasa percaya diri timbul dari keinginan
mewujudkan diri bertindak dan berhasil. Dari segi perkembangan, rasa percaya
diri dapat timbul berkat adanya pengakuan dari lingkungan. Dalam proses belajar
diketahui bahwa unjuk prestasi merupakan tahap pembuktian “perwujudan diri”
yang diakui oleh guru dan rekan siswa. Makin sering berhasil menyelesaikan
tugas, maka semakin memperoleh pengakuan umum, dan rasa percaya diri pun
semakin kuat. Hal yang sebaliknya dapat terjadi. Kegagalan yang berulang kali
dapat menimbulkan rasa tidak percaya diri. Bila rasa tidak percaya diri sangat
kuat, maka diduga siswa akan menjadi takut belajar. Rasa takut belajar tersebut
terjalin secara komplementer dengan rasa takut gagal lagi. Gejala ini merupakan
masalah pembelajaran diri yang musykil. telah berhasil.
Kesimpulannya, seseorang memiliki
tingkat percaya diri yang berbeda. Orang yang percaya diri, dalam beljarnya
juga akan berbeda dengan orang yang kurang percaya diri. Sikap percaya diri
mampu membuat seseoang mau belajar dan meningkatkan belajarnya. Bila orang yang
kurang percaya diri maka ia cenderung menganggap dirinya tidak mampu sehingga
tidak mempunyai daya semangat dalam belajar.
l)
Kebiasaan Belajar
Dalam kegiatan sehari – hari ditemukan
adanya kebiasaan belajar yang kurang baik. Kebiasaan belajar tersebut antara
lain : belajar pada akhir semester, belajar tidak teratur, menyianyiakan
kesempatan belajar, bersekolah hanya untuk bergengsi, datang terlambat, bergaya
pemimpin, bergaya jantan seperti merokok, sok menggurui teman lain, dan bergaya
minta “belas kasihan” tanpa belajar.
Kebiasaan belajar sesorang akan
berpengaruh dalam belajar, karena kebiasaan belajar yang baik tentu akan
membuat proses dan hasil belajar yang baik, begitupula sebaliknya.
b. Faktor
Eksternal
Faktor-faktor
ekstern tersebut adalah sebagai berikut :
1)
Faktor
Sosial
Faktor
Sosial dibagi menjadi beberapa
lingkungan, yaitu:
a)
Lingkungan
Keluarga
Lingkungan
keluarga termasuk didalamnya:
·
Orang
tua
·
Suasana
rumah
·
Kemampuan
ekonomi keluarga
·
Latar
belakang kebudayaan
Lingkungan keluarga
menjadi faktor eksternal yang amat sangat penting, karena keluarga merupakan
agen sosial primer bagi seseorang, dimana internalisasi dan sosialisasi awal
terjadi pada lingkungan ini.
b)
Lingkungan
Guru
Termasuk
didalamnya:
·
Interaksi
guru dan murid
·
Hubungan
antarmurid
·
Cara
penyajian bahan pelajaran
Karena aktivitas
belajar murid disekolah berada di pengawasan guru, maka guru mempunyai peran
penting dalam pelaksanaan pembelajaran. Guru sangat menentukan proses
pembelajaran dan hasil pembelajaran bagi siswa dalam lingukngan sekolah.
c)
Lingkungan
Masyarakat
Lingkungan
masyarakat termasuk didalamnya:
·
Teman
bergaul
·
Pola
hidup lingkungan
·
Kegiatan
dalam masyarakat
·
Mass
media
Lingkungan masyarakat
yang merupakan lingkungan sekitar murid memiliki andil dalam proses belajar
murid. Karena murid akan melihat dan mencontoh berbagai hal yang ia lihat dan
temui di lingkungan sekitarnya. Baik postif maupun negatif.
2)
Faktor
Non-Sosial
Faktor
non-sosial dapat dibedakan menjadi:
a)
Prasarana
dan Sarana Pembelajaran
Prasarana pembelajaran meliputi gedung sekolah,
ruang belajar, lapangan olah raga, ruang ibadah, ruang kesenian, dan peralatan
olah raga. Sarana pelajaran meliputi buku pelajaran, buku bacaan, alat, dan
fasilitas laboratorium sekolah, dan seperti media pengajaran lainnya. Hal itu
tidak berarti bahwa lengkapnya prasarana dan sarana menentukan jaminan
terselenggaranya proses belajar yang baik. Dengan tersedianya prasarana dan
sarana belajar berarti menuntut guru dan siswa untuk menggunakannya.
b)
Kebijakan
Penilaian
Proses belajar mencapai puncaknya pada hasil belajar
siswa atau unjuk kerja siswa. Sebagai suatu hasil maka dengan unjuk kerja
tersebut, proses belajar berhenti sementara dan terjadilah penilaian. Penilaian
yang dimaksud adalah penentu sebagai sesuatu dipandang berharga, bermutu, atau
bernilai. Ukuran tentang hal itu berharga, bermutu, atau bernilai datang dari
orang lain. Penentu keberhasilan tersebut adalah gutu. Guru adalah pemegang
kunci pembelajaran. Hasil belajar merupakan proses belajar. Pelaku aktif dalam
belajar adalah siswa. Hasil belajar juga merupakan hasil proses pembelajaran.
Dengan demikian, hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua
sisi, dari sisi siswa, hasil belajar merupakan “tingkat perkembangan mental”
yang lebih baik bila dibandingkan pada saat pra-belajar. Tingkat perkembangan
mental tersebut terwujud pada ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Hal ini
juga terkait dengan tujuan pengajaran. Pada tujuan – tujuan instruksional
khusus mata pelajaran di kelas, peran guru secara profesional bersifat otonom.
Pada tujuan instruksional tahap akhir, yang terkait dengan kenaikan kelas,
muncul urusan kebijakan sekolah. Kebijakan penilaian sekolah tersebut merupakan
kebijakan guru sebagai pengelola proses belajar. Pada tujuan instruksional umum
tingkat sekolah berlaku evaluasi tahap akhir, yang dikenal dengan EBTA atau
hasil EBTANAS.
c)
Kurikulum
Sekolah
Program pembelajaran di sekolah mendasarkan diri
pada suatu kurikulum. Kurikulum yang diberlakukan sekolah adalah kurikulum nasional
yang disahkan oleh pemerintah, atau suatu kurikulum yang disahkan oleh suatu
yayasan pendidikan. Kurikulum sekolah tersebut berisi tujuan pendidikan, isi
pendidikan, kegiatan belajar-mengajar, dan evaluasi. Berdasarkan kurikulum
tersebut guru menyusun desain instruksional untuk membelajarkan siswa. Hal itu
berarti bahwa program pembelajaran di sekolah sesuai dengan sistem pendidikan
nasional.
3.
Kesimpulan
Dalam belajar
terdapat prinsip-prinsip yang harus ada dalam kegiatan belajar. Seperti perhatian
dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung/berpengalaman, pengulangan,
tantangan, balikan dan penguatan, perbedaan individual. Prinsip-prinsip
tersebut yang apabila terpenuhi semuanya tentu dapat membuat kegiatan belajar
terlaksana dengan baik.
Sementara itu,
tidak hanya prinsip belajar, dalam belajar juga terdapat faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi kegiatan belajar. Faktor tersebut ada yang berasal dari
dalam dirinya sendiri seperti faktor fisiologis dan faktor psikologis yang
disebut faktor internal. Selain faktor internal, ada juga faktor eksternal yang
mana merupakan faktor yang berasal dari luar diri siswa. Faktor-faktor tersebut
merupakan hal-hal yang dapat mempengaruhi kegiatan belajar, termasuk proses dan
pada akhirnya berpengaruh terhadap hasilnya.
4.
Daftar
Pustaka
Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan
Pembelajaran. Jakarta: Rieneka Cipta.
Siregar, Eveline dan Hartini Nara. 2007. Buku Ajar Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta:
MKDK FIP UNJ.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar