Search

Kamis, 24 Mei 2012

FAKTOR BELAJAR


PRINSIP BELAJAR:
FAKTOR-FAKTOR DALAM BELAJAR


Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas Teori Belajar Pembelajaran


logoUNJ



Disusun oleh:
Kelompok 4
Haolongan Lubis
Sielviana
Siti Sutianah Dewi



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI
JURUSAN SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2012
A.    TUJUAN PEMBELAJARAN
1.      Tujuan Pembelajaran Umum
Mahasiswa mampu menjelaskan mengenai prinsip dan faktor-faktor yang mempengaruhi dalam kegiatan belajar.
2.      Tujuan Pembelajaran Khusus
a. Mahasiswa mampu mendeskripsikan prinsip-prinsip belajar.
b. Mahasiswa mampu menjelaskan faktor internal belajar.
c.Mahasiswa mampu mengklasifikasikan faktor eksternal yang mempengaruhi belajar.

B.     DESKRIPSI MATERI
1.      Materi Pokok: Prinsip Belajar
2.      Sub materi Pokok: Prinsip belajar dan faktor-faktor dalam  belajar

C.    URAIAN
1.      Pendahuluan
a.       Latar Belakang
Dalam kegiatan belajar, terdapat berbagai prinsip yang mutlak ada dalam kegiatan yang melibatkan siswa tersebut. Prinsip-prinsip itu perlu diketahui guna memperlancar proses belajar sehingga hasil belajar mencapai titik optimal. Pada kegiatan belajar dan mengajar di sekolah juga akan  ditemukan dua subjek, yaitu siswa dan guru. Dalam kegiatan belajar, siswalah yang memegang peranan penting. Dalam proses belajar itu sendiri kita menemukan tiga tahap penting, yaitu sebelum belajar, proses belajar dan sesudah belajar. Ketiga kegiatan itu tentu tidak terjadi begitu saja tanpa ada alasan dan dukungan faktor-faktor dalam belajar. faktor-faktor tersebut tentu memegang peranana penting dalam kegiatan belajar.

b.      Rumusan Masalah
1)      Apa saja yang termasuk prinsip-prinsip belajar?
2)      Apa saja faktor internal yang mempengaruhi belajar?
3)      Apa faktor eksternal yang mempengaruhi belajar?
c.       Tujuan Penulisan
1) Mahasiswa mampu mendeskripsikan prinsip-prinsip belajar.
2) Mahasiswa mampu menjelaskan faktor internal belajar.
3)Mahasiswa mampu mengklasifikasikan faktor eksternal yang mempengaruhi belajar.

2.      Pembahasan
Prinsip-prinsip Belajar
Banyak teori-teori dan prinsip-prinsip belajar yang di kemukakan oleh para ahli yang memiliki persamaan dan perbedaan. Beberapa prinsip yang relative yang berlaku di umum dalam upaya pembelajaran, baik bagi siswa yang perlu meningkatkan mengajarnya. Prinsip itu berkaitan dengan perhatian, motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung/berpengalaman, pengulangan tantangan, balikan dan penguatan, serta perbedaan individual.
a. Perhatian dan Motivasi
Kajian teori belajar pengolahan informasi terungkap bahwa tanpa adanya perhatian tak mugkin terjadi belajar (Gage dan Berliner, 1984; 335). Motivasi mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar, karena motivasi yang menggerakan dan mengarahkan aktivitas seseorang. Motivasi dapat merupakan tujuan dan alat pembelajaran. Sebagai tujuan, motivasi meruapakan salah satu tujuan dalam mengajar. Motivasi merupakan salah satu alat factor seperti hanya intelegensi dan hasil belajar sebelumya yang menentukan keberhasilan belajar siswa dalam bidang pengetahuan, nilai-nilai, dan keterampilan.

b. Keaktifan
Psikologi dewasa menganggap bahwa anak adalah makhluk yang aktif. Belajar hanya mungkin terjadi apabila anak aktif mengalami sendiri. John Dewey misalnya mengemukakan, bahwa belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri, maka inisiatif harus datang dari siswa sendiri. Guru hanya sekedar pembimbing dan pengarah.
Menurut teori kognitif, belajar menunjukan adanya jiwa yang sangat aktif, jiwa mengolah informasi yang kita terima. Anak memiliki sifat aktif, konstruktif, dan mampu merencanakan sesuatu untuk mencari, menemukan, dan menemukan pengetahuan yang telah di perolehnya. Dalam proses belajar mengajar anak mampu mengidentifikasikan, merumuskan masalah, mencari dan menemukan fakta, menganalisis menafsirkan, dan menarikan kesimpulan.

c.       Keterlibatan langsung/Berpengalaman
Edgar Dale dalam penggolongannya pengalaman belajar yang dituangkan dalam kerucut pengalamannya mengemukakan bahwa belajar yang paling baik adalah belajar melalui pengalaman langsung. Belajar harus dilakukan oleh siswa secara aktif, baik individual, maupun kelompok, dengan cara memecahkan masalah (problem solving).guru bertindak sebagai motivasi dan fasilitator.

d.      Pengulangan
Belajar yang menekankan perlunya pengulangan barangkali yang paling tua adalah dikemukakan oleh teori psikologi daya. Dengan mengadakan pengulangan maka daya tersebut akan berkembang. Seperti halnya pisau yang trus diasah akan menjadi tajam, maka daya-daya yang dilatih dengan pengadaan pengulangan-pengulangan akan menjadi sempurna.
Teori yang menekankan prinsip pengulangan adalah teori Psikologi Asosiasi atau Koneksionisme dengan tokoh yang terkenal Thomdike. Pada teori koneksionisme, belajar adalah pembentukan hubungan stimulus dan respon  maka psiokologi conditioning respons akan timbul bukan hanya stimulus, tetapi juga oleh stimulus yang dikondisikan.
Pentingnya prinsip pengulangan dalam belajar walaupun dengan tujuan yang berbeda-beda. Yang pertama pengulangan untuk melatih daya-daya jiwa, sedangkan yang kedua dan ketiga pengulangan untuk membentuk respons yang benar dan membnetuk kebiasaan-kebiasaan.

e.       Tantangan
Teori Medan (Field Theory) dari Kurt Lewin yang mengemukakakn bahwa siswa dalam situasi belajarberada dalam suatu medan atau lapangan psikologis. Tantangan yang dihadapi dalam bahan belajar membuat siswa bergairah mengatasinya. Bahan belajar yang baru, yang mengandung masalah yang dipecahkan membuat siswa tertantang untuk mempelajarinya. Pelajaran yang memberikan kesempatan pada siswa untuk memnemukan konsep-konsep, prinsip-prinsip dan generalisi tersebut.
Penggunaan metode eksperimen, inkuiri, diskoveri juga memberikan tantangan bagi siswa untuk belajar lebih giat dan sungguh-sungguh. Penguatan positif maupun negative akan menantang siswa dan menibulkan motif untuk memperoleh ganjaran agar terhindar dari hokum yang tidak menyenangkan.

f.       Balikan dan Penguatan
Prinsip belajar yang berkaitan dengan balikan dan penguatan terutama ditekankan oleh teori belajar Operant Conditioning dari B.F. Skinner. Kunci dari teori belajar ini adalah Law of effect-nya Thomdike. Siswa akan belajar lebih semangat apabila mengetahui dan mendapatkan hasil yang baik, maka hasil yang baik akan merupakan balikan yang menyenangkan dan berpengaruh baik bagi usaha belajar selanjutnya.Jika siswa belajar dengan sungguh-sungguh itu mendorong untuk mendapatkan nilai yang baik pada saat ulangan dan akan belajar lebih giat lagi. Nilai yang baik merupakan operant conditioning atau penguatan positif.

g.      Perbedaan Individual
Tiap siswa memiliki perbedaan satu dengan yang lain. Perbedaan itu terdapat pada karateristik psikis, kepribadadian, dan sifat-sifatnya. System pendidikan klasikal yang dilakukan di sekolah kurang memperhatikan masalah perbedaan individual, umumnya pelaksanaan pembelajaran di kelas dengan melihat siswa sebagai individu dengan kemampuan rata-rata, kebiasaan yang kurang lebih sama, demikian pula dengan pengetahuannya.

Faktor-faktor dalam Belajar
Belajar sangat dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu faktor internal dan eksternal.
a.       Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor yang timbul dari dalam diri siswa, baik kondisi jasmani maupun rohani siswa. Faktor internal dibedakan menjadi faktor fisiologis dan faktor psikologis (Eveline Siregar dan Hartini Nara, 2007: 163)

1)      Faktor Fisiologis.
Faktor fisiologis adalah suatu kondisi yang berhubungan dengan kesehatan jasmani seseorang (Eveline Siregar dan Hartini Nara, 2007: 163). Misalnya tentang fungsi organ-organ, dan susunan tubuh yang dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. Faktor fisiologis yang dapat mempengaruhi  belajr siswa dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu:
a)      Tonus (kondisi) badan
kondisi jasmani pada umunya dapat dikatakan melatarbelakangi kegiatan belajar. Sehubungan dengan keadaan/kondisi jasmani tersebut, maka ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
·         Cukupnya nutrisi (nilai makanan dan gizi)
Tubuh yang kekurangan gizi makanan, akan mengakibatkan merosotnya kondisi jasmani. Sehingga, menyebabkan seseorang dalam kegiatan belajarnya menjadi cepat lesu, mengantuk, dan tidak ada semangat untuk belajar. Pada akhirnya siswa tidak dapat mencapai hasil belajar yang diharapkan.
·         Beberapa penyakit ringan yang diderita
Dapat berupa pilek, sakit gigi, batuk dan lain sejenisnya. Semua itu tentu akan memepengaruhi hasil belajra siswa

Berdasarkan penjelasan tersebut dapat terlihat bahwa kondisi badan seseorang sangat berpengaruh terhadap kegiatan belajarnya. Bila kondisi jasmaninya dalam keadaan sehat dan baik, maka kegiatan belajar dapat dilakukan dengan baik. Siswa tentu akan lebih mudah mengikuti proses belajar bila tidak dalam keadaan sakit. Untuk itu, bagi siswa yang sedang sakit dianjurkan beristirahat dulu sampai sembuh agar siswa tersebut dapat kembali mengikuti kegiatan belajar dengan baik.
b)      Keadaan fungsi-fungsi fisiologis tertentu
keadaan fungsi jasmani tertentu yang dapat mempengaruhi kegiatan belajar disini adalah fungsi-fungsi panca indera. Panca indera yang memegang peranan penting disini adalah mata dan telinga. Apabila mekanisme mata dan telinga kurang berfungsi, maka tanggapan yang disampaikan guru tidak mungkin dapat diterima oleh anak didik dengan optimal. Jadi, siswa tidak dapat menerima dan memahami bahan-bahan pelajaran, baik yang langsung disampaikan guru maupun dari bahan buku bacaan.
             Dapat disimpulkan bahwa fungsi panca indera sangat berpengaruh dalam kegiatan belajar, karena ia dapat memahami bahan ajar melalui penglihatan dan pendengarannya. Untuk itu, bagi sesorang yang fungsi panca inderanya mengalami maslah seperti tuna netra atau tuna rungu, biasanya disekolahkan di sekolah-sekolah khusus, karena metode pembelajarnnya juga berbeda dan khusus sesuai dengan kebutuhan mereka.

2) Faktor Psikologis
Faktor psikologis adalah suatu kondisi yang berhubungan dengan keadaan kejiwaan siswa.Faktor psikologis dapat dibedakan menjadi:

a) Bakat
Bakat adalah kemampuan potensial yang dimiliki anak untuk mencapai keberhasilan(Eveline Siregar dan Hartini Nara, 2007: 164). Bakat anak akan mulai tampak sejak ia dapat berbicara atau masuk Sekolah Dasar (SD). Bakat yang dimiliki oleh anak tidak sama. Bakat akan mempengaruhi tinggi rendahnya prestasi belajar bidang-bidang studi tertentu.

Karena bakat setiap anak berbeda, maka kemampuannya berbeda pula. Seseorang yang memiliki bakat tertentu biasanya memiliki prestasi yang lebih tinggi dibanding anak yang lainnya. Bakat ini biasanya merupakan bawaan lahiriah, namun apabila bakat tidak dikembangkan dengan baik bukan hal yang tidak mungkin jika bakat tersebut mulai berkurang atau hilang sama sekali. Untuk itu, bakat anak tidak hanya perlu disadari tapi juga dikembangkan dan difasilitasi perkembangannya.


b) Minat
Minat adalah kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar untuk sesuatu(Eveline Siregar dan Hartini Nara, 2007: 164). Dalam minat, ada dua hal yang harus diperhatikan:
·         Minat Pembawaan
Minat ini muncul dengan tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor lain, baik kebutuhan maupun lingkungan.
·           Minat yang muncul karena adanya pengaruh dari luar.
Minat seseorang bisa saja berubah karena adanya pengaruh lingkungan dan kebutuhan. Spesialisasi bidang studi yang menarik minat seseorang akan dapat dipelajari dengan sebaik-baiknya. Sebaliknya, jika bidang studi yang tidak sesuai dengan minatnya, tidak mempunyai daya tarik baginya.
Dalam kegiatan belajar, minat juga memiliki peran yang penting, karena anak akan belajar apabila ia tertarik dan mau mempelajarinya. Bila ia sudah tertarik atau mempunyai minat pada mata pelajaran tertentu, ia akan mempelajarinya dengan baik dan tentu berimbas pada hasil yang baik juga.
Karena minat tidak semuanya bawaan, maka tugas seorang guru salah satunya adalah mengarahkan minat siswa. Contohnya, bila ada siswa yang tidak minat mempelajari tema konflik sosial dalam mata pelajaran Sosiologi, maka guru harus bisa membuat anak tersebut tertarik dan mau mempelajarinya dengan cara dilakukan metode yang menarik, misalnya melakukan sosiodrama tentang konflik  yang melibatkan siswa.

c) Intelegensi
intelegensi adalah kemampuan psiko-fisik untuk  mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat (Eveline Siregar dan Hartini Nara, 2007: 164). Kemampuan dasar yang tinggi pada anak, memungkinnya dapat menggunakan pikirannya untuk belajar dan memecahkan persoalan-persoalan baru secara tepat, cepat dan berhasil. Sebaliknya, tingkat kemampuan dasar yang rendah dapat mengakibatkan murid mengalami kesulitan dalam belajar.
      dapat kami tarik kesimpulan bahwa tingkat intelegensi sesorang berbeda-beda, salah satunya ditunjukan dengan cepat atau lambatnya seseorang menangkap pelajaran yang dibedakan. Hal ini juga berpengaruh dalam kegiatan belajar, bila anak memiliki tingkat penangkapan belajar yang cepat tentu proses belajar juga selesai dengan optimal.

d) Motivasi
Motivasi adalah keadaan internal manusia yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Fungsi motivasi adalah mendorong seseorang untuk interest pada kegiatan yang akan dikerjakan, menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai, dan mendorong seseorang untuk pencapaian prestasi. (Eveline Siregar dan Hartini Nara, 2007: 165). Yakni dengan adanya motivasi yang baik dalam belajar, akan menunjukan hasil belajar yang baik. Motivasi dapat dibedakan menjadi:
·         motivasi intrinsik, yaitu motivasi yang berasal dari  dalam individu tanpa adanya pengaruh dan rangsangan dari luar.
·         motivasi ekstrinsik, yaitu motivasi yang berasal dari luar individu. Misalnya pemberian pujian, pemberian nilai sampai pada pemberian hadiah dan faktor-faktor eksternal lainnya yang memiliki daya dorong motivasional.

Motivasi merupakan aspek yang juga sangat cukup penting, karena motivasi akan memberikan semangat dan dorongan pada sesorang yang akan belajar. motivasi juga dapat membuat anak mengetahui apa tujuannya belajar sehingga orientasi belajarnya tepat dan jelas. Karena motivasi tidak hanya berupa motivasi intrinsik, pengembangan motivasi ekstrinsik juga perlu dilakukan. Orang tua, guru, dan lingkungan sosial lainnya harus mampu memberikan motivasi kepada sesorang yang belajar agar ia semangat dan bersungguh-sungguh dalam kegiatan belajarnya sehingga hasil belajar yang di dapat juga optimal.



e) Sikap terhadap Belajar
Sikap merupakan kemampuan memberikan penilaian tentang sesuatu, yang membawa diri sesuai dengan penilaian. Adanya penilaian tentang sesuatu, mengakibatkan terjadinya sikap menerima, menolak, atau mengabaikan. Sikap menerima, menolak, atau mengabaikan suatu kesempatan belajar merupakan urusan pribadi siswa. Akibat penerimaan, penolakann, atau pengabaian kesempatan belajar tersebut akan berpengaruh pada perkembangan kepribadian. Oleh karena itu, ada baiknya siswa mempertimbangkan matang – matang akibat sikap terhadap belajar.
Sikap sesorang dalam belajar akan mempengaruhi kegiatan dan hasil belajar. karena biasanya, bila siswa yang sikapnya sangat memperhatikan belajar akan berbeda dengan siswa yang lebih sering tidak memerhatikan atau mengabaikan belajar baik dalam kegiatannya maupun pada hasilnya.

f) Konsentrasi Belajar
Konsentrasi belajar merupakan kemampuan memusatkan perhatian pada pelajaran. Pemusatan perhatian tersebut tertuju pada isi bahan belajar maupun proses memperolehnya. Untuk memperkuat perhatian pada pelajaran, guru perlu menggunakan bermacam – macam strategi belajar, dan memperhitungkan waktu belajar serta selingan istirahat.
Maka dapat kami simpulkan bahwa konsentrasi belajar adalah faktor yang penting dalam kegiatan belajar, karena konsentrasi belajar tentu dapat berpengaruh terhadp fokus belajar siswa. Konsentrasi ini juga  dapat fiperoleh dari berbagai hal, misalnya lingkungan belajar yang kondusif, siswa tidak memiliki beban atau maslah dan lainnya.

g) Mengolah Bahan Belajar
Mengolah bahan belajar merupakan kemampuan siswa untuk menerima isi dan cara pemerolehan ajaran sehingga menjadi bermakna bagi siswa. Isi bahan belajar berupa pengetahuan, nilai kesusilaan, nilai agama, nilai kesenian, serta keterampilan mental dan jasmani. Kemampuan menerima isi dan cara pemerolehan dapat dikembangkan dengan belajar berbagai mata pelajaran. Kemampuan siswa mengolah bahan tersebut menjadi makin baik, bila siswa berpeluang aktif belajar.
h) Menyimpan Perolehan Hasil Belajar
Menyimpan perolehan hasil belajar merupakan kemampuan untuk menyimpan isi pesan dan cara perolehan pesan. Kemampuan menyimpan tersebut dapat berlangsung dalam waktu pendek dan waktu yang lama. Kemampuan menyimpan dalam waktu pendek berarti cepat dilupakan. Kemampuan menyimpan dalam waktu lama berarti hasil belajar tetap dimiliki siswa. Pemilikan itu dalam waktu bertahun – tahun, bahkan sepanyang hayat.

i)        Menggali Hasil Belajar yang Tersimpan
Menggali hasil belajar yang tersimpan merupakan proses mengaktifkan pesan yang telah diterima. Dalam hal pesan baru, maka siswa akan memperkuat pesan dengan cara mempelajarinya kembali, atau mengaitkannya dengan bahan yang lama. Dalam hal pesan lama, maka siswa akan memanggil atau membangkitkan kembali pesan dan pengalaman lama untuk suatu proses hasil belajar. Proses menggali pesan lama dapat berwujud: transfer belajar atau unjuk prestasi belajar.
Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa proses penggalian hasil belajar juga memepengaruhi belajar.menggali hasil belajar ini ditunjukan dengan usaha yang dilakukan seseorang dalam mengingat kembali hasil belajar yang ia dapat. Semakin sering atau rutin seseorang menggali hasil belajar, tentuu ia akan semakin ingat dan tidak mudah lupa, karena terus dilakukan berulang-ulang.

j)        Kemampuan Berprestasi atau Unjuk Hasil Belajar
Kemampuan berprestasi atau unjuk hasil belajar merupakan suatu puncak proses belajar. Pada tahap ini siswa membuktikan keberhasilan belajar. Siswa menunjukkan bahwa ia telah mampu memecahkan tugas-tugas belajar atau mentransfer hasil belajar. Dari pengalaman sehari-hari di sekolah diketahui bahwa ada sebagian siswa tidak mampu berprestasi dengan baik. Kemampuan berprestasi tersebut terpengaruh oleh proses-proses penerimaan, pengaktifan, pra-pengolahan, pengolahan, penyimpanan, serta pemanggilan untuk pembangkitkan pesan dan pengalaman.
Dari penjelasan diatas, dapat kami ringkas bahwa kemampuan berprestasi setiap anak berbeda-beda. Ada anak yang senang menunjukan hasil belajarnya ada juga yang biasa saja. Unjuk hasil belajar ini dapat dicontohkan seperti diskusi dengan teman, mengerjakan kedepan kelas dan lain-lain.

k)      Rasa Percaya Diri Siswa
Rasa percaya diri timbul dari keinginan mewujudkan diri bertindak dan berhasil. Dari segi perkembangan, rasa percaya diri dapat timbul berkat adanya pengakuan dari lingkungan. Dalam proses belajar diketahui bahwa unjuk prestasi merupakan tahap pembuktian “perwujudan diri” yang diakui oleh guru dan rekan siswa. Makin sering berhasil menyelesaikan tugas, maka semakin memperoleh pengakuan umum, dan rasa percaya diri pun semakin kuat. Hal yang sebaliknya dapat terjadi. Kegagalan yang berulang kali dapat menimbulkan rasa tidak percaya diri. Bila rasa tidak percaya diri sangat kuat, maka diduga siswa akan menjadi takut belajar. Rasa takut belajar tersebut terjalin secara komplementer dengan rasa takut gagal lagi. Gejala ini merupakan masalah pembelajaran diri yang musykil. telah berhasil.
Kesimpulannya, seseorang memiliki tingkat percaya diri yang berbeda. Orang yang percaya diri, dalam beljarnya juga akan berbeda dengan orang yang kurang percaya diri. Sikap percaya diri mampu membuat seseoang mau belajar dan meningkatkan belajarnya. Bila orang yang kurang percaya diri maka ia cenderung menganggap dirinya tidak mampu sehingga tidak mempunyai daya semangat dalam belajar.

l)        Kebiasaan Belajar
Dalam kegiatan sehari – hari ditemukan adanya kebiasaan belajar yang kurang baik. Kebiasaan belajar tersebut antara lain : belajar pada akhir semester, belajar tidak teratur, menyianyiakan kesempatan belajar, bersekolah hanya untuk bergengsi, datang terlambat, bergaya pemimpin, bergaya jantan seperti merokok, sok menggurui teman lain, dan bergaya minta “belas kasihan” tanpa belajar.
Kebiasaan belajar sesorang akan berpengaruh dalam belajar, karena kebiasaan belajar yang baik tentu akan membuat proses dan hasil belajar yang baik, begitupula sebaliknya.

b.      Faktor Eksternal
Faktor-faktor ekstern tersebut adalah sebagai berikut :
1)        Faktor Sosial
Faktor Sosial  dibagi menjadi beberapa lingkungan, yaitu:
a)      Lingkungan Keluarga
Lingkungan keluarga termasuk didalamnya:
·      Orang tua
·      Suasana rumah
·      Kemampuan ekonomi keluarga
·      Latar belakang kebudayaan
Lingkungan keluarga menjadi faktor eksternal yang amat sangat penting, karena keluarga merupakan agen sosial primer bagi seseorang, dimana internalisasi dan sosialisasi awal terjadi pada lingkungan ini.
b)      Lingkungan Guru
Termasuk didalamnya:
·      Interaksi guru dan murid
·      Hubungan antarmurid
·      Cara penyajian bahan pelajaran
Karena aktivitas belajar murid disekolah berada di pengawasan guru, maka guru mempunyai peran penting dalam pelaksanaan pembelajaran. Guru sangat menentukan proses pembelajaran dan hasil pembelajaran bagi siswa dalam lingukngan sekolah.
c)      Lingkungan Masyarakat
Lingkungan masyarakat termasuk didalamnya:
·      Teman bergaul
·      Pola hidup lingkungan
·      Kegiatan dalam masyarakat
·      Mass media
Lingkungan masyarakat yang merupakan lingkungan sekitar murid memiliki andil dalam proses belajar murid. Karena murid akan melihat dan mencontoh berbagai hal yang ia lihat dan temui di lingkungan sekitarnya. Baik postif maupun negatif.

2)        Faktor Non-Sosial
Faktor non-sosial dapat dibedakan menjadi:
a)      Prasarana dan Sarana Pembelajaran
Prasarana pembelajaran meliputi gedung sekolah, ruang belajar, lapangan olah raga, ruang ibadah, ruang kesenian, dan peralatan olah raga. Sarana pelajaran meliputi buku pelajaran, buku bacaan, alat, dan fasilitas laboratorium sekolah, dan seperti media pengajaran lainnya. Hal itu tidak berarti bahwa lengkapnya prasarana dan sarana menentukan jaminan terselenggaranya proses belajar yang baik. Dengan tersedianya prasarana dan sarana belajar berarti menuntut guru dan siswa untuk menggunakannya.

b)      Kebijakan Penilaian
Proses belajar mencapai puncaknya pada hasil belajar siswa atau unjuk kerja siswa. Sebagai suatu hasil maka dengan unjuk kerja tersebut, proses belajar berhenti sementara dan terjadilah penilaian. Penilaian yang dimaksud adalah penentu sebagai sesuatu dipandang berharga, bermutu, atau bernilai. Ukuran tentang hal itu berharga, bermutu, atau bernilai datang dari orang lain. Penentu keberhasilan tersebut adalah gutu. Guru adalah pemegang kunci pembelajaran. Hasil belajar merupakan proses belajar. Pelaku aktif dalam belajar adalah siswa. Hasil belajar juga merupakan hasil proses pembelajaran. Dengan demikian, hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi, dari sisi siswa, hasil belajar merupakan “tingkat perkembangan mental” yang lebih baik bila dibandingkan pada saat pra-belajar. Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Hal ini juga terkait dengan tujuan pengajaran. Pada tujuan – tujuan instruksional khusus mata pelajaran di kelas, peran guru secara profesional bersifat otonom. Pada tujuan instruksional tahap akhir, yang terkait dengan kenaikan kelas, muncul urusan kebijakan sekolah. Kebijakan penilaian sekolah tersebut merupakan kebijakan guru sebagai pengelola proses belajar. Pada tujuan instruksional umum tingkat sekolah berlaku evaluasi tahap akhir, yang dikenal dengan EBTA atau hasil EBTANAS.

c)      Kurikulum Sekolah
Program pembelajaran di sekolah mendasarkan diri pada suatu kurikulum. Kurikulum yang diberlakukan sekolah adalah kurikulum nasional yang disahkan oleh pemerintah, atau suatu kurikulum yang disahkan oleh suatu yayasan pendidikan. Kurikulum sekolah tersebut berisi tujuan pendidikan, isi pendidikan, kegiatan belajar-mengajar, dan evaluasi. Berdasarkan kurikulum tersebut guru menyusun desain instruksional untuk membelajarkan siswa. Hal itu berarti bahwa program pembelajaran di sekolah sesuai dengan sistem pendidikan nasional.

3.      Kesimpulan
Dalam belajar terdapat prinsip-prinsip yang harus ada dalam kegiatan belajar. Seperti perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung/berpengalaman, pengulangan, tantangan, balikan dan penguatan, perbedaan individual. Prinsip-prinsip tersebut yang apabila terpenuhi semuanya tentu dapat membuat kegiatan belajar terlaksana dengan baik.
Sementara itu, tidak hanya prinsip belajar, dalam belajar juga terdapat faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kegiatan belajar. Faktor tersebut ada yang berasal dari dalam dirinya sendiri seperti faktor fisiologis dan faktor psikologis yang disebut faktor internal. Selain faktor internal, ada juga faktor eksternal yang mana merupakan faktor yang berasal dari luar diri siswa. Faktor-faktor tersebut merupakan hal-hal yang dapat mempengaruhi kegiatan belajar, termasuk proses dan pada akhirnya berpengaruh terhadap hasilnya.

4.      Daftar Pustaka
Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rieneka Cipta.
Siregar, Eveline dan Hartini Nara. 2007. Buku Ajar Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: MKDK FIP UNJ.

Gerakan Sosial Dan Pembangunan Politik


GREEN FORCE SEBAGAI ORGANISASI GERAKAN SOSIAL DALAM PEMBANGUNAN POLITIK:
Studi Tentang Gerakan Sosial Dan Pembangunan Politik




Dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Sosiologi Politik




Description: E:\dewi\gambar\1_207686361l.jpg





Disusun oleh:
Kelompok 1
Amsal Armando
Desiati Saputri
Dwi Putri Fauziah
Muh. Rohmadi
Siti Sutianah Dewi
Yudi Rianto





PENDIDIKAN SOSIOLOGI NON REGULER
JURUSAN SOSIOLOGI
FAKULTAAS ILMU SOSIAL
UNIVERITAS NEGERI JAKARTA
2012
PENGANTAR DAN PERMASALAHAN
Pada dasarnya masyarakat bersifat dinamis selalu bergerak berubah mengikuti perkembangan, dengan perubahan itu masyarakat menginginkan suatu perubahan ke arah yang lebih baik dari aspek ekonomi, sosial, budaya maupun politik. Perubahan tersebut di tandai dengan adanya pergerakan yang di tandai dengan pergeseran dari satu titik ke titik tang lain. Faktor pendorong pergerakan ini dapat disebabkan beberapa faktor seperti ketidakpuasan terhadap apa yang telah didapat maupun merasa tertindas atas perlakuan sistem yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Sistem disini dibuat oleh segelincir orang minoritas yang secara kuantitatif lebih sedikit dari pada kaum mayoritas seperti rakyat, sistem ini dibungkus untuk mementigkan kepentingan orang banyak yang berdasarkan UUD namun kenyataannya pihak yang diuntungkan hanyalah orang-orang tertentu.
Hukum yang ada di indonesia belum berjalan sebagaimana mestinya. Hukum di indonesia masih dapat di beli, siapa yang memilki uang dapat membeli hukum disini dapat diketahui banyak sekali elit politik yang terdakwa sebagai pidana korupsi namun dalam menindak lanjutinya tidak sesuai dengan hukum yang berlaku seperti elit politik yang korupsi mengambil uang rakyat bernominal sangat besar namun di kenai denda yang sangat minim tidak sesuai dengan uang yang dia ambil dan dihukum beberapa saat saja, hal ini berbeda dengan ada seseorang yang melakukan hal yang sepele namun dikenakan hukuman yang sangat berat dapat dikatakan hukum di indonesia semakin tajam ke bawah semakin tumpul ke atas. Keadaan demikian lama-lama membuat muak dan habisnya kesabaran rakyat sehingga timbulnya gerakan sosial yang menuntut keadilan yang sama dimata hukum tidak ada perbedaan antara perlakuan yang dapat merugikan segelincir orang maupun banyak orang semuanya harus dilakukan didepan hukum.
Pemuda adalah kata yang tidak asing lagi di telinga kita, pemuda di sini adalah sosok yang mempunyai semangat tinggi berapi-api, seperti yang di katakan oleh bung karno “berikan saya 10 pemuda maka saya akan guncangkan dunia berbeda dengan dia melihat orang tua dia hanya melihat kuburan saja yang terdampar luas” hal ini dapat di ketahui peran pemuda disini sangat besar dalam mengisi kemerdekaan indonesia seperti tumbangnya orde baru oleh mahasiswa yang berkumpul dan mempunyai tujuan yang saman, banyak sekali gerakan-gerakan mahasiswa seperti gerakan intra kampus maupun ekstra kampus, dari intra kampus sendiri ada Bem, Green Force dan gerakan ekstra kampus seperti HMI. Adapun tujuannya sama yaitu memajuakan bangsa dan negara walaupun terbentuk dari latar belakang yang berbeda.


TEORI DAN ANALISIS
Gerakan sosial
Gerakan sosial umumnya didefinisikan sebagai gerakan bersama sekelompok orang atau masyarakat yang terorganisasi tetapi informal bersifat lintas kelompok untuk menentang atau mendesakan perubahan[1]. Green Force adalah sebuah gerakan sosial yang berada dibawah naungan BEM UNJ yang dibentuk pada tahun 2006 setelah sebelumnya bernama Harimau Hijau. Menurut  Gurnadi Ridwan (21) selaku komandan Green Force 2011,  Green Force merupakan organisasi yang bergerak di bidang sosial politik yang bertujuan untuk membentuk kader militan yang peduli terhadap keadaan sosial politik, juga sebagai badan kontrol sosial terhadap dinamika sosial politik serta membentuk komunitas pembangunan.
Sejauh ini gerakan-gerakan sosial yang sudah dilakukan oleh Green Force menyangkut berbagai macam bidang. Diantaranya, pendidikan kader, pendidikan politik untuk civitas akademik lain, mengawasi proses pemilihan umum, mengadakan baki-bakti sosial seperti desa binaan, dan juga melakukan aksi demonstrasi baik lokal, nasional, maupun internal universitas.
Gerakan-gerakan yang telah dilakukan Green Force memiliki beberapa faktor penyebab. Seperti yang dikemukakan oleh Komarudin Sahid dalam bukunya yang berjudul “Memahami Sosiologi Politik”. Gerakan sosial itu disebabkan oleh dua pendekatan[2] yaitu pendekatan mobilisasi sumber daya. Pada pendekatan ini gerakan sosial cenderung dilakukan karena adanya penderitaan deprivasi yaitu kehilangan peluang untuk memenuhi kebutuhan pokoknya di bidang ekonomi seperti pangan, sandang, dan papan. Faktor penyebab Kedua adalah adanya  pendekatan konflik. Jadi maksudnya gerakan sosial itu dilakukan karena adanya kesadaran sosial masyarakat terhadap tindakan pemerintah yang tidak sesuai dengan masyarakat seperti aksi-aksi demonstrasi yang dilakukan Green Force.
Berdasarkan kriteria tipe perubahan yang dikehendaki menurut David Aberle, gerakan-gerakan yang dilakukan Green Force dapat diklasifikasikan sebagai Reformative Movement yaitu yang hendak diubah bukan perseorangan melainkan masyarakat, namun ruang lingkup yang hendak diubah hanya segi-segi tertentu. Sebagai contoh, Green Force melakukan gerakan pencerdasan politik. Seperti yang dikatakan oleh mantan komandan Green Force yaitu Trezadigjaya (22thn) pada 23 April 2012:

“peran-peran vertikal Green Force sendiri sebagai penyalur hasrat dan sosial kontrol mahasiswa dengan demonstrasikah, dengan diskusi politikkah, dan sebagainya. Peran selanjutnya membangun masyarakat yang memiliki kesadaran politik….”

Sedangkan Kornblum membuat klasifikasi gerakan sosial berdasarkan tujuan yang hendak dicapai. Atas dasar kriteria ini, gerakan Green Force dapat dimasukan sebagai gerakan reformis, yaitu gerakan yang hanya bertujuan mengubah sebagian institusi dan nilai.  Jadi gerakan-gerakan sosial ini bukan untuk mengubah seluruh tatanan sosial ataupun  untuk mempertahankan nilai dan institusi yang ada.
Menurut  Diani (2000) dalam Komarudin Sahid, “memahami sosiologi politik” menekankan pentingnya empat unsur utama dalam gerakan sosial[3]. Pertama, jaringan yang kuat tetapi interaksinya bersifat informal atau tidak terstruktur. Dalam Green Force adanya ikatan ide dan komitmen bersama diantara anggota green force meskipun mereka beda divisi. Kedua, ada sharing keyakinan dan solidaritas diantara mereka. Seperti yang diungkapkan oleh Rasyid (20)

“Kita sering ngadain kajian buat pencerdasan biar kita tau kondisi birokrat saat ini atau ga ketinggalan isu..”

Pencerdasan ataupun kajian yang dilakukan oleh Green Force ini juga bertujuan untuk menguatkan solidaritas serta idealisme mereka. Ketiga, ada aksi bersama dengan membawa isu yang bersifat konfliktual, ini berkaitan dengan penentangan atau desakan terhadap perubahan tertentu. Misalnya seperti aksi demonstrasi penolakan kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu. Keempat, aksi tuntutan itu bersifat kontinu, tetapi tidak terinstitusi dan mengikuti prosedur rutin, seperti dikenal dalam organisasi atau agama. Contohnya gerakan desa binaan Green Force, mereka melakukan kegiatan tersebut secara berkesinambungan.


Gerakan Sosial dalam Perspektif Sosiologi
Menurut Mansour Fakih (1996), pespektif gerakan sosial memiliki tiga pendekatan yaitu[4]. Pertama, pendekatan yang melihat gerakan sosial sebagai masalah, atau penyakit kemasyarakatan. Pendekatan ini dikenal dalam teori sosiologi sebagai pendekatan fungsionalis struktural. Fungsionalis melihat masyarakat dan pranata sosial sebagai sistem dimana seluruh bagian saling bergantung satu sama lain dan bekerjasama guna menciptakan keseimbangan. Oleh karena itu, gerakan sosial dalam perspektif struktur fungsionalisme cenderung dilihat sebagai disfungsi, yakni aktivitas yang menimbulkan konflik dan mengganggu keseimbangan. Dalam hal ini gerakan yang dilakukan oleh Green Force seperti aksi demonstrasi menolak kenaikkan BBM. Disfungsi dan konflik yang terjadi disini apabila pemerintah tidak mendengar aksi demonstrasi mereka maka yang terjadi adalah tindakan anarkis yang menyebabkan konflik.
Kedua, pendekatan ini melihat gerakan sosial dari dinamika internal masyarakat atau sebagai saran konstruktif bagi perubahan sosial. Peran Green Force dalam hal ini adalah dengan melakukan kegiatan sosial seperti pembinaan di suatu desa. Ketiga, interaksionisme simbolis melihat aspek budaya dan pertukaran symbol sebagai bagian yang menyemangati perjuangan. Dalam perspektif ini gerakan sosial dipandang sebagai bentuk pertukaran symbol atau makna yang berlangsung terus menerus. Misalnya saja saat Green Force melakukan demonstrasi, spanduk-spanduk dan segala bentuk panji digunakan sebagai simbol atas makna aksi yang mereka jalankan.


Pembangunan Politik Demokrasi
Demokrasi di Indonesia saat ini hanyalah sebuah label. Namun pada kenyataannya, praktek demokrasi di Indonesia tidak bersifat demokratis. Karena  orang-orang yang memiliki kekuasaan itu jumlahnya minoritas, dibandingkan oleh orang-orang yang tidak memiliki kekuasaan sama sekali. Tetapi, minoritas itu mampu menguasai pihak yang mayoritas. Penyelewengan terhadap praktik demokrasi di Indonesia salah satunya ditandai dengan ketidakbebasan individu dalam mendapatkan hak ataupun kewajiban politiknya. Penyelewengan terhadap nilai-nilai deokrasi ini pada akhirnya berujung membuat asyarakat  tidak sejahtera. Untuk itu, saat ini banyak pihak di berbagai Negara yang menggencarkan demokratisasi.
Arti demokratisasi adalah dimana suatu proses menuju suatu demokrasi terdiri atas dua fase, yaitu transisi dan konsolidasi[5]. Transisi meliputi peralihan dari bentuk pemerintahan non-demokrasi ke demokrasi, sedangkan konsilidasi adalah penguatan demokrasi pasca transisi hingga menjadi budaya masyarakat. Dengan keadaan demokrasi Indonesia seperti saat ini, demokratisasi dengan fase konsolidasi nampaknya perlu benar-benar diperhatikan. Untuk itu, Green Force sebagai organisasi yang peduli terhadap keadaan sosial politik Indonesia  juga mengusung pembangunan demokrasi. Salah satu perannya adalah dengan melaksanakan apa yang menjadi salah satu tujuan mereka. Seperti yang dituturkan oleh Eka Chandra (21):

“Green Force sangat berperan penting tehadap pembangunan politik, karena sebagai lembaga agen of change, serta sebagai kontrol sosial mahasiswa terhadap perencanaan pemerintah yang tidak sesuai dengan masyarakat”

Peranan green force dalam pembangunan politik yang telah dilakukan adalah dengan ikut mengawasi kegiatan pemilihan umum di DKI Jakarta. Pengawasan ini dilakukan agar tidak ada kecurangan ataupun hal yang berada di luar aturan kegiatan pemilihan umum dan pemilihan umum berjalan dengan efektif.



[1] Komarudin Sahid, Memahami Sosiologi Politik (Bogor: Ghalia Indonesia , 2011), hlm.  282
[2] Ibid, hlm. 288.
[3] Ibid, hlm. 282.
[4] Ibid, hlm.283.
[5] Ibid, hlm. 306.