Search

Minggu, 20 Mei 2012

PERUBAHAN SOSIAL KOMUNITAS DESA PANONGAN TANGERANG


KOMUNITAS DESA PANONGAN TANGERANG:
SUBURBANISASI CITRA RAYA SEBAGAI  DRIVING FORCE[1]


Oleh:
Siti Sutianah Dewi[2]
4815107144



ABSTRAK
Di tangan developer swasta, pembangunan sebuah kawasan mampu berkembang dengan pesatnya. Pembangunan oleh developer swasta inilah yang juga hendak dikaji pada tulisan ini. Dimana kemajuan pembangunan sebuah kawasan oleh sebuah developer swasta mampu menggerakan perubahan di daerah sekitarnya, itulah yang terjadi di Desa Panongan Kecamatan Panongan, Tangerang-Banten.


Pengantar
Tulisan ini akan membahas mengenai sebuah fenomena perubahan sosial yang terjadi di Desa Panongan, Kecamatan Panongan Kabupaten Tangerang Provinsi Banten. Perubahan sosial yang terjadi di Panongan ini dikarenakan berkembangnya daerah sekitar Panongan oleh developer swasta yakni pembangunan kawasan Citra Raya sehingga semakin banyaknya orang bemigrasi ke Panongan dengan berbagai alasan. Misalnya saja karena semakin meningkatnya fasilitas publik serta tersedianya berbagai macam pekerjaan yang ada di Panongan maupun di daerah sekitar Panongan yang turut memicu kemajuan pesat perkembangan Desa Panongan itu sendiri.
Hasil tulisan ini akan diuraikan dalam beberapa bagian. Pertama, pengantar terkait dengan gambaran awal tentang tuisan ini untuk memudahkan pembaca dalam membaca tulisan ini. Kedua, penulis akan mendeskripsikan wilayah Desa Panongan serta menyajikan informasi secara singkat terkait konteks historis dan geografis  Desa Panongan. Ketiga, penulis akan menggambarkan keadaan masyarakat Desa Panongan beberapa tahun lalu hingga saat ini dilihat dari segi fisik maupun sosialnya sehingga akan terlihat perbedaan-perbedaannya. Kelima, penulis akan menjelaskan proses transformasi Desa Panongan yang disebabkan oleh suburbanisasi pada Citra Raya sebagai driving force[3] perubahan sehingga menjadi Desa Panongan seperti sekarang ini. Terakhir, penulis akan mengakhiri tulisan ini dengan menyajikan kesimpulan pada bagian penutup.

Konteks Historis dan Geografis Desa Panongan
            Desa Panongan merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Panongan Kabupaten Tangerang Provinsi Banten. Sebelum menjadi sebuah kecamatan, Panongan dulunya masih menjadi bagian dari kecamatan Cikupa. Panongan itu sendiri baru ditetapkan menjadi sebuah kecamatan ketika disahkannya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 1999 Tentang Pembentukan 14 (Empat Belas) Kecamatan Di Wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Serang, Tangerang, Pandeglang, Bogor, Subang, Karawang, Ciamis Dan Majalengka Dalam Wilayah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat. Yang menyatakan bahwa Panongan menjadi sebuah kecamatan yang meliputi wilayah:
a.  Desa Panongan;
b.  Desa Mekarbakti;
c.  Desa Ciakar;
d.  Desa Peusar;
e.  Desa Ranca Kalapa;
f.   Desa Ranca Iyuh;
g.  Desa Serdang Kulon;
h.  Desa Mekarjaya.

Adapun gambaran umum wilayah Kecamatan Panongan adalah sebagai berikut:
1. Luas Wilayah Desa Panongan:  464 Ha.
2. Batas – batas wilayah :
a. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Ciakar
b. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Serdang Kulon
c. Sebelah Barat berbatasan dengan
Desa Ranca Kalapa
d. Sebelah Selatan berbatasan dengan
Desa Ranca Kalapa
3. Jumlah Dusun: 5 Dusun,
5. Jumlah R
W: 3 dan jumlah RT: 46





Gambar 1: Peta Wilayah Kecamatan Panongan



Description: F:\kec_panongan.jpg

Berdasarkan hasil wawancara dengan salah seorang tokoh masyarakat Panongan, yakni Bapak H.Kurtubi (52), nama “Panongan” itu sendiri berasal dari pemberian masyarakat sekitar, baik yang pada saat itu mendiami wilayah Panongan maupun masyarakat dari luar wilayah Panongan. Panongan merupakan peleburan dari kata “panoongan” dalam bahasa Sunda yang artinya “sesuatu yang dilihat”, (“toong”= lihat). Kata panoongan digunakan karena pada masa itu banyak masyarakat yang datang
untuk melihat berbagai hal dan fenomena unik, langka dan menarik yang terjadi disana. Misalnya, kejadian pembakaran manusia secara hidup-hidup, proyek Pertamina yang gagal dilakukan di tengah jalan, sumber mata air yang keluar dari dalam tanah, dan berbagai hal lainnya. Banyaknya fenomena unik itu membuat daerah tersebut menjadi tempat “panoongan” bagi masyarakat. Karena faktor kemudahan pelafalan, panoongan pun dilebur menjadi Panongan. Sumber lain menyebutkan, Panongan berasal dari bahasa Sunda yaitu noong yang artinya intai, Panongan berarti tempat pengintaian. Asal kata ini kental dengan sejarah masyarakat Cina pada zaman penjajahan Belanda dahulu kala.


Struktur Sosial Masyarakat Desa Panongan
            Struktur sosial masyarakat desa Panongan di awal tahun 2000an, masih bersifat sederhana. Desa Panongan merupakan sebuah desa yang memiliki lahan pertanian dan peternakan yang cukup luas bila dibandingkan dengan yang lainnya. Area persawahan dan perkebunan terbentang luas di Desa panongan. Masyarakatnya juga masih bersifat homogen. Mayoritas penduduknya merupakan orang “asli” Panongan dari suku sunda. Kebanyakan dari warganya bekerja pada sektor  peternakan dan sebagai petani sawah tadah hujan, dimana mereka menanam padi ketika musim hujan.
Jumlah rumah penduduk saat itu pun masih terbilang sangat sedikit dan jarak dari satu rumah ke rumah yang lainnya saling berjauhan. Sementara itu, jalan-jalan di Desa Panongan konturnya masih sangat alami, sebagian struktur jalannya terbuat dari batu-batu dan ada pula yang terbuat dari tanah-tanah. Kondisi jalan yang seperti itu, membuat akses jalan menjadi sulit, karena belum ada banyak angkutan umum yang bisa memudahkan mobilitas para warga Panongan. Seperti yang dikatakan salah seorang warga Panongan, Umyati (42).

“atuh dulu mah di sini masih sepi banget de, jalanan setapak doang, banyak pohon-pohonan mana  rumah pada jauh. Makanya kalo udah setiap abis magrib aja sepi, ga ada yang keluar, pada takut soalnya..” (wawancara pada 15 April 2012)

Selain keadaan fisik dan spasial yang relatif sepi, hubungan antarwarga pun masih terbilang intensif, rata-rata yang mendiami satu wilayah tertentu memiliki hubungan saudara. Dengan demikian, komunikasi diantara warga pun masih terjalin sangat baik dan intensif. Para warga masih sering berinteraksi satu sama lain  karena mereka masih sering berjumpa baik di sawah, di sekitar rumah ataupun ketika di jalan. Aktivitas yang tidak terlalu menyita banyak waktu membuat mereka masih sering berjumpa dan berkomunikasi secara langsung. Masyarakat desa Panongan juga sering mengadakan acara-acara keagamaan atau tradisi-tradisi bersama. Masyarakat Panongan rutin mengadakan pengajian di majlis-majlis ta’lim serta di rumah-rumah salah seorang warga dan biasanya dihadiri oleh banyak warga. Acara-acara seperti ini menjadi acara yang cukup difavoritkan para warga, karena acara ini menjadi salah satu ajang silaturrahim sesama warga. Setiap selesai acara pengajian, para warga yang hadir terutama kaum lelaki, banyak menghabiskan waktu untuk mengobrol bersama bahkan sampai tengah malam.
Sementara itu, kepemilikan lahan cukup tinggi. Hampir setiap kepala keluarga memiliki sejumlah lahan yang luas. Keluarga pada struktur sosial saat itu membeli tanah sebagai persiapan untuk dibagi-bagikan kepada sanak saudaranya agar ketika nanti meninggal dunia, mereka dapat mewariskan tanahnya itu untuk keluarganya. Selain karena persiapan untuk harta waris, kepemilikan lahan yang tinggi itu dikarenakan harga tanah di tahun 2000an masih cukup murah yaitu hanya sekitar Rp30.000/m2. Umyati (42) juga menuturkan mengenai kepemilikan lahan pada saat itu.

“kalo dulu mah neng yah, ini tanah yang ada disini, di belakang toko matrial ini nih, itu punya abah ibu semua, akhirnya pas udah meninggal dibagi-bagi ke anaknya, tapi sekarang  udah dijual-jualin. Dulu mah gampang  punya tanah, ibaratnya mah yah, sekali ngangon aja udah kebeli tanah semeter”.  (wawancara pada 15 April 2012)

Menginjak tahun 2003, saat kawasan Citra Raya mulai membangun perumahan-perumahan dengan lebih banyak variasi lagi, para pendatang pun mulai berdatangan ke desa Panongan. Orang-orang dari luar daerah tangerang bahkan di luar Pulau Jawa, mereka berdatangan ke Desa Panongan untuk turut mengadu nasib. Berbagai masyarakat dengan latar belakang suku, agama, dan lainnya berdatangan dan meramaikan desa Panongan. Migrasi yang dilakukan penduduk luar Desa Panongan sangat mempengaruhi komposisi penduduk desa Panongan itu sendiri dari berbagai aspek. Seperti dari segi agama,  bila awal tahun 2000 mayoritas penduduk adalah agama Islam dan Budha (Konghucu), di tahun-tahun 2005 mulai ada masyarakat dengan agama Kristen bahkan Hindu. Dari segi suku dominan, awal tahun 2000 mayoritasnya masih masyarakat “asli” Panongan bersuku sunda, kini porsi orang “asli” Panongan setara dengan jumlah penduduk pendatang dari berbagai suku terutama Jawa dan Batak.
Desa Panongan pun mengalami kelonjakan penduduk secara drastis. Bahkan, berdasarkan jumlah penduduk per kecamatan di Kabupaten Tangerang, Kecamatan Panongan mengalami peningkatan jumlah penduduk yang sangat signifikan. Dari data peningkatan jumlah penduduk per kecamatan itu dapat ditarik kesimpulan bahwa desa Panongan yang merupakan bagian dari Kecamatan Panongan, juga turut mengalami peningkatan jumlah penduduk. Berikut data mengenai jumah penduduk Desa Panongan dan Kecamatan Panongan.

Tabel 1: Perbandingan Jumlah Penduduk Desa Panongan
TAHUN
LAKI-LAKI
PEREMPUAN
JUMLAH
2005
1.991
1731
3.722
2012
7.965
6.925
14.890
Sumber: Laporan Bulan Umum Desa Panongan


Tabel 2: Perbandingan Jumlah Penduduk Kecamatan Panongan
TAHUN
LAKI-LAKI
PEREMPUAN
JUMLAH
2001
25.666
26.995
52.661
2005
27.807
29.228
57.034
2009
36.212
34.998
71.210
Sumber: BPS Kabupaten Tangerang

Berdasarkan tabel tersebut, peningkatan jumlah penduduk paling drastis yaitu pada rentang tahun 2005 sampai tahun 2012. Pada awal tahun 2005 itulah pengkotaan Citra Raya mulai dilakukan. Ini mengindikasikan bahwa Citra Raya memang menjadi daya tarik utama para migran di sekitar Panongan. Banyaknya masyarakat yang berminat mendatangi Citra Raya, semakin menambah jumlah penduduk yang akhirnya memutuskan untuk tinggal di Desa Panongan. Karena bagi masyarakat pendatang yang tidak mampu menjangkau perumahan di kawasan Citra Raya sebagai tempat tinggalnya, mereka biasanya beralih dengan membeli tanah atau mengontrak di daerah Panongan yang notabene letaknya berdekatan dengan Citra Raya.
Oleh karena itu, maka di Panongan pun kepemilikan lahan berubah dan mengalami alih fungsi. Lahan-lahan di desa Panongan yang awalnya adalah milik penduduk yang dijadikan sebagai tempat pemukiman, area persawahan serta tanah untuk diwariskan, kini justru banyak dibeli oleh berbagai pihak industri dan juga pengembang yang tak lain adalah Citra Raya. Bahkan kini, di desa Panongan sudah ada sebuah perumahan yaitu Green Panongan Residence, yang sebagian telah dihuni oleh beberapa pendatang dan sebagian lagi masih dalam tahap pembangunan oleh pihak Citra Raya. Karena dalam hal ini, pihak Citra Raya yang melihat bahwa telah terjadi peningkatan jumlah penduduk di Desa Panongan secara besar-besaran, menjadikan fenomena tersebut sebagai peluang yang harus dipergunakan sebaik-baiknya demi melebarkan sayap Citra Raya itu sendiri. Maka dari itu, Green Panongan Residence pun hadir sebagai tindakan konkret Citra Raya dalam pengembangan lahan mereka.


Diagram 1: Perbandingan Kepemilikan Lahan Masyarakat Panongan










Sumber: pengolahan penulis dari hasil wawancara dengan Staff Desa, H. Didi (29) pada 15 April 2012

Oleh karena desa Panongan merupakan daerah yang sangat dekat dengan Citra Raya, dalam perluasan kawasannya, citra raya pun banyak membeli tanah para penduduk desa Panongan. Harga tanah bahkan sudah meningkat drastis kini menjadi Rp400.000-Rp600.000/m2. Dengan harga tinggi yang ditawarkan Citra Raya dan pertimbangan bahwa lahan sawah mereka merupakan sawah tadah hujan, dimana mereka baru akan menanam padi bila musim penghujan tiba maka mereka lebih memilih untuk menjual tanah tersebut. Sementara itu, pendatang yang kebanyakan memilih bekerja di kawasan Citra Raya atupun menjadi karyawan di pabrik-pabrik daerah sekitar Panongan turut mempengaruhi warga “asli” Panongan untuk beralih profesi. Banyak dari mereka yang akhirnya meninggalkan lahan pertanian dan peternakan untuk bekerja di pabrik atau sebagai buruh di kawasan Citra Raya. Karena mereka beranggapan bahwa bekerja di pabrik atau pekerjaan di tempat lainnya merupakan pekerjaan yang lebih baik dan lebih menguntungkan ketimbang bekerja di sektor pertanian atau peternakan. Salah seorang petani paruh baya bernama Inah (56) juga menuturkan hal serupa.

”kalo dulu mah neng, ga ditawarin aja banyak yang mau ngangon[4] apa nyawah gitu, sekarang mah ditawarin geh pada ga mau..” (wawancara pada 15 April 2012)


Gambar 2: Green Panongan Residence, perumahan baru di Desa Panongan
Description: Description: G:\100KM002\PICT0005.JPG











Description: Description: G:\100KM002\PICT0006.JPG











Sumber: Koleksi Pribadi


Keadaan desa Panongan saat ini juga mengalami perubahan dari segi interaksi sesama warganya. Karena para warganya sudah tidak banyak lagi yang bekerja di bidang pertanian, kaum perempuan pun sudah banyak yang mulai bekerja di luar rumah, maka kini sesama tetangga pun sudah jarang berkomunikasi, bahkan tidak jarang karena saking terlalu sibuknya, sampai-sampai mereka tidak sempat bertemu dengan tetangganya seharian penuh. Mereka berangkat kerja ketika hari masih gelap, dan kembali setelah hari pun menjadi gelap. Acara-acara keagamaan seperti pengajian rutin di majlis ta’lim pun kini hampir punah atau tradisi lain pun jarang diiukti lagi secara bersama. Karena faktor kesibukan, pengajian atau acara-acara lainnya saat ini paling hanya dihadiri oleh beberapa orang warga yang mayoritas telah berusia lanjut yang memang pekerjaannya masih sebagai petani atau peternak. Sedangkan yang lainnya tidak menghadiri acara tersebut lantaran karena masih bekerja ataupun sudah lelah setelah seharian bekerja. Selain itu, para lelaki yang biasanya mengobrol smpai larut malam, kini pulang lebih awal karena aktivitas mengaji dan mengobrol dianggapnya sudah tidak “seru” lagi. Berkurangnya intensitas interaksi diantara mereka juga terlebih karena  tetangga yang bila dahulu masih merupakan saudara, kini kebanyakan tidak memiliki hubungan persaudaraan sebab  saat ini mayoritas merupakan kaum pendatang.
Karena dasar hubungan antar warga hanya sebatas hubungan ketetanggaan bukan persaudaraan, maka tingkat individualis pada warga pun kian meningkat. Mereka jarang terlibat dalam obrolan yang lama dan intensif. Kini, mereka hanya berinteraksi ketika bertemu di jalan, biasanya saat berangkat atau pulang kerja saja, itu pun hanya sekedar saling sapa. Kesibukan yang dijalani telah merenggangkan komunikasi diantara masyarakat komunitas Panongan.
Untuk mempermudah dalam memahami mengenai perubahan yang terjadi diantara dua struktur sosial tersebut, berikut disajikan tabel pembandingnya:

Tabel 3: Elemen Pergerakan Struktur Sosial Komunitas Desa Panongan
INDIKATOR
STRUKTUR SOSIAL LAMA
STRUKTUR SOSIAL BARU
Dasar hubungan antar warga
Hubungan saudara dan ketetenggaan
Hubungan ketetanggaan
Interaksi sosial
Intensif
Kurang intens
Keadaan pekerjaan
Bertani dan berternak
Beragam
Keadaan agama
Islam dan konghucu
Beragam
Keadaan pemukiman
Sangat berjauhan
Berdekatan
Komposisi suku
Didominasi suku sunda
Beragam
Kepemilikan lahan
Didominasi milik penduduk
Didominasi banyak pihak
Fungsi lahan
Pemukiman dan pertanian
Pemukiman, pertanian, industri dan pihak pengembang
Akses jalan
Sulit
Mudah
Sumber: hasil ringkasan penulis


Citra Raya Sebagai Motor Driving force Perubahan Sosial Masyarakat Panongan
Citra Raya merupakan sebuah bagian kawasan yang dikembangkan oleh Developer swasta ternama dari PT. Ciputra Development Tbk. Awalnya, sebagian area Citra Raya masuk kedalam wilayah administratif Kecamatan Panongan, sementara itu sebagian lagi merupakan wilayah Kecamatan Cikupa. Citra Raya hanya membangun beberapa kavling perumahan-perumahan dan ruko-ruko di awal tahun 2000an. Citra raya sebagai public sphere (ruang-ruang terbuka) digunakan oleh masyarakat Panongan dan daerah sekitarnya untuk menghabiskan waktu bersama keluarga di akhir pekan. Namun saat ini, Citra Raya gencar melakukan suburbanisasi[5] sehingga Citra Raya saat ini sudah seperti sebuah kota di tengah desa. Citra Raya berubah menjadi kota kecil dengan segala fasilitas yang memadai. Segala jenis perumahan dari yang elit sampai yang sederhana tersedia disana. Ruko-ruko semakin banyak, sejumlah pusat kuliner, wahana air, wahana olah raga, pusat-pusat perbelanjaan dan fasilitas lainnya turut melengkapi Citra Raya sebagai miniatur kota.
Pengkotaan Citra Raya ini kian memicu pertumbuhan desa-desa sekitarnya terutama Panongan. Kelengkapan Citra Raya turut mengundang masyarakat luar daerah berbondong-bondong mendatangi Panongan. Bagi para pendatang yang tidak mampu menjangkau perumahan di Citra Raya, Panongan pun dipilih sebagai tempat tinggal mereka lantaran harga yang lebih murah. Lagipula, Panongan merupakan tempat yang cukup strategis karena berada dekat dengan Citra Raya yang merupakan central point Panongan.

Description: G:\citra\images.jpg


Description: G:\citra\mexUjjFEYKA.jpeg

Gambar 2: Kawasan Citra Raya Ciputra
Sumber: www.google.com

Melihat peluang dari banyaknya pendatang, Suburbanisasi pun semakin pesat dilakukan. Citra Raya melebarkan sayapnya dengan membangun kawasan Citra Raya menjadi sebuah kawasan modern layaknya kawasan di kota-kota besar. Perubahan di Citra Raya turut berimplikasi kepada hal-hal lainnya. Semakin banyaknnya pendatang dan semakin meningkatnya antusiasme masyarakat terhadap Citra Raya, kebutuhan akses jalan sebagai sarana mobilitas bagi penduduk pun meningkat. Perbaikan akses jalan pun kian gencar dilakukan,  baik oleh pihak Citra Raya maupun inisiatif dari warga Panongan itu sendiri. Akses jalan Panongan ditingkatkan guna mempermudah aktivitas warganya, terutama jalur menuju Citra Raya. Kemajuan dipertambah dengan pembangunan-pembangunan pabrik dan perusahaan-perusahaan barang ternama yang semakin banyak pula. Hal itu karena mengingat bahwa daerah Cikupa merupakan jantung industri Kabupaten Tangerang.
Banyaknya pendatang yang mengadu nasib di wilayah Panongan dan sekitarnya membuat perubahan di Panongan semakin lama semakin berkembang. Akses jalan yang meningkat telah membuat lahan-lahan strategis berubah kepemilikan dan fungsi. Tanah-tanah persawahan banyak berubah menjadi perumahan dan pertokoan. Masyarakat Panongan yang memiliki lahan terutama di lokasi-lokasi strategis dan yang dekat dengan kawasan Citra Raya, memilih untuk menjual tanah mereka dengan harga tinggi ke pihak Citra Raya untuk dikembangkan. Faktor ekonomis jelas menjadi pertimbangan utama mereka.  Berkurangnya lahan pertanian, membuat para petani dan peternak kian berkurang jumlahnya. Mereka sekarang lebih memilih menjadi karyawan atau buruh industri yang lebih menjanjikan dibandingkan dengan menjadi petani sawah tadah hujan atau peternak, terlebih cuaca saat ini semakin tidak menentu.
Pola hidup masyarakat pun pada akhirnya  jelas mengalami perubahan. Banyaknya toko-toko yang menjual kebutuhan sehari-hari misalnya kebutuhan pangan, telah membuat masyarakat menjadi konsumtif. Selain karena banyaknya penjual makanan, kesibukan mereka yang kurang memungkinkan mereka untuk menyiapkan sendiri membuat tingkat konsumsi makanan di luar pun meningkat. Selain itu, Citra raya yang memiliki sejumlah pusat perbelanjaan telah menjadikan masyarakat Panongan sebagai para pemburu mode. Pusat-pusat perbelanjaan ini ramai dikunjungi masyarakat Panongan setiap harinya terlebih di akhir pekan. Masyarakat Panongan aktif mengikuti perkembangan trend fashion dan gadget yang ditawarkan di sejumlah pertokoan Citra Raya.

Diagram 2: Skema Proses Perubahan Sosial



Sumber: hasil pengolahan penulis


Penutup
            Fenomena yang terjadi pada komunitas Desa Panongan merupakan realita dari sebuah perubahan sosial. Diskusi diatas memperlihatkan kepada kita bahwa Desa Panongan yang dulunya jauh dari keramaian dan kepadatan kini telah menjelma menjadi sebuah desa yang ramai dan memiliki banyak penduduk. Perubahan sosial yang terjadi pada komunitas Panongan ini sendiri merupakan hasil dari transformasi Kawasan Citra Raya yang berada di daerah Panongan menjadi sebuah “kota kecil” di tengah sederhananya struktur sosial di komunitas Panongan.
            Suburbanisasi kawasan Citra Raya di tangan developer swasta ini telah menarik minat penduduk luar daerah Panongan untuk bermigrasi ke Desa Panongan dan menyebabkan kompleksitas pada komunitas Desa Panongan. Banyakanya pendatang yang ingin menetap di daerah sekitar Citra Raya, membuat permintaan pemukiman meningkat. Namun bagi masyarakat kelas menengah dan bawah yang tidak mampu mengakses perumahan di kawasan Citra Raya, mereka akan beralih ke Desa Panongan dan mengontrak atau membeli tanah di Desa Panongan lantaran harga yang lebih terjangkau.
            Peningkatan jumlah penduduk akibat pengembangan oleh developer swasta ini mengakibatkan kebutuhan terhadap akses jalan meningkat. Kemajuan kawasan Citra Raya juga telah memicu pertumbuhan pabrik dan industri lainnya. Akses mobilitas pun menjadi lebih mudah. Akses jalan yang memadai membuat lahan-lahan strategis di Desa Panongan mengalami perubahan kepemilikan lahan dan alih fungsi terhadapnya. Lahan-lahan di Desa Panongan yang awalnya meruapakan areal pertanian dan peternakan dan kini menjadi pemukiman atau menjadi milik Citra Raya telah membuat spesialisasi pekerjaan kian meningkat. Masyarakat desa Panongan yang awalnya mayoritas  merupakan petani dan peternak kini telah beralih profesi menjadi buruh Citra ataupun karyawan swasta di pabrik-pabrik.
            Spesialisasi pekerjaan yang lebih kompleks membuat masyarakat Panongan menjadi semakin sibuk. Hal ini berimbas pada pola hidup dan pola hubungan pada masyarakat tersebut. Kesibukan masyarakatnya membuat mereka menjadi lebih konsumtif. Interaksi dan komunikasi yang pada awalnya sangat intensif kini kian merenggang. Namun itu lah perubahan sosial, selalu menimbulkan konsekuensi di dalamnya. Begitu pula dengan perubahan sosial pada komunitas Desa Panongan.



[1] Tulisan ini diajukan sebagai tugas Ujian Tengah Semester dan sebagai rancangan untuk tugas Ujian Akhir Semester dalam mata kuliah Teori Perubahan Sosial. Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala kenikmatan dan keberkahan yang luar biasa. Terimakasih penulis ucapkan kepada Bapak Asep Suryana, M.Si selaku dosen Teori Perubahan Sosial atas bimbingan dan arahannya. Serta kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam penyusunan tulisan ini.
[2] Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Non-reguler, jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta angkatan 2010.
[3] Kekuatan penggerak utama
[4] Kata dalam Bahasa Sunda yang artinya menggembala
[5] Proses pengkotaan di luar wilayah resmi kota, namun masih menginduk pada kota utamanya itu (Logan, 1992) yang penulis baca dalam “ Terbentuknya Fasilitas Publik: Pasar Kaget di Suburban Cibinong” oleh Diah Widiastuti.

15 komentar:

  1. Trims Info nya... Saya Orang Asli Panongan, dari Ranca Iyuh...

    BalasHapus
  2. Penjelasan tentang panongan cukup menarik. Just Info : Panongan, Ranca Kelapa dan Sekitarnya akan berkembang pesat dalam 5-10 thn kedepan. Kebetulan saya pendatang dari bekasi yang punya sedikit lahan di panongan. Alhamdulillah KTP saya dan istri sdh KTP Panongan,.. Salam kenal untuk temans semua.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin semoga perkembangannya bisa memberi dampak positif. Salam kenal juga.

      Hapus
  3. ada info rumah over kredit di green panongan residen tidak?

    BalasHapus
  4. nyangkut di sini...sebuah tulisan yang baik...salam kenal dari warga pendatang di citra raya.

    BalasHapus
  5. Salam kenal semua. Kebetulan suami baru menjabat sebagai Komandan Rayon Militer di wilayah Panongan. Sebagai istri saya wajib mendukung tugas suami, bersama dengan istri pejabat Muspika lain kami harus ikut berperan serta membantu memajukan kehidupan masyarakat setempat dalam bidang ekososbud melalui organisasi wanita kami masing2. Oleh sebab dari itu dan mengingat saya pendatang baru, sangat penting bagi saya mengenal Panongan lebih dekat. Iseng saya mencari informasi di google dan sampailah saya di blog ini. Terimakasih, tulisan adik sangat membantu saya memperoleh informasi tentang wilayah Panongan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Ibu Novi. Semoga kedatangan Bapak dan Ibu sbg Koramil Panongan dapat memberi dampak baik bagi masyarakat.

      Hapus
  6. Buat warga panongan ingat lh kita ini bagian dari darah ungu.jadi selayak nya kita ini adalah pendukung PERSITA TANGERANG
    PERSITA HARGA MATI

    BalasHapus
  7. Keren wi... dewi pasien sy dr kecil hehe. Sy tinggal d paningan sejak 2002. Sekalian promosi😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih dok, hehe iya nanti aku promosiin dokter termanjur se-panongan raya :D

      Hapus