Search

Kamis, 24 Mei 2012

Gerakan Sosial Dan Pembangunan Politik


GREEN FORCE SEBAGAI ORGANISASI GERAKAN SOSIAL DALAM PEMBANGUNAN POLITIK:
Studi Tentang Gerakan Sosial Dan Pembangunan Politik




Dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Sosiologi Politik




Description: E:\dewi\gambar\1_207686361l.jpg





Disusun oleh:
Kelompok 1
Amsal Armando
Desiati Saputri
Dwi Putri Fauziah
Muh. Rohmadi
Siti Sutianah Dewi
Yudi Rianto





PENDIDIKAN SOSIOLOGI NON REGULER
JURUSAN SOSIOLOGI
FAKULTAAS ILMU SOSIAL
UNIVERITAS NEGERI JAKARTA
2012
PENGANTAR DAN PERMASALAHAN
Pada dasarnya masyarakat bersifat dinamis selalu bergerak berubah mengikuti perkembangan, dengan perubahan itu masyarakat menginginkan suatu perubahan ke arah yang lebih baik dari aspek ekonomi, sosial, budaya maupun politik. Perubahan tersebut di tandai dengan adanya pergerakan yang di tandai dengan pergeseran dari satu titik ke titik tang lain. Faktor pendorong pergerakan ini dapat disebabkan beberapa faktor seperti ketidakpuasan terhadap apa yang telah didapat maupun merasa tertindas atas perlakuan sistem yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Sistem disini dibuat oleh segelincir orang minoritas yang secara kuantitatif lebih sedikit dari pada kaum mayoritas seperti rakyat, sistem ini dibungkus untuk mementigkan kepentingan orang banyak yang berdasarkan UUD namun kenyataannya pihak yang diuntungkan hanyalah orang-orang tertentu.
Hukum yang ada di indonesia belum berjalan sebagaimana mestinya. Hukum di indonesia masih dapat di beli, siapa yang memilki uang dapat membeli hukum disini dapat diketahui banyak sekali elit politik yang terdakwa sebagai pidana korupsi namun dalam menindak lanjutinya tidak sesuai dengan hukum yang berlaku seperti elit politik yang korupsi mengambil uang rakyat bernominal sangat besar namun di kenai denda yang sangat minim tidak sesuai dengan uang yang dia ambil dan dihukum beberapa saat saja, hal ini berbeda dengan ada seseorang yang melakukan hal yang sepele namun dikenakan hukuman yang sangat berat dapat dikatakan hukum di indonesia semakin tajam ke bawah semakin tumpul ke atas. Keadaan demikian lama-lama membuat muak dan habisnya kesabaran rakyat sehingga timbulnya gerakan sosial yang menuntut keadilan yang sama dimata hukum tidak ada perbedaan antara perlakuan yang dapat merugikan segelincir orang maupun banyak orang semuanya harus dilakukan didepan hukum.
Pemuda adalah kata yang tidak asing lagi di telinga kita, pemuda di sini adalah sosok yang mempunyai semangat tinggi berapi-api, seperti yang di katakan oleh bung karno “berikan saya 10 pemuda maka saya akan guncangkan dunia berbeda dengan dia melihat orang tua dia hanya melihat kuburan saja yang terdampar luas” hal ini dapat di ketahui peran pemuda disini sangat besar dalam mengisi kemerdekaan indonesia seperti tumbangnya orde baru oleh mahasiswa yang berkumpul dan mempunyai tujuan yang saman, banyak sekali gerakan-gerakan mahasiswa seperti gerakan intra kampus maupun ekstra kampus, dari intra kampus sendiri ada Bem, Green Force dan gerakan ekstra kampus seperti HMI. Adapun tujuannya sama yaitu memajuakan bangsa dan negara walaupun terbentuk dari latar belakang yang berbeda.


TEORI DAN ANALISIS
Gerakan sosial
Gerakan sosial umumnya didefinisikan sebagai gerakan bersama sekelompok orang atau masyarakat yang terorganisasi tetapi informal bersifat lintas kelompok untuk menentang atau mendesakan perubahan[1]. Green Force adalah sebuah gerakan sosial yang berada dibawah naungan BEM UNJ yang dibentuk pada tahun 2006 setelah sebelumnya bernama Harimau Hijau. Menurut  Gurnadi Ridwan (21) selaku komandan Green Force 2011,  Green Force merupakan organisasi yang bergerak di bidang sosial politik yang bertujuan untuk membentuk kader militan yang peduli terhadap keadaan sosial politik, juga sebagai badan kontrol sosial terhadap dinamika sosial politik serta membentuk komunitas pembangunan.
Sejauh ini gerakan-gerakan sosial yang sudah dilakukan oleh Green Force menyangkut berbagai macam bidang. Diantaranya, pendidikan kader, pendidikan politik untuk civitas akademik lain, mengawasi proses pemilihan umum, mengadakan baki-bakti sosial seperti desa binaan, dan juga melakukan aksi demonstrasi baik lokal, nasional, maupun internal universitas.
Gerakan-gerakan yang telah dilakukan Green Force memiliki beberapa faktor penyebab. Seperti yang dikemukakan oleh Komarudin Sahid dalam bukunya yang berjudul “Memahami Sosiologi Politik”. Gerakan sosial itu disebabkan oleh dua pendekatan[2] yaitu pendekatan mobilisasi sumber daya. Pada pendekatan ini gerakan sosial cenderung dilakukan karena adanya penderitaan deprivasi yaitu kehilangan peluang untuk memenuhi kebutuhan pokoknya di bidang ekonomi seperti pangan, sandang, dan papan. Faktor penyebab Kedua adalah adanya  pendekatan konflik. Jadi maksudnya gerakan sosial itu dilakukan karena adanya kesadaran sosial masyarakat terhadap tindakan pemerintah yang tidak sesuai dengan masyarakat seperti aksi-aksi demonstrasi yang dilakukan Green Force.
Berdasarkan kriteria tipe perubahan yang dikehendaki menurut David Aberle, gerakan-gerakan yang dilakukan Green Force dapat diklasifikasikan sebagai Reformative Movement yaitu yang hendak diubah bukan perseorangan melainkan masyarakat, namun ruang lingkup yang hendak diubah hanya segi-segi tertentu. Sebagai contoh, Green Force melakukan gerakan pencerdasan politik. Seperti yang dikatakan oleh mantan komandan Green Force yaitu Trezadigjaya (22thn) pada 23 April 2012:

“peran-peran vertikal Green Force sendiri sebagai penyalur hasrat dan sosial kontrol mahasiswa dengan demonstrasikah, dengan diskusi politikkah, dan sebagainya. Peran selanjutnya membangun masyarakat yang memiliki kesadaran politik….”

Sedangkan Kornblum membuat klasifikasi gerakan sosial berdasarkan tujuan yang hendak dicapai. Atas dasar kriteria ini, gerakan Green Force dapat dimasukan sebagai gerakan reformis, yaitu gerakan yang hanya bertujuan mengubah sebagian institusi dan nilai.  Jadi gerakan-gerakan sosial ini bukan untuk mengubah seluruh tatanan sosial ataupun  untuk mempertahankan nilai dan institusi yang ada.
Menurut  Diani (2000) dalam Komarudin Sahid, “memahami sosiologi politik” menekankan pentingnya empat unsur utama dalam gerakan sosial[3]. Pertama, jaringan yang kuat tetapi interaksinya bersifat informal atau tidak terstruktur. Dalam Green Force adanya ikatan ide dan komitmen bersama diantara anggota green force meskipun mereka beda divisi. Kedua, ada sharing keyakinan dan solidaritas diantara mereka. Seperti yang diungkapkan oleh Rasyid (20)

“Kita sering ngadain kajian buat pencerdasan biar kita tau kondisi birokrat saat ini atau ga ketinggalan isu..”

Pencerdasan ataupun kajian yang dilakukan oleh Green Force ini juga bertujuan untuk menguatkan solidaritas serta idealisme mereka. Ketiga, ada aksi bersama dengan membawa isu yang bersifat konfliktual, ini berkaitan dengan penentangan atau desakan terhadap perubahan tertentu. Misalnya seperti aksi demonstrasi penolakan kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu. Keempat, aksi tuntutan itu bersifat kontinu, tetapi tidak terinstitusi dan mengikuti prosedur rutin, seperti dikenal dalam organisasi atau agama. Contohnya gerakan desa binaan Green Force, mereka melakukan kegiatan tersebut secara berkesinambungan.


Gerakan Sosial dalam Perspektif Sosiologi
Menurut Mansour Fakih (1996), pespektif gerakan sosial memiliki tiga pendekatan yaitu[4]. Pertama, pendekatan yang melihat gerakan sosial sebagai masalah, atau penyakit kemasyarakatan. Pendekatan ini dikenal dalam teori sosiologi sebagai pendekatan fungsionalis struktural. Fungsionalis melihat masyarakat dan pranata sosial sebagai sistem dimana seluruh bagian saling bergantung satu sama lain dan bekerjasama guna menciptakan keseimbangan. Oleh karena itu, gerakan sosial dalam perspektif struktur fungsionalisme cenderung dilihat sebagai disfungsi, yakni aktivitas yang menimbulkan konflik dan mengganggu keseimbangan. Dalam hal ini gerakan yang dilakukan oleh Green Force seperti aksi demonstrasi menolak kenaikkan BBM. Disfungsi dan konflik yang terjadi disini apabila pemerintah tidak mendengar aksi demonstrasi mereka maka yang terjadi adalah tindakan anarkis yang menyebabkan konflik.
Kedua, pendekatan ini melihat gerakan sosial dari dinamika internal masyarakat atau sebagai saran konstruktif bagi perubahan sosial. Peran Green Force dalam hal ini adalah dengan melakukan kegiatan sosial seperti pembinaan di suatu desa. Ketiga, interaksionisme simbolis melihat aspek budaya dan pertukaran symbol sebagai bagian yang menyemangati perjuangan. Dalam perspektif ini gerakan sosial dipandang sebagai bentuk pertukaran symbol atau makna yang berlangsung terus menerus. Misalnya saja saat Green Force melakukan demonstrasi, spanduk-spanduk dan segala bentuk panji digunakan sebagai simbol atas makna aksi yang mereka jalankan.


Pembangunan Politik Demokrasi
Demokrasi di Indonesia saat ini hanyalah sebuah label. Namun pada kenyataannya, praktek demokrasi di Indonesia tidak bersifat demokratis. Karena  orang-orang yang memiliki kekuasaan itu jumlahnya minoritas, dibandingkan oleh orang-orang yang tidak memiliki kekuasaan sama sekali. Tetapi, minoritas itu mampu menguasai pihak yang mayoritas. Penyelewengan terhadap praktik demokrasi di Indonesia salah satunya ditandai dengan ketidakbebasan individu dalam mendapatkan hak ataupun kewajiban politiknya. Penyelewengan terhadap nilai-nilai deokrasi ini pada akhirnya berujung membuat asyarakat  tidak sejahtera. Untuk itu, saat ini banyak pihak di berbagai Negara yang menggencarkan demokratisasi.
Arti demokratisasi adalah dimana suatu proses menuju suatu demokrasi terdiri atas dua fase, yaitu transisi dan konsolidasi[5]. Transisi meliputi peralihan dari bentuk pemerintahan non-demokrasi ke demokrasi, sedangkan konsilidasi adalah penguatan demokrasi pasca transisi hingga menjadi budaya masyarakat. Dengan keadaan demokrasi Indonesia seperti saat ini, demokratisasi dengan fase konsolidasi nampaknya perlu benar-benar diperhatikan. Untuk itu, Green Force sebagai organisasi yang peduli terhadap keadaan sosial politik Indonesia  juga mengusung pembangunan demokrasi. Salah satu perannya adalah dengan melaksanakan apa yang menjadi salah satu tujuan mereka. Seperti yang dituturkan oleh Eka Chandra (21):

“Green Force sangat berperan penting tehadap pembangunan politik, karena sebagai lembaga agen of change, serta sebagai kontrol sosial mahasiswa terhadap perencanaan pemerintah yang tidak sesuai dengan masyarakat”

Peranan green force dalam pembangunan politik yang telah dilakukan adalah dengan ikut mengawasi kegiatan pemilihan umum di DKI Jakarta. Pengawasan ini dilakukan agar tidak ada kecurangan ataupun hal yang berada di luar aturan kegiatan pemilihan umum dan pemilihan umum berjalan dengan efektif.



[1] Komarudin Sahid, Memahami Sosiologi Politik (Bogor: Ghalia Indonesia , 2011), hlm.  282
[2] Ibid, hlm. 288.
[3] Ibid, hlm. 282.
[4] Ibid, hlm.283.
[5] Ibid, hlm. 306.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar