KOMUNITAS DESA
PANONGAN TANGERANG:
Oleh:
Siti
Sutianah Dewi[2]
4815107144
ABSTRAK
Di tangan developer swasta,
pembangunan sebuah kawasan mampu berkembang dengan pesatnya. Pembangunan oleh
developer swasta inilah yang juga hendak dikaji pada tulisan ini. Dimana
kemajuan pembangunan sebuah kawasan oleh sebuah developer swasta mampu
menggerakan perubahan di daerah sekitarnya, itulah yang terjadi di Desa
Panongan Kecamatan Panongan, Tangerang-Banten.
Pengantar
Tulisan
ini akan membahas mengenai
sebuah fenomena perubahan sosial yang terjadi di Desa
Panongan, Kecamatan
Panongan Kabupaten Tangerang Provinsi Banten. Perubahan sosial yang terjadi di
Panongan ini dikarenakan berkembangnya daerah sekitar Panongan oleh developer swasta yakni pembangunan kawasan Citra Raya
sehingga semakin banyaknya orang bemigrasi ke Panongan dengan berbagai alasan.
Misalnya saja karena semakin meningkatnya fasilitas publik serta tersedianya
berbagai macam pekerjaan yang ada di Panongan maupun di daerah sekitar Panongan
yang turut memicu kemajuan pesat perkembangan Desa Panongan itu sendiri.
Hasil tulisan ini akan diuraikan dalam beberapa bagian. Pertama, pengantar terkait dengan gambaran awal tentang tuisan
ini untuk memudahkan pembaca dalam membaca tulisan ini. Kedua,
penulis akan mendeskripsikan wilayah Desa Panongan serta menyajikan informasi
secara singkat terkait konteks historis dan geografis Desa Panongan. Ketiga, penulis akan menggambarkan keadaan masyarakat Desa Panongan
beberapa tahun lalu hingga saat ini dilihat dari segi fisik maupun sosialnya
sehingga akan terlihat perbedaan-perbedaannya. Kelima, penulis akan menjelaskan proses transformasi Desa Panongan
yang disebabkan oleh suburbanisasi pada Citra Raya sebagai driving force[3] perubahan
sehingga menjadi Desa Panongan seperti sekarang ini. Terakhir, penulis akan mengakhiri tulisan ini dengan menyajikan
kesimpulan pada bagian penutup.
Konteks
Historis dan Geografis Desa Panongan
Desa Panongan merupakan sebuah desa
yang terletak di Kecamatan Panongan Kabupaten Tangerang Provinsi Banten.
Sebelum menjadi sebuah kecamatan, Panongan dulunya masih menjadi bagian dari
kecamatan Cikupa. Panongan itu sendiri baru ditetapkan menjadi sebuah kecamatan
ketika disahkannya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 1999
Tentang Pembentukan 14 (Empat Belas) Kecamatan Di Wilayah Kabupaten Daerah
Tingkat II
Serang, Tangerang, Pandeglang, Bogor, Subang, Karawang, Ciamis Dan Majalengka
Dalam Wilayah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat. Yang
menyatakan bahwa Panongan menjadi sebuah kecamatan yang meliputi wilayah:
a. Desa Panongan;
b. Desa Mekarbakti;
c. Desa Ciakar;
d. Desa Peusar;
e. Desa Ranca Kalapa;
f. Desa Ranca Iyuh;
g. Desa Serdang Kulon;
h. Desa Mekarjaya.
Adapun gambaran umum wilayah
Kecamatan Panongan adalah sebagai berikut:
1. Luas
Wilayah Desa Panongan: 464 Ha.
2. Batas – batas wilayah :
2. Batas – batas wilayah :
a.
Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Ciakar
b.
Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Serdang
Kulon
c. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Ranca Kalapa
d. Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Ranca Kalapa
c. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Ranca Kalapa
d. Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Ranca Kalapa
3. Jumlah
Dusun: 5 Dusun,
5. Jumlah RW: 3 dan jumlah RT: 46
5. Jumlah RW: 3 dan jumlah RT: 46
Gambar 1: Peta Wilayah Kecamatan Panongan
Sumber: www.google.com
![]() |
Berdasarkan hasil wawancara dengan salah seorang tokoh masyarakat Panongan, yakni Bapak H.Kurtubi (52), nama “Panongan” itu sendiri berasal dari pemberian masyarakat sekitar, baik yang pada saat itu mendiami wilayah Panongan maupun masyarakat dari luar wilayah Panongan. Panongan merupakan peleburan dari kata “panoongan” dalam bahasa Sunda yang artinya “sesuatu yang dilihat”, (“toong”= lihat). Kata panoongan digunakan karena pada masa itu banyak masyarakat yang datang
untuk
melihat berbagai hal dan fenomena unik, langka dan menarik yang terjadi disana.
Misalnya, kejadian pembakaran manusia secara hidup-hidup, proyek Pertamina yang
gagal dilakukan di tengah jalan, sumber mata air yang
keluar dari dalam tanah, dan
berbagai hal lainnya. Banyaknya fenomena unik itu membuat daerah tersebut
menjadi tempat “panoongan” bagi
masyarakat. Karena faktor kemudahan pelafalan, panoongan pun dilebur menjadi Panongan. Sumber lain menyebutkan, Panongan berasal dari bahasa Sunda yaitu noong
yang artinya intai, Panongan berarti tempat pengintaian. Asal kata ini kental
dengan sejarah masyarakat Cina pada zaman penjajahan Belanda dahulu kala.
Struktur Sosial
Masyarakat Desa Panongan
Struktur sosial masyarakat desa Panongan di awal
tahun 2000an, masih bersifat sederhana. Desa Panongan merupakan sebuah desa yang memiliki lahan pertanian dan
peternakan yang cukup luas bila dibandingkan dengan yang lainnya. Area
persawahan dan perkebunan terbentang luas di Desa panongan. Masyarakatnya
juga masih bersifat homogen. Mayoritas penduduknya merupakan
orang “asli” Panongan dari suku sunda. Kebanyakan dari warganya bekerja pada sektor peternakan dan sebagai petani sawah tadah
hujan, dimana mereka menanam padi
ketika musim hujan.
Jumlah rumah penduduk saat itu pun masih terbilang sangat sedikit dan jarak dari satu rumah ke rumah yang lainnya saling
berjauhan. Sementara itu, jalan-jalan di Desa Panongan konturnya masih sangat alami,
sebagian struktur jalannya terbuat dari batu-batu dan ada pula yang terbuat dari tanah-tanah.
Kondisi jalan yang seperti itu, membuat akses jalan
menjadi sulit, karena belum ada banyak angkutan umum yang bisa memudahkan
mobilitas para warga Panongan. Seperti yang dikatakan salah seorang warga
Panongan, Umyati (42).
“atuh dulu mah di sini masih sepi banget de, jalanan setapak doang, banyak pohon-pohonan mana rumah pada jauh. Makanya kalo udah setiap
abis magrib aja sepi, ga ada yang keluar, pada takut soalnya..” (wawancara pada 15 April 2012)
Selain keadaan fisik dan spasial yang relatif sepi, hubungan antarwarga pun masih
terbilang intensif, rata-rata yang mendiami satu wilayah tertentu memiliki hubungan saudara. Dengan demikian,
komunikasi diantara warga pun masih terjalin
sangat
baik dan intensif.
Para warga masih sering berinteraksi satu sama lain karena mereka masih sering berjumpa baik di sawah, di sekitar
rumah ataupun ketika di jalan.
Aktivitas yang tidak terlalu menyita banyak waktu membuat mereka masih sering
berjumpa dan berkomunikasi secara langsung. Masyarakat desa Panongan juga
sering mengadakan acara-acara keagamaan atau tradisi-tradisi bersama.
Masyarakat Panongan rutin mengadakan pengajian di
majlis-majlis ta’lim serta di rumah-rumah salah seorang warga dan biasanya
dihadiri oleh banyak warga. Acara-acara seperti ini menjadi acara yang cukup
difavoritkan para warga, karena acara ini menjadi salah satu ajang silaturrahim
sesama warga. Setiap selesai acara pengajian, para warga yang hadir terutama
kaum lelaki, banyak menghabiskan waktu untuk mengobrol bersama bahkan sampai
tengah malam.
Sementara itu, kepemilikan
lahan cukup tinggi.
Hampir setiap kepala keluarga memiliki
sejumlah lahan yang luas. Keluarga
pada struktur sosial saat itu membeli tanah sebagai persiapan untuk
dibagi-bagikan kepada sanak saudaranya agar ketika nanti meninggal dunia, mereka
dapat mewariskan tanahnya itu untuk keluarganya. Selain karena persiapan untuk
harta waris, kepemilikan lahan yang tinggi itu dikarenakan harga
tanah di tahun 2000an masih
cukup murah yaitu hanya sekitar Rp30.000/m2. Umyati (42) juga menuturkan mengenai
kepemilikan lahan pada saat itu.
“kalo
dulu mah neng yah, ini tanah yang ada disini, di belakang toko matrial ini nih,
itu punya abah ibu semua, akhirnya pas udah meninggal dibagi-bagi ke anaknya,
tapi sekarang udah dijual-jualin. Dulu
mah gampang punya tanah, ibaratnya mah
yah, sekali ngangon aja udah kebeli tanah semeter”. (wawancara pada 15 April
2012)
Menginjak tahun 2003, saat kawasan Citra Raya mulai
membangun perumahan-perumahan dengan lebih banyak variasi lagi, para pendatang
pun mulai berdatangan ke desa Panongan. Orang-orang dari luar daerah tangerang
bahkan di luar Pulau Jawa, mereka berdatangan ke Desa Panongan untuk turut mengadu nasib. Berbagai masyarakat
dengan latar belakang suku, agama, dan lainnya berdatangan dan meramaikan desa
Panongan. Migrasi yang
dilakukan penduduk luar Desa Panongan sangat mempengaruhi komposisi penduduk
desa Panongan itu sendiri dari berbagai aspek. Seperti dari segi agama, bila awal tahun 2000
mayoritas penduduk adalah
agama Islam dan Budha (Konghucu), di tahun-tahun 2005 mulai ada masyarakat
dengan agama Kristen bahkan
Hindu. Dari segi suku dominan, awal tahun 2000 mayoritasnya
masih masyarakat “asli” Panongan bersuku sunda, kini porsi orang “asli”
Panongan setara dengan jumlah penduduk pendatang dari berbagai suku terutama Jawa
dan Batak.
Desa
Panongan pun mengalami kelonjakan penduduk secara drastis. Bahkan, berdasarkan
jumlah penduduk per kecamatan di Kabupaten Tangerang, Kecamatan Panongan
mengalami peningkatan jumlah penduduk yang sangat signifikan. Dari data
peningkatan jumlah penduduk per kecamatan itu dapat ditarik kesimpulan bahwa
desa Panongan yang merupakan bagian dari Kecamatan Panongan, juga turut
mengalami peningkatan jumlah penduduk. Berikut data mengenai jumah penduduk
Desa Panongan dan Kecamatan Panongan.
Tabel 1: Perbandingan Jumlah Penduduk Desa Panongan
TAHUN
|
LAKI-LAKI
|
PEREMPUAN
|
JUMLAH
|
2005
|
1.991
|
1731
|
3.722
|
2012
|
7.965
|
6.925
|
14.890
|
Sumber: Laporan Bulan Umum Desa Panongan
Tabel 2: Perbandingan Jumlah Penduduk Kecamatan Panongan
TAHUN
|
LAKI-LAKI
|
PEREMPUAN
|
JUMLAH
|
2001
|
25.666
|
26.995
|
52.661
|
2005
|
27.807
|
29.228
|
57.034
|
2009
|
36.212
|
34.998
|
71.210
|
Sumber: BPS Kabupaten Tangerang
Berdasarkan
tabel tersebut, peningkatan jumlah penduduk paling drastis yaitu pada rentang
tahun 2005 sampai tahun 2012. Pada awal tahun 2005 itulah pengkotaan Citra Raya
mulai dilakukan. Ini mengindikasikan bahwa Citra Raya memang menjadi daya tarik
utama para migran di sekitar Panongan. Banyaknya masyarakat yang berminat
mendatangi Citra Raya, semakin menambah jumlah penduduk yang akhirnya
memutuskan untuk tinggal di Desa Panongan. Karena bagi
masyarakat pendatang yang tidak mampu menjangkau perumahan di kawasan Citra Raya
sebagai tempat tinggalnya, mereka biasanya beralih dengan membeli tanah atau
mengontrak di daerah Panongan
yang notabene letaknya berdekatan dengan Citra Raya.
Oleh
karena itu, maka di Panongan pun kepemilikan lahan berubah dan
mengalami alih fungsi. Lahan-lahan di
desa Panongan yang awalnya adalah milik penduduk yang dijadikan sebagai tempat
pemukiman, area persawahan serta tanah untuk diwariskan, kini justru banyak
dibeli oleh berbagai pihak industri dan juga pengembang yang tak lain adalah Citra
Raya. Bahkan
kini, di desa Panongan sudah ada
sebuah perumahan yaitu Green Panongan Residence, yang sebagian telah dihuni
oleh beberapa pendatang dan sebagian lagi masih dalam tahap pembangunan oleh
pihak Citra Raya. Karena dalam hal ini, pihak Citra Raya yang melihat bahwa
telah terjadi peningkatan jumlah penduduk di Desa Panongan secara
besar-besaran, menjadikan fenomena tersebut sebagai peluang yang harus
dipergunakan sebaik-baiknya demi melebarkan sayap Citra Raya itu sendiri. Maka
dari itu, Green Panongan Residence pun hadir sebagai tindakan konkret Citra
Raya dalam pengembangan lahan mereka.

Diagram 1: Perbandingan
Kepemilikan Lahan Masyarakat Panongan
Sumber: pengolahan penulis dari
hasil wawancara dengan Staff Desa, H. Didi (29) pada 15 April 2012
Oleh karena desa
Panongan merupakan daerah yang sangat dekat dengan Citra Raya, dalam perluasan
kawasannya, citra raya pun banyak membeli tanah para penduduk desa Panongan.
Harga tanah bahkan sudah meningkat drastis kini menjadi Rp400.000-Rp600.000/m2. Dengan harga tinggi yang ditawarkan Citra Raya dan
pertimbangan bahwa lahan sawah mereka merupakan sawah tadah hujan, dimana
mereka baru akan menanam padi bila musim penghujan tiba maka mereka lebih
memilih untuk menjual tanah tersebut. Sementara itu,
pendatang yang kebanyakan memilih bekerja di kawasan Citra Raya atupun menjadi
karyawan di pabrik-pabrik daerah sekitar Panongan turut mempengaruhi warga
“asli” Panongan untuk beralih profesi. Banyak dari mereka yang akhirnya
meninggalkan lahan pertanian dan peternakan untuk bekerja di pabrik atau sebagai buruh di kawasan Citra Raya. Karena mereka beranggapan bahwa bekerja di pabrik atau
pekerjaan di tempat lainnya merupakan pekerjaan yang lebih baik dan lebih
menguntungkan ketimbang bekerja di sektor pertanian atau peternakan. Salah
seorang petani paruh baya bernama Inah (56) juga menuturkan hal serupa.
”kalo dulu mah neng, ga ditawarin aja banyak yang
mau ngangon[4]
apa nyawah gitu, sekarang mah ditawarin geh pada ga
mau..”
(wawancara pada 15 April 2012)
Gambar 2: Green Panongan
Residence, perumahan baru di Desa Panongan


Sumber: Koleksi Pribadi
Keadaan desa Panongan
saat ini juga mengalami perubahan dari segi interaksi sesama warganya. Karena
para warganya sudah tidak banyak lagi yang bekerja di bidang pertanian, kaum
perempuan pun sudah banyak yang mulai bekerja di luar rumah, maka kini sesama
tetangga pun sudah jarang berkomunikasi, bahkan tidak jarang karena saking terlalu sibuknya, sampai-sampai mereka tidak sempat bertemu dengan
tetangganya seharian penuh. Mereka
berangkat kerja ketika hari masih gelap, dan kembali setelah hari pun menjadi
gelap. Acara-acara keagamaan seperti pengajian rutin di majlis ta’lim pun kini
hampir punah atau tradisi lain pun jarang diiukti lagi secara bersama. Karena
faktor kesibukan, pengajian atau acara-acara lainnya saat ini paling hanya
dihadiri oleh beberapa orang warga yang mayoritas telah berusia lanjut yang
memang pekerjaannya masih sebagai petani atau peternak. Sedangkan yang lainnya
tidak menghadiri acara tersebut lantaran karena masih bekerja ataupun sudah
lelah setelah seharian bekerja. Selain itu, para lelaki yang biasanya mengobrol
smpai larut malam, kini pulang lebih awal karena aktivitas mengaji dan
mengobrol dianggapnya sudah tidak “seru” lagi. Berkurangnya intensitas
interaksi diantara mereka juga terlebih karena tetangga yang bila dahulu masih merupakan
saudara, kini kebanyakan tidak memiliki hubungan persaudaraan sebab saat ini mayoritas merupakan kaum pendatang.
Karena
dasar hubungan antar warga hanya sebatas hubungan ketetanggaan bukan
persaudaraan, maka tingkat individualis pada warga pun kian meningkat. Mereka
jarang terlibat dalam obrolan yang lama dan intensif. Kini, mereka hanya
berinteraksi ketika bertemu di jalan, biasanya saat berangkat atau pulang kerja
saja, itu pun hanya sekedar saling sapa. Kesibukan yang dijalani telah merenggangkan
komunikasi diantara masyarakat komunitas Panongan.
Untuk
mempermudah dalam memahami mengenai perubahan yang terjadi diantara dua
struktur sosial tersebut, berikut disajikan tabel pembandingnya:
Tabel 3: Elemen Pergerakan Struktur Sosial Komunitas Desa
Panongan
INDIKATOR
|
STRUKTUR SOSIAL LAMA
|
STRUKTUR SOSIAL BARU
|
Dasar hubungan antar warga
|
Hubungan saudara dan
ketetenggaan
|
Hubungan ketetanggaan
|
Interaksi sosial
|
Intensif
|
Kurang intens
|
Keadaan pekerjaan
|
Bertani dan berternak
|
Beragam
|
Keadaan agama
|
Islam dan konghucu
|
Beragam
|
Keadaan pemukiman
|
Sangat berjauhan
|
Berdekatan
|
Komposisi suku
|
Didominasi suku sunda
|
Beragam
|
Kepemilikan lahan
|
Didominasi milik penduduk
|
Didominasi banyak pihak
|
Fungsi lahan
|
Pemukiman dan pertanian
|
Pemukiman, pertanian, industri
dan pihak pengembang
|
Akses jalan
|
Sulit
|
Mudah
|
Sumber: hasil ringkasan penulis
Citra Raya Sebagai Motor Driving force Perubahan Sosial
Masyarakat Panongan
Citra Raya merupakan sebuah bagian kawasan yang
dikembangkan oleh Developer swasta ternama dari PT. Ciputra Development Tbk.
Awalnya, sebagian area Citra Raya masuk kedalam wilayah administratif Kecamatan
Panongan, sementara itu sebagian lagi merupakan wilayah Kecamatan Cikupa. Citra
Raya hanya membangun beberapa kavling perumahan-perumahan dan ruko-ruko di awal
tahun 2000an. Citra raya sebagai public
sphere (ruang-ruang terbuka) digunakan oleh masyarakat Panongan dan daerah
sekitarnya untuk menghabiskan waktu bersama keluarga di akhir pekan. Namun saat
ini, Citra Raya gencar melakukan suburbanisasi[5]
sehingga Citra Raya saat ini sudah seperti sebuah kota di tengah desa. Citra
Raya berubah menjadi kota kecil dengan segala fasilitas yang memadai. Segala
jenis perumahan dari yang elit sampai yang sederhana tersedia disana. Ruko-ruko
semakin banyak, sejumlah pusat kuliner, wahana air, wahana olah raga,
pusat-pusat perbelanjaan dan fasilitas lainnya turut melengkapi Citra Raya
sebagai miniatur kota.
Pengkotaan
Citra Raya ini kian memicu pertumbuhan desa-desa sekitarnya terutama Panongan.
Kelengkapan Citra Raya turut mengundang masyarakat luar daerah
berbondong-bondong mendatangi Panongan. Bagi para pendatang yang tidak mampu
menjangkau perumahan di Citra Raya, Panongan pun dipilih sebagai tempat tinggal
mereka lantaran harga yang lebih murah. Lagipula, Panongan merupakan tempat
yang cukup strategis karena berada dekat dengan Citra Raya yang merupakan central point Panongan.
![]() |
Gambar 2: Kawasan Citra Raya Ciputra
Sumber: www.google.com
Melihat peluang dari
banyaknya pendatang, Suburbanisasi pun semakin pesat dilakukan. Citra Raya melebarkan
sayapnya dengan membangun kawasan Citra Raya menjadi sebuah kawasan modern
layaknya kawasan di kota-kota besar. Perubahan di Citra Raya turut berimplikasi
kepada hal-hal lainnya. Semakin
banyaknnya pendatang dan semakin meningkatnya antusiasme masyarakat terhadap
Citra Raya, kebutuhan akses jalan sebagai sarana mobilitas bagi penduduk pun
meningkat. Perbaikan akses jalan pun kian gencar dilakukan, baik oleh pihak Citra Raya maupun inisiatif
dari warga Panongan itu sendiri. Akses jalan Panongan ditingkatkan guna
mempermudah aktivitas warganya, terutama jalur menuju Citra Raya. Kemajuan
dipertambah dengan pembangunan-pembangunan pabrik dan
perusahaan-perusahaan barang ternama yang semakin banyak pula. Hal itu karena mengingat bahwa daerah Cikupa
merupakan jantung industri Kabupaten Tangerang.
Banyaknya pendatang
yang mengadu nasib di wilayah Panongan dan sekitarnya membuat perubahan di
Panongan semakin lama semakin berkembang. Akses jalan yang meningkat telah membuat lahan-lahan
strategis berubah kepemilikan dan fungsi. Tanah-tanah persawahan banyak berubah
menjadi perumahan dan pertokoan. Masyarakat Panongan yang memiliki lahan
terutama di lokasi-lokasi strategis dan yang dekat dengan kawasan Citra Raya,
memilih untuk menjual tanah mereka dengan harga tinggi ke pihak Citra Raya
untuk dikembangkan. Faktor ekonomis jelas menjadi pertimbangan utama mereka. Berkurangnya lahan pertanian, membuat para
petani dan peternak kian berkurang jumlahnya. Mereka sekarang lebih memilih menjadi
karyawan atau buruh industri yang lebih menjanjikan dibandingkan dengan menjadi
petani sawah tadah hujan atau peternak, terlebih cuaca saat ini semakin tidak
menentu.
Pola
hidup masyarakat pun pada akhirnya jelas
mengalami perubahan. Banyaknya toko-toko yang menjual kebutuhan sehari-hari
misalnya kebutuhan pangan, telah membuat masyarakat menjadi konsumtif. Selain
karena banyaknya penjual makanan, kesibukan mereka yang kurang memungkinkan
mereka untuk menyiapkan sendiri membuat tingkat konsumsi makanan di luar pun
meningkat. Selain itu, Citra raya yang memiliki sejumlah pusat perbelanjaan
telah menjadikan masyarakat Panongan sebagai para pemburu mode. Pusat-pusat
perbelanjaan ini ramai dikunjungi masyarakat Panongan setiap harinya terlebih
di akhir pekan. Masyarakat Panongan aktif mengikuti perkembangan trend fashion dan gadget yang ditawarkan di sejumlah pertokoan Citra Raya.
![]() |
Sumber: hasil pengolahan penulis
Penutup
Fenomena
yang terjadi pada komunitas Desa Panongan merupakan realita dari sebuah
perubahan sosial. Diskusi diatas memperlihatkan kepada kita bahwa Desa Panongan
yang dulunya jauh dari keramaian dan kepadatan kini telah menjelma menjadi
sebuah desa yang ramai dan memiliki banyak penduduk. Perubahan sosial yang
terjadi pada komunitas Panongan ini sendiri merupakan hasil dari transformasi
Kawasan Citra Raya yang berada di daerah Panongan menjadi sebuah “kota kecil”
di tengah sederhananya struktur sosial di komunitas Panongan.
Suburbanisasi kawasan Citra Raya di
tangan developer swasta ini telah
menarik minat penduduk luar daerah Panongan untuk bermigrasi ke Desa Panongan
dan menyebabkan kompleksitas pada komunitas Desa Panongan. Banyakanya pendatang
yang ingin menetap di daerah sekitar Citra Raya, membuat permintaan pemukiman
meningkat. Namun bagi masyarakat kelas menengah dan bawah yang tidak mampu
mengakses perumahan di kawasan Citra Raya, mereka akan beralih ke Desa Panongan
dan mengontrak atau membeli tanah di Desa Panongan lantaran harga yang lebih
terjangkau.
Peningkatan jumlah penduduk akibat
pengembangan oleh developer swasta ini
mengakibatkan kebutuhan terhadap akses jalan meningkat. Kemajuan kawasan Citra
Raya juga telah memicu pertumbuhan pabrik dan industri lainnya. Akses mobilitas
pun menjadi lebih mudah. Akses jalan yang memadai membuat lahan-lahan strategis
di Desa Panongan mengalami perubahan kepemilikan lahan dan alih fungsi
terhadapnya. Lahan-lahan di Desa Panongan yang awalnya meruapakan areal
pertanian dan peternakan dan kini menjadi pemukiman atau menjadi milik Citra
Raya telah membuat spesialisasi pekerjaan kian meningkat. Masyarakat desa
Panongan yang awalnya mayoritas merupakan
petani dan peternak kini telah beralih profesi menjadi buruh Citra ataupun
karyawan swasta di pabrik-pabrik.
Spesialisasi pekerjaan yang lebih
kompleks membuat masyarakat Panongan menjadi semakin sibuk. Hal ini berimbas
pada pola hidup dan pola hubungan pada masyarakat tersebut. Kesibukan
masyarakatnya membuat mereka menjadi lebih konsumtif. Interaksi dan komunikasi
yang pada awalnya sangat intensif kini kian merenggang. Namun itu lah perubahan
sosial, selalu menimbulkan konsekuensi di dalamnya. Begitu pula dengan
perubahan sosial pada komunitas Desa Panongan.
[1] Tulisan ini
diajukan sebagai tugas Ujian Tengah Semester dan sebagai rancangan untuk tugas
Ujian Akhir Semester dalam mata kuliah Teori Perubahan Sosial. Puji syukur
kehadirat Allah SWT atas segala kenikmatan dan keberkahan yang luar biasa.
Terimakasih penulis ucapkan kepada Bapak Asep Suryana, M.Si selaku dosen Teori
Perubahan Sosial atas bimbingan dan arahannya. Serta kepada seluruh pihak yang
telah membantu dalam penyusunan tulisan ini.
[2] Mahasiswa
Pendidikan Sosiologi Non-reguler, jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial,
Universitas Negeri Jakarta angkatan 2010.
[5] Proses
pengkotaan di luar wilayah resmi kota, namun masih menginduk pada kota utamanya
itu (Logan, 1992) yang penulis baca dalam “
Terbentuknya Fasilitas Publik: Pasar Kaget di Suburban Cibinong” oleh Diah
Widiastuti.



Trims Info nya... Saya Orang Asli Panongan, dari Ranca Iyuh...
BalasHapusSama-sama, senang berbagi info. Saya dari Desa Panongan.
Hapuswahhh kerennn, mantapp
BalasHapusterima kasih, semoga bermanfaat
HapusPenjelasan tentang panongan cukup menarik. Just Info : Panongan, Ranca Kelapa dan Sekitarnya akan berkembang pesat dalam 5-10 thn kedepan. Kebetulan saya pendatang dari bekasi yang punya sedikit lahan di panongan. Alhamdulillah KTP saya dan istri sdh KTP Panongan,.. Salam kenal untuk temans semua.
BalasHapusAamiin semoga perkembangannya bisa memberi dampak positif. Salam kenal juga.
Hapusada info rumah over kredit di green panongan residen tidak?
BalasHapusnyangkut di sini...sebuah tulisan yang baik...salam kenal dari warga pendatang di citra raya.
BalasHapusterima kasih, semoga bermanfaat. Salam kenal juga.
HapusSalam kenal semua. Kebetulan suami baru menjabat sebagai Komandan Rayon Militer di wilayah Panongan. Sebagai istri saya wajib mendukung tugas suami, bersama dengan istri pejabat Muspika lain kami harus ikut berperan serta membantu memajukan kehidupan masyarakat setempat dalam bidang ekososbud melalui organisasi wanita kami masing2. Oleh sebab dari itu dan mengingat saya pendatang baru, sangat penting bagi saya mengenal Panongan lebih dekat. Iseng saya mencari informasi di google dan sampailah saya di blog ini. Terimakasih, tulisan adik sangat membantu saya memperoleh informasi tentang wilayah Panongan.
BalasHapusTerima kasih Ibu Novi. Semoga kedatangan Bapak dan Ibu sbg Koramil Panongan dapat memberi dampak baik bagi masyarakat.
HapusBuat warga panongan ingat lh kita ini bagian dari darah ungu.jadi selayak nya kita ini adalah pendukung PERSITA TANGERANG
BalasHapusPERSITA HARGA MATI
Keren wi... dewi pasien sy dr kecil hehe. Sy tinggal d paningan sejak 2002. Sekalian promosi😊
BalasHapusmakasih dok, hehe iya nanti aku promosiin dokter termanjur se-panongan raya :D
HapusTerima kasih. Semoga bermanfaat
BalasHapus