Search

Senin, 16 September 2013

DUALITAS FUNGSI JEMBATAN PENYEBERANGAN CEMPAKA TIMUR


ANTARA JEMBATAN PENYEBERANGAN DAN PASAR DADAKAN:
DUALITAS FUNGSI JEMBATAN PENYEBERANGAN CEMPAKA TIMUR 


A.      Pengantar
Jembatan penyeberangan yang juga merupakan shelter busway Cempaka Timur, dengan segala kondisi dan kestrategisannya seperti yang sudah dijelaskan pada bab sebelumnya, memanglah menyimpan banyak peluang. Tak heran bila berbagai aktivitas dapat terjadi di atas sebuah jembatan.  Untuk itu, pada bab ini, akan dibahas mengenai dinamika  berlangsungnya fenomena dualitas fungsi jembatan penyeberangan Cempaka Timur. Dimana jembatan saat ini tidak lagi hanya digunakan sebagai media orang menyeberang. Melalui jembatan, juga terdapat aktivitas jual beli berbagai barang. Alhasil, jembatan pun tak ubahnya seperti sebuah pasar. Terus meningkatnya aktivitas jual beli di jembatan juga tidak dapat dipisahkan dari jaringan-jaringan dan hubungan sosial yang berlangsung di antara para pedagang tersebut.
Layaknya sebuah pasar, berjualan di atas jembatan tentu akan mengalami pasang surut. Dalam bab ini pula akan dibahas bagaimana dinamika berjualan yang selama ini dialami oleh para pedagang. Sementara itu, jembatan penyeberangan yang seyogyanya digunakan untuk menyeberang namun kini bertambah menjadi sebuah pasar dadakan, tentu menuai berbagai pendapat dari masyarakat yang menggunakan jembatan penyeberangan. Respon dari masyarakat terhadap keberadaan aktivitas jual beli di jembatan penyeberangan juga akan menjadi bahasan dalam bab ini.

B.       Antara Media Penyeberangan dan Pasar Dadakan
Jembatan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah jalan (dari bambu, kayu, beton, dsb) yang direntangkan di atas sungai (jurang, tepi pangkalan, dsb). Sementara penyeberangan menurut KBBI adalah proses, cara, perbuatan, menyeberang; tempat menyeberang. Dari pengertian ini jelas bahwa jembatan penyeberangan adalah sebuah media yang membantu orang untuk menyeberang. Di perkotaan itu sendiri, jembatan merupakan salah satu fasilitas publik yang cukup vital. Jembatan penyeberangan yang dibuat oleh pemerintah daerah terutama setelah adanya kebijakan terkait produk transportasi baru yaitu busway, membuat peran sebuah jembatan menjadi sangat penting. Pengguna busway yang jumlahnya cukup banyak, apalagi jembatan tersebut menghubungkan antara shelter Cempaka Timur dan shelter Cempaka Mas 2 membuat pengguna jembatan semakin banyak. Belum lagi keberadaan  ITC Cempaka Mas yang merupakan pusat mega grosir terbesar di Jakarta membuat jembatan Cempaka Timur ini tidak pernah mati dari beragam aktivitas.
Banyaknya ruang di perkotaan yang menyimpan beragam potensi dipandang positif oleh para pekerja sektor informal. Jembatan seperti halnya fasilitas di ruang publik lainnya merupakan lahan produktif yang mampu menghasilkan pundi-pundi rupiah. Fenomena berlangsungnya pasar dadakan di jembatan Cempaka Timur, semakin menjamur di setiap harinya. Berdasarkan konsep tindakan ekonomi, dimana apa yang dilakukan oleh aktor, dalam hal ini para pedagang, diusahakan untuk mendapat manfaat dan keuntungan semaksimal mungkin.[1] Para pedagang yang merupakan pelaku ekonomi sektor informal memilih berdagang di atas jembatan dengan berbagai alasan. Alasan utamanya tentu saja utuk mencari nafkah demi mampu subsiten dalam mengarungi kehidupan perkotaan. Para pedagang ini umumnya tidak mampu menjangkau sektor ekonomi formal dikarenakan rendahnya tingkat pendidikan yang dimilikinya. Dari hasil observasi yang dilakukan, rata-rata pedagang hanyalah tamatan Sekolah Menengah Pertama (SMP), bahkan ada juga pedaganga yang sama sekali tidak pernah mengenyam dunia pendidikan. Dengan tingkat pendidikan yang minim serta tidak adanya keterampilan yang dimiliki, menjadikan berdagang adalah satu-satunya pilihan pekerjaan yang dapat dilakukannya.
Para pedagang ini memutuskan untuk berjualan di atas jembatan, lantaran modal yang dimilikinya tidaklah besar. Dengan modal yang sedikit, para pedagang ini tidak mampu menyewa kios atas bahkan berdagang di pusat-pusat perbelanjaan seperti ITC Cempaka Mas itu sendiri. Untuk itu, para pedagang ini akhirnya memilih jembatan sebagai lahan usaha mereka. Dari hasil pengamatan, para pedagang ini memanglah berjualan dengan jumlah barang yang sedikit, yang hanya dijajakan melalui selembar tikar atau di gantung di sisi-sisi jembatan. Para pedagang ini juga kebanyakan memanglah orang-orang yang sudah lama dalam dunia dagang. Misalnya saja Bapak Taufik, lelaki 28 tahun yang kini telah memiliki 2 orang anak. Bapak Taufik sudah berjualan aksesoris handphone selama 2 tahun, namun kini ia beralih menjadi pedagang pencuci tangan instan atau hand sanitizer. Selain itu, strategisnya letak jembatan dan ramainya orang yang berlalu lalang di jembatan dengan berbagai aktivitas, juga menjadi alasan tersendiri mengapa pedagang mau berjualan di jembatan Cempaka Timur tersebut. Selain karena ramainya lokasi jembatan Cempaka Timur, jembatan ini juga dipilih karena dekat dengan tempat tinggal para pedagang misalnya Kodamar, Senen dan sekitar wilyah ITC Cempaka Mas. Alasan tersebut sebagaimana yang disampaikan oleh Damsar, bahwa pemaknaan ruang ekonomi yang strategis bagi para PKL, berkaitan dengan lokasinya, yaitu karena dilalui oleh jalur kendaraan, daerah penghasil dan daerah pemukiman.[2]
Sebagai bagian dari anggota masyarakat yang tinggal di perkotaan, para pedagang ini juga tahu betul seperti apa fungsi jembatan yang sebenarnya. Para pedagang ini juga memahami bahwa aktivitas berdagang yang dilakukannya cukup mengganggu para pengguna jembatan lain. Namun, meski demikian, mau bagaimana lagi bila mereka tidak berjualan. Hingga akhirnya mereka  tetap berjualan di jembatan tersebut karena berbagai keterbatasan yang dimiliki tadi. Seperti misalnya yang diutarakan oleh Bapak Taufik, pedagang asli Bogor yang sudah menetap di Jakarta selama 7 Tahun itu:
“kalo disini kan deket sama rumah...mengganggu sih, tapi ya mau gimana lagi. Jadinya terpaksa jualan walaupun mengganggu yang lewat,  lagian jualan disini lebih banyak dapetnya soalnya”.[3]

Aktivitas di jembatan Cempaka Timur memang selalu ramai. Sama seperti jembatan penyebarangan lainnya, aktivitas orang berlalu laang untuk menyeberang atau pun untuk menggunakan jasa busway menjadi aktivitas utama pada jembatan tersebut. Namun, pemandangan yang berbeda mulai nampak ketika hari beranjak sore. Sekitar pukul 14.30WIB para pedagang mulai berdatangan di jembatan. Mereka mulai mencari posisi masing-masing yang dirasa cukup strategis. Setelah mendapatkan lahan, mereka mulai membuka lapak, memasang terpal, merapikan barang dagangan, menatanya sedemikian rupa hingga siap menjajakan barang dagannya kepada para pengguna jembatan. Begitulah awal mula persiapan mereka berdagang. Satu persatu lapakpun tergelar. Hingga akhirnya, jembatan itu terlihat seperti jalan panjang dengan lapak-lapak yang berisi barang dagangan menghiasi sisi-sisinya. Aktivitas berdagang ini memang baru muncul ketika hari beranjak sore, karena di waktu itulah mereka baru boleh menggelar lapak. Namun, berbeda halnya pada hari sabtu, minggu atau hari libur lainnya. Dimana pada hari-hari tersebut aktivitas jual beli di jembatan seperti itu sudah mulai terlihat sejak dari siang hari.
Selama berjualan, para pedagang ini juga mencoba menggaet konsumen dengan berteriak-teriak menawarkan barang dagangannya. Harga murah meriah menjadi jargon andalan para pedagang dalam menarik perhatian orang yang sedang melintas. Cara tersebut sepertinya memang cukup ampuh. Dari hasil pengamatan penulis, beberapa pengguna jembatan akhirnya menoleh saat para pedagang ini menjajakan barang dagangannya. Ada pengguna jembatan yang hanya menoleh, ada juga yang memerhatikan dengan seksama bahkan mereka berhenti di lapak tersebut dan akhirnya melakukan transaksi jual beli. Harga yang ditawarkan pedagang tersebut memang cukup terjangkau bila dibandingkan dengan tempat-tempat lainnya.
Aktivitas berjualan di jembatan Cempaka Timur ini memang lah sudah menjadi satu fungsi tetap. Rutinnya pedagang-pedagang mendatangi jembatan dan berjualan diatasnya, membuat aktivitas jual beli ini tidak pernah mati. Para pedagang bahkan sudah benar-benar mengangggap bahwa jembatan adalah lahan usaha mereka. Hal ini nampak dari persiapan mereka ketika berdagang, Beberapa lembar tikar atau plastik sebagai alas lapak mereka, terpal sebagai penahan angin, tali yang digunakan pedagang untuk menggantung barang dagangan, menjadi perlengkapan yang selalu dibawa untuk bisa berjualan di jembatan. Bahkan, para pedagang ini masing-masing membawa lampu yang dihubungkan dengan listrik pada jembatan itu yang digunakan saat petang tiba, dimana hari sudah mulai gelap namun lampu jembatan busway itu belum dinyalakan. Baru ketika lampu jembatan sudah dinyalakan, para pedagang akan mematikan lampu yang dibawanya, dan mengandalkan cahaya dari lampu jembatan. Fenomena ini menunjukan kepada kita bahwa para pedagang, dengan segala persiapan dan rutinitas yang dilakukannya, mencoba melegitimisi diri mereka sebagai bagian dari aktivitas sosial yang terjadi di jembatan itu sendiri. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Anthony Giddens: “aktivitas tidak dilakukan oleh aktor sosial namun secara berkelanjutan diciptakan ulang melalui sarana yang mereka gunakan untuk mengekspresikan diri mereka sebagai aktor”.[4]
 Begitulah kondisi di jembatan, dengan rutinitas berjualan yang dilakukan oleh para pedagang, memang telah membuat jembatan ini bertambah fungsinya. Jembatan yang seyogyanya digunakan untuk membantu pejalan kaki menyeberang, namun dalam kenyataannya kini juga dapat membantu orang dalam memenuhi berbagai kebutuhannya. Demikianlah kondisi ruang-ruang publik di perkotaan, selalu mampu dimanfaatkan oleh para pelaku ekonomi.

C.      Jaringan dan Hubungan Sosial Penjual
Bertambahnya fungsi jembatan Cempaka Timur dari yang awalnya hanyalah alat bantu para pejalan kaki untuk menyeberang dan menggunakan busway, hingga kini menjadi lahan subur jual beli, tidak bisa terlepas dari pembicaraan seputar pedagang itu sendiri. Para pedagang yang kini rutin berjualan disini, memiliki beragam sejarah terkait awal mula mereka bisa berjualan di jembatan Cempaka Timur tersebut. Seperti misalnya Bapak Bilal yang sudah berjualan parfum dan belakangan merambah ke aksesoris wanita itu awalnya melihat ada orang yang berjualan di jembatan Cempaka Timur tersebut, kemudian karena keinginannya untuk ikut berjualan disana, dia pun mencoba melakukan pendekatan dengan orang tersebut dan berusaha bersikap baik, hingga akhirnya dia bisa berjualan disana tanpa sungkan.
Beda lagi halnya dengan Bapak Taufik, pedagang asal Bogor tersebut. Menurut penuturannya, awal mula dirinya berjualan di jembatan Cempak Timur adalah karena mendapat informasi dari salah seorang temannya mengenai jembatan di depan ITC Cempaka Mas yang bisa dijadikan lahan berdagang. Karena ketertarikannya, Bapak Taufik pun mendatangi lokasi yang diinformasikan higga akhirnya dia bisa berjualan di jembatan sampai saat ini. Tidak seperti ruang publik yanng mengalami alih fungsi ekonomi pada umumnya, jembatan ITC Cempaka Timur ini tidak memiliki penguasa atau preman khusus yang menarik pungutan bagi para penjual pendatang baru. Hanya saja menurut pengakuan Bapak Taufik, ada salah seorang pedagang yakni Bapak Toyib[5] yang merupakan anggota FBR, cukup disegani karena pernah mengusir salah seorang pedagang baru, yang bertindak tidak sopan daan seenaknya saja.
Karena tidak rumitnya perizinan tidak resmi yang berlaku di jembatan Cempaka Timur ini, hal itu juga yang membuat beberapa pedagang dengan mudah bisa berjualan di wilayah tersebut. Hal ini seperti yang dialami oleh Anjas, pedagang berusia 17 tahun, lulusan SMP yang kini berdagang Hand sanitizer dan Bapak Warno, pedagang Kerupuk asal Grobog, Jawa Tengah yang berusia 35 tahun. Menurut mereka, ketika mereka hendak berjualan di Jembatan Cempaka Timur, mereka langsung saja mencari  lahan yang kosong yang bisa mereka tempati. Hingga kini, bagi para pedagang yang sudah cukup lama berjualan, meski tidak tertulis maupun resmi, mereka sudah memiliki lahan untuk lapaknya masing-masing. Jadi, bagi pendatang baru, mereka biasanya mencari lahan yang kira-kira belum ditempati. Mengenai kemudahan berjualan di jembatan Cempaka Timur tersebut, seperti apa yang telah dituturkan oleh Bapak Warno:
“saya langsung aja mbak, ga pake izin-izin apapun disini. Awalnya saya jualan di Pasar Baru, akhirnya 6 bulan yang lalu pindah kesini[...]yang penting kan kita bersikap baik aja sama yang lain”.[6]

Jembatan Cempaka Timur dengan berbagai kestrategisannya membuat aktivitas berjualan menjadi sangat menghasilkan. Karena alasan tersebut, para pedagang yang sudah berjualan di jembatan itu, kerap memberi informasi untuk berjualan di sana kepada para kerabatnya. Oleh karena itu, ada juga beberapa penjual yang berjualan disana karena informasi dari teman yang sudah lebih dahulu berjualan di jembatan Cempaka Timur tersebut. Untuk itu, tidak heran bila hubungan di antara para penjual, berlangsung cukup baik.
Meski terlibat dalam aktivitas yang sama, belum lagi kehidupan di perkotaan yang dikenal dengan hubungan sosialnya yang sudah impersonal, hal tersebut cukup tidak berlaku bagi para pedagang di jembatan Cempaka Timur ini. Dunia usaha yang kental dengan persaingan, tidak membuat hubungan sosial di antara mereka menjadi renggang. Hal ini terlihat dengan interaksi yang dilakukan oleh para pedagang saat mereka sedang berjualan. Terlebih saat mereka sedang tidak ada pembeli, para pedagang ini dengan akrabnya bercerita satu sama lain. topik pemicaraan pun beragam, mulai dari yang umum seperti informasi usaha, gosip selebriti, hingga yang bersifat lebih pribadi seperti tentang keluarga. Belum lagi, mereka kerap kali bercanda dan tertawa bersama. Keterbukaan para pedagang satu sama lain itu tentunya dapat menunjukan bahwa hubungan sosial yang terjalin di antara mereka cukuplah erat.
Selain itu, mereka juga kerap saling membantu dalam urusan berdagang. Seperti misalnya saat ada pedagang yang baru datang dan tengah menyiapkan barang dagangan. Dikarenakan, lokasi jembatan yang berada di ruang terbuka, para pedagang ini membutuhkan terpal untuk menutupi sisi jembatan agar barang dagangan mereka tidak tertiup angin. Biasanya, pedagang lain akan membantu, karena memasang terpal perlu memanjat sisi pembatas jembatan, setidaknya ini mesti dikerjakan oleh dua orang. Contoh lainnya adalah ketika ada pedagang lain yang karena keperluan tertentu seperti menunaikan ibadah sholat misalnya, merka tidak sungkan untuk menitipkan barang dagangan mereka kepada pedagang lainnya. Sementara itu, pedagang yang dititipkan barang dagangan itu, dengan senang hati menjaga barang dagangannya, dan melayani dengan baik bila ada yang membeli.

Gambar 3.1
Description: E:\SEMESTER 6\MPS\foto\2013-05-30 16.20.39.jpg

Para pedagang yang saling membantu
Sumber: dokumentasi penulis (2013)

Meski pada umumnya para pedagang cukup akrab, bagi pedagang baru seperti Bapak Bapak Warno, beliau hanya cukup akrab dengan pedagang yang kebetulan menggelar lapak di dekat lapak kerupuknya saja, sementara yang lainnya hanya kenal muka saja. Namun, meski begitu Bapak Bapak Warno mengaku hubungannya dengan pedagang lain baik-baik saja dan tidak pernah bermasalah. Selama ini juga beliau tidak pernah mendengar adanya perselisihan di antara para pedagang.
Persaingan di antara para pedagang yang berjualan di jembatan memang dapat dikatakan cukup sehat. Bahkan, begitupula bagi persaingan di antara pedagang yang menjual barang dagangan yang sama. Hubungan para pedagang ini tidak pernah diwarnai dengan perselisihan karena iri hati dan sebagainya. Meski tidak dapat dipungkiri, permasalahan-permasalahan kecil, kerap terjadi. Bagi mereka, rezeki mereka sudah ada Yang Mengatur. Hal ini senada dengan yang disampaikn oleh Bapak Ahmad Bilal.

“persaingan pasti ada, tapi ga pernah sampe gimana-gimana. Ya kita kan percaya bahwa rezeki udah diatur Gusti Allah, jadi kita hanya cukup berusaha. Yang penting kita jualan niatnya ibadah dan lurus-lurus aja, insyaallah rezeki pasti ada”.[7]
    
Sementara itu, meski tidak ada pungli dari pedagang yang dianggap preman, para pedagang ini tetap membayar retribusi untuk berbagai keperluan. Misalnya saja uang kebersihan yang dibayar setiap malam kepada ornag yang mengurusi kebersihan di jembatan itu. Uang kebersihan ini diberikan seikhlasnya saja, biasanya berkisar antara Rp1.000 sampai dengan Rp2.000 setiap harinya. Selain itu, berdasarkan informasi yang penulis peroleh, ada juga pungutan dari petugas Satpol PP sebesar Rp2.000 yang harus dibayarkan 3 kali dalam seminggunya. Ditambah lagi dengan biaya listrik atas lampu yang dibawa oleh para pedagang, dimana pedagang harus membayar biaya lampu sebesar Rp2.000 setiap harinya. Untuk mempermudah, biaya retribusi yang harus dibayarkan para pedagang adalah seperti pada tabel berikut.
Tabel 3.1
Biaya Retribusi yang Harus Dibayar Pedagang
No.
Jenis Retribusi
Biaya
Jumlah per minggu
1.
Kebersihan
Rp1.000-Rp2.000
Rp7.000-Rp14.000
2.
Satpol PP
Rp2.000, 3 kali seminggu
Rp6.000
3.
Biaya Lampu
Rp.2000
Rp14.000
Total biaya retribusi perminggu
Rp27.000-34.000
Sumber: Analisis Data Lapangan (2013)

Biaya retribusi yang harus dibayarkan oleh para pedagang, bukan semata-mata merupakan kewajiban atau bahkan pungutan liar. Lebih dari itu, para pedagang menganggap bahwa biaya retribusi itu, merupakan bentuk saling menghargai dan saling membutuhkan. Biaya retribusi dianggap sebagai bentuk kerjasama, terlebih antara pihak pedagang dengan aparat setempat. Sehingga, para pedagang tidak berkeberatan untuk membayar retribusi, selama ia masih bisa untuk berdagang di jembatan. Bahkan, para pedagang mengaku membayar biaya tersebut tidak saja hanya karena takut tidak bisa berjualan lagi di jembatan, tetapi juga takut terjadi perselisihan yang akan merusak hubungan baik di antara mereka. Seperti yang disampaikan oleh Mas Gofur, laki-laki usia 24 tahun yang menjual anti gores handphone.
“saya sih ga keberatan neng, itungannya ya kita butuh mereka, mereka butuh kita. Sama-sama butuh makan. Lagian kita-kita mah udah kaya sodara aja gitu yah. Malah ga enak kalo ga ngasih. Lagian petugasnya juga banyak yang baik, jadi saya mah ga ada masalah kalo ngasih geh[...]itu kan yang nentuin kita bayar segitu bukan satpol PP atau yang nyapu, tapi segimana ikhlasnya kita-kita aja neng”[8]
               
Karena kesadaran akan saling membutuhkan itulah, para pedagang dengan sukarela membayar uang kepada petugas. Bahkan, besarnya biaya yang retribusi yang diberikan, bukanlah merupakan tarif yang sudah ditentukan oleh baik petugas kebersihan, maupun Satpol PP. Hal tersebut melainkan atas dasar kesepakatan diantara pedagang dan keihklasan hati para pedagang masing-masing seperti yang sudah disampaikan oleh Mas Ghofur. Hubungan sosial yang terjalin di antara para pedagang dan petugas ini, sebagaimana konsep keterlekatan yang dicetuskan oleh Granovetter dimana:
“konsep keterlekatan merupakan tindakan ekonomi yang disituasikan secara sosial dan melekat dalam jaringan sosial personal yang sedang berlangsung di antara para aktor. Ini tidak hanya hanya terbatas terhadap tindakan aktor individual sendiri tetapi juga mencakup perilaku ekonomi yang lebih luas, seperti penetapan harga dan institusi-institusi ekonomi, yang semuanya terpendam dalam satu jaringan hubungan nilai”[9]

            Gambar 3.2

Pola Hubungan dan Interaksi Antara Pengguna Jembatan
Sumber: Analisis Data Lapangan (2013)

Berdasarkan gambar tersebut, terlihat pola hubungan dan interaksi yang berlangsung diantara para aktor dalam alih fungsi jembatan itu. Sedemikian baiknya hubungan sosial yang terjalin, tidak hanya sesama pedagang, tapi juga antara pedagang dengan petugas setempat. Para aktor-aktor dalam ruang ini menyadari betul tugas dan kebutuhan masing-masing. Sehingga, tidak ada yang merasa dirugikan dengan adanya retribusi yang berlaku. Justru, pedagang membayar retribusi itu, untuk menjaga hubungan baik dengan para petugas. Bila hubungan mereka dengan petugas baik, maka mereka bisa berjualan di jembatan. Kemudian, dengan berjualan di jembatan, tentu mereka mampu memenuhi kebutuhan para pembeli dan pedagang akhirnya bisa mendapatkan penghasilan.
D.      Dinamika Berjualan di Ruang Publik
Dalam setiap pekerjaan, tentu tidak selamanya berjalan sesuai dengan kehendak. Ada kalanya berbagai kendala harus dilalui untuk dapat bertahan hidup. Begitupula halnya dengan aktivitas berjualan di sebuah ruang kecil di perkotaan seperti jembatan. Berbeda halnya dengan para pekerja di sektor ekonomi formal yang mayoritas memiliki penghasilan tetap setiap bulannya. Para pedagang di jembatan Cempak Timur ini harus memutar otak lebih keras agar penghasilan yang didapat setiap harinya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Strategisnya lokasi jembatan Cempaka Timur dimana  jembatan ini dilalui oleh banyak orang, tentu berimplikasi kepada penghasilan para pedagang. Hampir setiap hari para pedagang ini memperoleh penghasilan yang cukup. Terutama bila hari sabtu, minggu ataupun hari libur nasional lainnya, pendapatan mereka akan meningkat drastis. Sebenarnya, lokasi jembatan Cempaka Timur ini adalah titik yang sangat bagus sebagai lahan usaha. Hanya saja, peraturan yang berlaku melarang para pedagang ini untuk berjualan sejak dari pagi. Para pedagang ini hanya “dibolehkan” untuk berjualan pada sore hari. Di siang hari, biasanya akan ada petugas Satpol PP yang mensterilisasi kawasan jembatan secara berkala. Sehingga, para pedagang hanya bisa berjualan di jembatan bila hari menjelang sore sampai dengan malam hari.
Selain karena waktu berjualan yang kurang maksimal, cuaca yang tidak menentu merupakan hambatan tersendiri bagi para pedagang. Lapak para pedagang yang tidak permanen dan hanya beralaskan tikar, membuat pedagang harus bisa melindungi barang dagangan dari hujan dan angin. Bahkan, tidak jarang mereka harus menutup lapak mereka dan pulang ke rumah meski baru memulai berjualan.
Gambar 3.3
Pedagang Terpaksa Menutupi Barang Dagangannya
Description: E:\SEMESTER 6\MPS\foto\2013-05-30 16.49.44.jpg
 














Sumber: Dokumentasi Penulis (2013)
Meski mengalami berbagai kendala, namun para pedagang ini tetaplah bertahan untuk berjualan di jembatan. Hal tersebut lantaran penghasilan yang diperoleh dengan berjualan cukup mumpuni. Para pedagang di jembatan Cempaka Timur ini setidaknya mampu mendapatkan penghasilan sebesar Rp50.000 per harinya. Bahkan banyak pedagang yang mendapat penghasilan lebih besar dari itu. Namun, bagi Bapak Warno yang menjadi pemasok kerupuk dan juga menjual kerupuk itu sendiri, mengaku penghasilannya berkurang semenjak berjualan di jembatan Cempaka Timur. Sebelumnya, ia berjualan di Pasar baru dengan harga yang lebih tinggi. Semenjak pindah ke jembatan Cempaka Timur, ia harus menurunkan harga agar kerupuk yang dijualnya tetap laku. Para pedagang yang berjualan di jembatan Cempaka Timur ini memang harus mengatur harga menjadi lebih murah bila dibandingkan dengan tempat lain seperti ITC Cempaka Mas itu sendiri. Untuk itu, para pedagang disini hanya mendapat untung kecil dari setiap produk yang terjual. Berikut merupakan tabel yang memuat  penghasilan beberapa orang pedagang di jembatan Cempaka Timur.

Tabel 3.2
Penghasilan Beberapa Pedagang
No.
Nama
Produk yang Dijual
Penghasilan Kotor Perhari
1.       
Ahmad Bilal
Parfum dan aksesoris wanita
Rp100.000 – Rp200.000
2.       
Anjas
Hand sanitizer
Rp250.000 – Rp500.000
3.       
Warno
Kerupuk
Rp200.000 – Rp400.000
4.       
Gofur
Anti Gores
Rp100.000 – Rp250.000
5.       
Taufik
Hand sanitizer
Rp800.000 – Rp1.000.000
6.       
Nani
Sandal dan Sepatu
Rp300.000 – Rp600.000
Sumber: Analisis Data Lapangan (2013)

            Hubungan pedagang dengan petugas satpol PP memang bisa dikatakan cukup baik, namun bukan berarti hal tersebut menjadi kendala bagi para pedagang. Terkadang, memang pernah beberapa kali dilakukan penertiban secara mendadak oleh aparat pemerintah daerah Jakarta. Para pedagang yang tidak mengetahui bahwa akan ada penertiban oleh aparat pemerintah daerah terpaksa harus membubarkan lapak mereka. Selain itu juga pernah terjadi beberapa kali penertiban yang dilakukan oleh Satpol PP, dilakukan hingga sore hari. Hal ini tentu membuat pedagang tidak bisa segera membuka lapak mereka.

E.       Pandangan Pengguna Jembatan terhadap Dualisme Fungsi Jembatan
Jembatan sebagai salah satu ruang publik di perkotaan, memiliki fungsi penting bagi masyarakat. Dalam hal ini para pejalan kaki dan pengguna busway. Seiring berjalannya waktu, jembatan kini telah beralih fungsi, tidak lagi semata sebagai media untuk membantu menyeberang, namun juga sebagai lahan produktif dalam menghasilkan uang. Penambahan aktivitas lain yang dilakukan di jembatan selain untuk menyeberang, tentu memiliki dampak yang dirasa oleh pengguna jembatan pada umumnya.
Fungsi jembatan yang seharusnya untuk menyeberang, sementara saat  ini juga digunakan untuk berjualan, dirasa tidak pantas oleh sebagian masyarakat. Bagi beberapa masyarakat yang menggunakan jembatan penyeberangan untuk menyeberang, merasa bahwa pemandangan seperti ini dapat memperburuk potret kota Jakarta. Jembatan penyeberangan memanglah tidak diperuntukan bagi aktivitas jual beli, maka wajar saja rasanya bila keberadaan pedagang kaki lima di jembatan Cempaka Timur, dirasa cukup mengganggu aktivitas jembatan yang notabene adalah untuk orang menyeberang. Dari hasil pengamatan penulis,  ada beberapa penyeberang yang terlihat risih dan mengeluhkan tentang keberadaan para pedagang kaki lima tersebut. Tidak jarang, selintingan-selintingan miring terlontar dari mulut para penyeberang.
Kondisi jembatan yang sempit, dan kini dengan adanya  para pedagang yang membuat jembatan menjadi lebih sempit, cukup menghambat orang untuk lalu lalang di jembatan. Bayangkan saja, jembatan Cempaka Timur yang kira-kira bisa dilalui oleh 4 jalur pejalan kaki, hanya bisa dilewati satu sampai dua jalurnya saja, sementara jalur lainnya dipenuhi oleh lapak para pedagang. belum lagi, ramainya orang yang berhenti di satu lapak pedagang, semakin membuat kerumunan di jembatan. Hal ini membuat para pejalan kaki harus mengantri ketika  hendak menyeberang. Terlebih bila di jam atau hari tertentu, dimana keramaian di atas jembatan Cempaka Timur meningkat dua kali lipat. Seperti yang terlihat pada gambar berikut.

            Gambar 3.4

Potret Keramaian Jembatan Menghambat Penyeberang Jalan

Sumber: Dokumentasi Penulis (2013)

Alih fungsi jembatan penyeberangan ini bagaikan dua sisi mata uang yang berlainan. Di satu sisi, ada masyarakat yang menganggap bahwa keberadaan pedagang di jembatan ini dirasa mengganggu dan menghambat mereka ketika menyeberang. Sementara di sisi lain, ada masyarakat yang menanggapi positif mengenai dualitas fungsi halte dan keberadaan para pedagang di jembatan. Seperti yang diungkapkan oleh Susanti,  seorang pengguna jembatan yang berusia 23 tahun.
“emang sih agak ga pantes diliatnya, tapi ya mereka juga butuh makan kan. Lebih baik jualan meskipun di jembatan deh daripada nganggur[...]pernah beberapa kali beli di sini. Kaya kalung, sepatu karet sama headset. Lumayan harganya lebih murah dibanding yang di dalem, jadi nguntungin kan”.[10]
    
Keberadaan para pedagang di jembatan, dianggap menguntungkan juga bagi beberapa masyarakat dalam memenuhi berbagai kebutuhan. Harga yang terjangkau dan kemudahan mendapatkan barang, menjadi nilai tambah mengapa beberapa anggota masyarakat suka membeli barang di jembatan Cempaka Timur ini. Prinsip sama-sama diuntungkan, agaknya itulah yang menjadi alasan mengapa aktivitas jual beli di jembatan bisa terjadi. Masih rutinnya aktivitas berdagang yang dilakukan hingga saat ini, setidaknya menunjukan bahwa animo masyarakat untuk membeli barang yang dijual di jembatan masih cukup tinggi.

F.       Kesimpulan
Jembatan Cempaka Timur dengan segala kestrategisan yang dimiliki, memicu para pelaku sektor ekonomi informal untuk mengoptimalkan fungsi jembatan tersebut. Jembatan pun kini tidak hanya sebagai tempat orang menyeberang, melainkan juga tempat orang berbelanja. Kemudahan pedagang untuk memasuki wilayah jembatan Cempaka timur dan menjadi bagian dari para pedagang di dalamnya, membuat jumlah pedagang semakin lama semakin menjamur. Meskipun ada sejumlah retribusi yang dibayarkan oleh para pedagang, tidak membuat pedagang enggan untuk kembali berjualan di atas jembatan Cempaka Timur. Justru, retribusi itu dianggap sebagai salah satu bentuk menjaga hubungan baik dengan pihak terkait. Semakin menigkatnya jumlah pedagang, hal itu tidak membuat persaingan di antara mereka menjadi sengit. Sebagai sesama pedagang, persaingan sehat menjadi yang prioritas. Untuk itu, tidak mengherankan bila hubungan yang terjalin di antara para pedagang, berlangsung dengan cukup baik.
Sementara persaingan yang terjadi di antara para pedagang tidaklah menimbulkan masalah yang berarti, namun bukan berarti aktivitas berjualan yang dilakukan tidak menemui kendala. Persoalan cuaca yang tidak menentu serta penertiban yang mendadak merupakan contoh dari hambatan para pedagang yang berakibat pada minimnya pendapatan mereka. Permasalahan lain ialah kondisi jembatan yang bukanlah sebagai lokasi ideal sebuah tempat jual beli, mengundang beragam reaksi dari para pengguna jembatan. Ada yang merasa terganggu oleh keberadaan pedagang-pedagang di Jembatan. Namun, ada pula yang merasa terbbantu dengan hadirnya pedagang di jembatan yang menyediakan berbagai kebutuhan masyarakat dengan harga yang ekonomis.




[1] Sukidin, Sosiologi Ekonomi, (Jember: Center for Society Studies, 2009), hlm.13.
[2] Damsar, Sosiologi Ekonomi, (Jakarta: Prenada Media Grup , 2009) hlm. 119.
[3] Wawancara pada Bapak Taufik pada 30 Mei 2013.
[4] George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern:Edisi Terbaru, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2011), hlm. 569.
[5] Nama disamarkan
[6] Wawancara terhadap bapak Warno pada 30 Mei 213.
[7] Wawancara kepada Bapak Ahmad Bilal pada 30 Mei 2013.
[8] Wawancara dengan Mas Gofur, pada 6 Juni 2013.
[9] Sukidin, op.cit., hlm. 133.
[10] Wawancara dengan Susanti yang dilakukan pada 3 Juni 2013.